Aku tetap saja begini, meratapi rindu di sudut kamar yang sunyi. Betapa rindu itu memang cukup kurangajar bertamu ke hatiku lalu ia tak ingin pergi sedari pagi. Tangis kecil tentang rindu tetap memburu, membadai hingga langitpun ikut menikmati sakitnya rindu. Andai saja aku boleh meminta, aku tak ingin merindukan orang yang sama, yang pergi tanpa ingin kembali. Rindu itu menyebalkan, sama menyebalkannya dengan dirimu. Satu pesan singkat melayang ke smart phonemu, tapi hingga 30 menit berlalu tak ada balasan darimu. Mungkin kau sengaja, membiarkan rinduku melilit di sini. Kau menyebalkan! rinduku tak sedikitpun berkurang sejak kepergianmu beberapa bulan yang lalu, masih sama seperti pertama kali aku merindukanmu. Tulisan ini begitu cengeng, tapi apa peduliku? ketika rindu memang selalu datang tanpa bilang-bilang, ingin rasanya aku menamparmu sekali saja..... Kau cukup tahu betapa kesalnya aku menahan rindu sendirian, rindu yang tak kan terbalas sampai kapanpun, mungkin hanya Tuhan yang terlalu tahu dalamnya sakit yang kuderita. Kau boleh membenciku, sebagai balasan dari sikap kasarku. Tapi satu hal, tentang keadaan yang seringkali bertolak belakang dengan keinginan kita selalu terjadi begitu saja. Itu yang namanya takdir. Bahkan takdir tak mau tahu bagaimana perasaan kita, ia tak mau tahu apakah kita menerimanya atau tidak. Seperti halnya kamu yang tak mau terima sebuah kenyataan pahit yang Dia berikan. Kau lupa diri, lupa dengan segala janjimu, hingga membuatku menarik satu kesimpulan "jangan mudah percaya pada orang yang memberimu janji" meski gtak semua orang mengingkari janjinya. Kamu, seseorang yang kupercaya tak kan ingkar, telah benar-benar ingkar pada janjimu sendiri untuk tidak pergi dan tetap bertahan melawan setiap kemungkinan. selamat malam untukmu........
        Liburan hari ketiga setelah sekian lama dunia akademis mampu memadatkan jadwal harianku. saat senja seperti sekarang ini sebenarnya aku sedang dalam perampungan tugas akhir, tapi lagi-lagi ada banyak hal yang ingin kutumpahkan di sini. biarkan dulu sejenak, tangan ini menari di rumah sarang laba-laba. sempat aku berpikir kenapa tidak sesekali Boy Candra mnuliskan buku tentang seorang teman bukan hanya berbicara sakit hatinya terhadap mantan apalagi gebetan?? ini pertanyaan krusial dalam hidupku, sebab penulis favorit yang satu ini hanya menulis perkara cinta antar dua manusia. baiklah, mungkin mulai hari ini akan kucicil sedikit demi sedikit persoalan tentang teman. berdasarkan sebuah quote yang pernah aku baca, jika kita ingin sesuatu tapi kita tidak menemukannya di tulisan orang lain, mungkin kitalah yang bisa menuliskannya sendiri. Liburan yang cukup panjang ini tidak kuinginkan, alasannya adalah aku sedang tidak betah di sudut kamar ini. 
        saat aku menuliskan tulisan ini, sebenarnya aku sedang berada di salah satu kamar rusunawa, ada 2 orang disini namun aku menganggapnya tidak ada. tidak usah kau pertayaakan kenapa?? sebab itu privasi yang tak pantas aku ceritakan di sini. baiklah, langsung saja ke paragraf berikutnya....
        Pernahkah kamu merasa ingin sendiri? pernahkah kamu merasa sepi di tengah keramaian? aku pernah, sering malahan. aku di sini tak pernah benar-benar memiliki teman, yah entahlah aku tak menemukan kecocokan diantara kami. jika kau melihatku akrab dengan beberapa teman di sini mungkin itu hanya sekedar formalitas saja agar tak terlihat seperti bermusuhan. sebenarnya tidak bermusuhan sih, cuma tidak akrab saja. aku tak pernah merasa cocok dengan mereka. mungkin aku yang terlalu kudet dengan isu-isu terbaru tentang apapun makanya aku gak pernah nyambung kalau duduk bareng bersama mereka. kau tahu? bersikap pura-pura paham, pura-pura ikut tertawa itu sangat tidak mengenakkan kawan. Aku memilih sendiri saja di sini ditemani berbagai tumpukan buku yang berkali-kali kubaca untuk melawan kebosanan, sesekali ada lagu-lagu jadul yang kuputar hingga tertidur lelap dan lupa bahwa aku tidak betah berada di sini.