Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Seseorang pernah bertanya, kenapa aku masih aktif nulis di blog pribadi? Bukankah itu membosankan, katanya.. Lalu kujawab dengan satu senyuman termanis yang pernah kupunya.
Kenapa aku menulis, karena di sinilah aku menemukan diriku. Ketika banyak sekali yang terpendam dalam pikiran tapi aku tak mampu mengatakannya, setidaknya aku masih bisa jujur ketika menulis. Lalu, apakah semua yang kau tulis itu adalah semua yang kamu alami? tanyanya lagi yang terkesan ingin tahu. Masih kuberikan senyumku di hadapanmu. Tidak, tidak semua yang aku tulis adalah sesuatu yang kualami. Kau tahu, tidak semenyek itu hidupku La.... Aku suka mengkhayalkan sesuatu dan kutulis di sini. Aku juga sering menjadi pendengar dari kawanku yang mengalami patah hati, lalu entah bagaimana hatinya tergerak menangis di pundakku.. Aku pikir diriku punya daya tarik yang luar biasa melalui pundak yang sudah keberapa kalinya selalu ada orang yang bersandar di sana dengan sesenggukan dan menceritakan kesedihannya. Aku memposisikan diri mereka, dengan tanpa sadar bahkan aku merasa lebih sedih dari mereka.

Aku menulis untuk diriku sendiri. Aku menulis untuk mentransfer sebagian depresi yang menghuni dalam kepalaku menjadi sebuah tulisan yang bisa kubaca ulang 30 tahun mendatang. Aku ingin menuliskan semua perasaanku di sini, tapi ternyata tetap saja tidak bisa. Meskipun tadi kukatakan bahwa aku bisa jujur ketika menulis, ternyata tak semudah itu.. Pasti ada sedikit perasaan was was dalam hati takut ada seseorang yang segitu keponya denganku sampai bongkar-bongkar alamat blogku ini hahahaha. Kau tahu, setiap kali aku ngepost tulisan yang berbau hal menyedihkan sering ada pesan masuk di hp menanyakan kabarku dan parahnya ada yang langsung ngejudge aku segalau itu....

Aku memang mengurangi keaktifan di media sosial, tapi aku tetap akan menulis selama aku punya waktu di sisa-sisa hidupku. Aku akan menulis sampai usiaku renta dan sudah tidak mampu lagi menulis.. Kamu tahu kenapa? Bagiku menulis itu semacam terapi diri bagaimana mengelola emosi yang selama ini aku pertahankan tetap stabil apa pun yang terjadi.

Aku juga tidak pernah menyangka, blog yang isinya begini riweuh pernah membuatku diterima di beberapa lembaga yang bergerak di bidang copy writing. Aku juga tidak tahu apa yang bikin HRD tertarik dengan port folio yang kubuat. Sayangnya takdir berkata lain sampai akhirnya aku gagal masuk di antara beberapa lembaga tersebut. Awalnya, cukup bikin aku patah hati dan mogok menulis. Tapi dasar kenyataannya aku ini memang harus menulis, karena kalau tidak, bisa membahayakan kestabilan emosiku sendiri hahahha alay... yeah, aku sempat mogok berbulan-bulan tidak lagi menulis di blog ini sebagai wujud marah sekaligus frustasi.. Alhamdulillah, waktu mengajariku banyak hal tentang bagaimana caranya ikhlas dengan apa yang Tuhan skenariokan. Aku balik lagi menulis hal tak penting di sini..semoga orang yang sempat kepo dengan blogku ini tidak mendadak pingsan baca tulisan receh beginian 

Eva Edelweis, Yogyakarta 27 April 2018
   Ramadhan akan datang sebentar lagi, tapi pikiran masih sama kacaunya. Aku menghilang dari media sosial untuk waktu yang cukup lama. Aku juga bukan orang yang terlalu peduli soal status seseorang yang sering booming di media sosial. Pencitraan, membuatku muak terlalu sering melihat dan membaca kepalsuan dibalik status facebook, caption instagram yang kadang kali ga nyambung sama fotonya. Aku muak dengan semua kepalsuan itu..... Lalu aku ingin curhat di sini, yah karena orang-orang kalau mau kepo jarang yang sampe buka alamat blog pribadinya. 

   Aku mulai mengenali diriku sendiri yang ternyata kesepian, sangat parah. Aku tidak punya teman bicara yang asyik buat kucurhati, aku terlanjur menutup diri dari orang lain supaya mereka tidak tahu tentang aku yang mereka kenal cerewet, periang, energik, dan kadang menyebalkan ini ternyata tidak lebih dari seorang perempuan yang rapuh, introvert dan sangat menyedihkan. 

   Nyaris 6 tahun aku hidup jauh dari keluarga. Bahkan, aku tak hanya jauh secara fisik saja tapi juga soal perasaan. Yah, aku jauh dari keluargaku. Aku sebenarnya tidak tahu apakah ada yang peduli denganku? Hahahaha mustahil. Tidak ada yang pernah bertanya "Va, apakah kamu baik-baik saja?" yah sekedar pertanyaan semacam itu tak pernah ada dalam hidupku. Aku sering menghabiskan waktu dengan diriku sendiri, berbicara dengan diriku sendiri di sepanjang jalan. Jangan heran kalau kamu sering melihatku berjalan di trotoar sendirian macam anak hilang. Aku menolak untuk diantar pulang, aku menolak tawaran teman yang tidak sengaja lewat dan ia berbaik hati ingin memboncengku misal... yah betul sekali, aku senang berbicara dengan diriku sendiri, mencoba self talk saat pikiranku macam orang yang sekarat dalam hidup tapi tidak pernah ada yang tahu soal itu. 

   Aku menikmati banyak hal satu tahun terakhir di tempat kerjaku. Aku berteman dengan mereka cukup baik, bahkan kadang aku geli sendiri saat aku jatuh sakit dan ijin tidak masuk lab, seringkali ada pesan masuk "Jangan lama-lama sakitnya, aku rindu". Hahahahahha aku geli, kenapa ada orang yang rindu denganku? tidak jarang aku nangis baca pesan singkat yang sejenis berasal dari teman kampus atau rekan kerja. Itu artinya, mereka menganggapku ada padahal selama ini aku merasa kosong, aku merasa bukan pribadi yang menarik, dan keberadaanku tidak terlalu menguntungkan bagi orang lain. 

   Satu kenyataan pahit memang jika kamu punya keluarga, teman, kekasih tapi dirimu sendiri merasa tak ada yang peduli. Lalu apa yang membuat seseorang macam aku kuat tahan dalam keadaan macam itu? aku, kamu, kalian semua punya Tuhan. Ya, satu-satunya yang membuatku tetap memiliki harapan hidup yang lebih baik meskji aku kehilangan diriku sendiri, kehilangan mimpi, kehilangan banyak hal yang membuatku serasa jatuh tertimpa tangga pula, itu hanya Tuhan. Aku merasa cukup dan lebih tenteram karena aku masih punya sisa keyakinan tentang Tuhan. Percayalah, ini bukan hanya soal retorika khayalan atau ceramah yang membosankan hanya saja aku benar-benar merasakan bagaimana Tuhan memelukku yang kesepian. 

   Aku pikir aku sakit, yah sakit cukup lama dan aku tidak sedang butuh siapa-siapa untuk menyembuhkan sakitku kecuali sebuah harapan kecil yang masih tumbuh dalam hati tentang Tuhan yang masih baik hati dengan makhluk nakal macam aku. Haaaaaah bahkan ketika aku ingin nulis ini saja perlu mikir ribuan kali, apakah dengan menulis begini sedikit perasaanku tak sebeku kemarin? 
Well, aku cukupkan saja tulisan yang tak penting ini. 

Tertulis di Laboratorium Fisika Dasar UII Yogyakarta

Eva Edelweis, Yogyakarta 24 April 2018

    Manusia robot aku analogikan orang yang hidupnya diatur orang lain. Kau percaya nggak, hari gini ada manusia macam itu? Aku sih percaya. Soal kamu ga percaya, aku ga peduli. Dia si manusia robot, hidup seperti manusia biasanya. Makan dan minum, tidur dan terbangun, belajar dan bekerja, dan masih banyak hal serupa jenis manusia biasa yang ia kerjakan. Termasuk mencintai orang lain misal.....

Gambar terkait
                                           Sumber: wordsonimages.com

    Kau tahu apa bedanya manusia biasa dengan manusia robot? yah, kemerdekaannya. Indonesia telah merdeka sejak 73 tahun yang lalu. Tapi manusia robot belum merasakan merdeka dengan hidupnya. Ketika seseorang merasa apa pun yang dia lakukan dikendalikan oleh manusia lain, maka di situlah ia berstatus sebagai manusia robot. Walau pun ada pernyataan bahwa perasaan, jiwa, hati seseorang tidak bisa dikendalikan oleh orang lain hanya diri kita sendiri yang mampu mengendalikannya sebenarnya tidak berlaku untuk manusia robot. Sederhananya begini, seperti cerita cinderella yang jatuh hati dengan anak raja. Mustahil bagi keduanya di alam nyata. Setidaknya, versi kehidupan manusia  robot. Anak raja harus menikah dengan anak raja. Begitu pun seorang putri cantik tidak boleh jatuh cinta pada pelayan rumahnya. Apakah kau mengerti yang aku maksud? ah aku sulit menggambarkannya. Semoga kamu paham yang aku maksud. 

    Ada banyak alasan, kenapa hidupnya seperti itu, semacam ada belenggu yang tidak bisa ia patahkan kecuali ada seseorang yang dengan sepenuh hati membawanya pergi agar belenggu itu hilang dengan sendirinya. Sebab, itu takdir dia sejak lahir. Bahkan ketika tadi aku mempersoalkan urusan perasaan, jatuh cinta itu kan soal hati. Kita tidak bisa memilih akan jatuh cinta pada siapa. Pada kondisi tertentu, belenggu itu semacam pengendali hidup agar tetap berada di jalan yang seharusnya, tapi urusan perasaan tidak bisa dipaksakan. Belenggu yang sebenarnya hanya ada dalam perasaan si manusia robot tapi orang lain tetap melihatnya seperti manusia biasa yang biasanya menyenangkan. 

    Kamu ingat dongeng Rapunzel yang disihir ibunya yang jahat dan membuatnya tertidur cukup lama? Dia hanya akan terbangun ketika ada seorang pangeran yang mencintainya dan menciumnya. Aku percaya dengan dongeng itu. Sebagaimana manusia robot, yang hanya akan menjadi dirinya sendiri, menemukan dirinya dan belenggu hidupnya akan hancur hanya ketika ada seseorang yang mencintainya setulus hati lalu membawanya pergi jiwa raganya ke tempat lain. Seseorang yang spesial, yang Tuhan takdirkan untuknya. Tapi aku juga tidak tahu, apakah beberapa jenis manusia robot macam ini akan ditakdirkan bertemu dan hidup dengan seseorang yang spesial macam itu? Spesial karena seperti dongeng Rapunzel, pangeran yang menciumnya tidak sembarang lelaki. Ia memang diutus Tuhan untuk membangunkan Rapunzel dari tidur panjangnya dan bertugas untuk membahagiakannya. 


    Ada juga seseorang yang mungkin takdirnya tidak akan berubah, tetap jadi manusia robot sepanjang hidupnya jika ia gagal menemukan seseorang yang tadi aku sebut spesial. Tapi menurutku, entah kapan suatu hari belenggu hidupnya akan hilang tanpa disadari walau pun tidak menemukan orang yang spesial. Yah, akan hilang hanya ketika dia pasrah segenap hati tentang seluruh hidupnya pada Tuhan yang Maha segalanya. Menerima takdirnya sebagai manusia robot sepanjang hidupnya. Yakin, bahwa apa pun yang terjadi itu memang skenario terbaik dari Tuhan. Lantas ia hanya mensyukuri dan menikmati hidupnya hari demi hari dengan hati yang gembira dan lapang dada. 


*Tertulis di Laboratorium Fisika Universitas Islam Indonesia

Eva Edelweis, Yogyakarta  5 April 2018


Selamat malam para kawan blogger.... lama banget rasanya tak menengok rumah blog satu ini. Ada banyak kesedihan, kebahagiaan terlupakan sebab kesibukan. Mungkin, aku sudah menemukan cara yang tepat mengatasi sedih berlebihan dengan cara menyibukkan diri tanpa lagi menuangkannya di sini. Tapi jangan khawatir, aku menulis banyak hal di sini bukan sebab aku terlalu sedih, namun ingin jadi teman tumbuh bagi kalian yang mungkin mengalami hal serupa dengan tulisan-tulisan di sini.  Yah walau pun semua tak tersampaikan dengan sempurna, tapi aku mencoba menyentuh setiap perasaan kalian yang sedang dilanda galau dan patah hati dengan cara yang sederhana, menuliskan banyak hal tentang isi hati perempuan, dan laki-laki yang kadang tak peka dengan keadaan. Cukup sudah aku basa-basi di sini... hahahahha aku hanya ingin berbagi satu hal pada kalian, yang mungkin berada di titik terakhir masa kuliah. 


     Aku bersyukur bisa melanjutkan studi di bidang yang kuminati, meski kampusku di luar negri (Swasta, maksud guee). Tidak masalah mau kuliah di mana pun itu tak terlalu berpengaruh pada kesuksesanmu di masa depan. Hal terpenting adalah ketekunanmu untuk belajar dan tidak pantang menyerah. Kamu menjadi berbeda bukan karena kampusmu yang terkenal, tapi sebab dirimu sendiri yang menjalani proses belajar di sana. Kamu mau menjadi apa, siapa, semuanya ada dalam genggamanmu, keputusanmu memilih yang tepat. Hal terpenting lagi yang tidak boleh kau lupakan, bahwa di mana pun kamu bisa belajar, tetap haus ilmu dimana pun dan kapan pun. 

     Saat aku kuliah, aku memilih untuk fokus kuliah tidak dengan organisasi-organisasi kampus yang butuh waktu cukup ekstra. Sebab, tanpa organisasi-organisasi itu pun rasanya 24 jam itu begitu singkat, hahahahha. Hanya organisasi dan kegiatan tertentu yang aktif kuikuti, bukan karena malas sebab aku tahu diri bagaimana aku kurang bisa memanage waktu dengan baik jika aktif di semua hal. Namun, aku tetap menikmati proses belajarku tanpa harus menyesali kenapa dulu tidak jadi aktifis kampus. 

   Beranjak di tahun kedua menuju tahun ketiga, aku merasakan masa belajar yang sangat menjenuhkan, bahkan  aku meminta orang tuaku untuk pindah jurusan saja pikirku waktu itu. Bapak dengan sangat tegas mengatakan "nak, nikmatilah masa belajarmu dengan penuh kenikmatan. Masa itu tidak akan terulang lagi, kalau kamu menyerah di sini maka penyesalan yang akan kamu dapatkan di waktu yang akan datang. Bapak membayangkan berada di posisimu, namun ingatlah pada komitmen bahwa setiap pilihan yang kamu pilih semua memiliki konsekuensi, begitu pula saat kamu dulu menyatakan keinginan kuat untuk kuliah seperti yang kamu inginkan  lalu kuijinkan kamu jauh dari jangkauan bapak ibumu, tapi bapak percaya kamu pun memiliki keinginan kuat untuk mencapai impianmu dan kamu akan berkomitmen menyelesaikan apa yang sudah kau mulai nak"....  sampai di situ saja, aku menangis malu di balik telpon. Aku benar-benar menangis sebab kalah dengan diriku sendiri. Aku berada di titik terendah, banyak hal yang kualami saat itu hingga tanpa sadar aku nyaris kehilangan kendali untuk tetap stay strong, percaya bahwa Allah mempermudah jalan hidupku. 

   Berada di tahun terakhir perkuliahan, aku melirik sekelilingku. Bukan hanya melirik, bahkan menelisik jauh ke depan apa yang kemungkinan terjadi di sana. Aku melirik teman yang berhasil lulus kuliah super cepat. Aku pun melirik teman yang beberapa kali sekelas denganku namun nyatanya dia angkatan 2 tahun di atasku. Aku melirik teman yang kuliah nyambi kerja tapi dia tetap berada di kalangan mahasiswa berprestasi, aku pun melirik teman yang kerjaannya nangkring sana sini ikut arus lingkungan mainnya. Ah, di situ aku berada di posisi sebagai mahasiswa yang pura-pura tuli ketika ditanya kapan lulus? aku bahkan tetap memberikan senyumku yang memikat pada siapa pun yang seringkali merecoki moodku berkali-kali. Lalu sampailah pada pertanyaan dosen pembimbing bertanya" Eva kapan berencana lulus?" lalu kujawab "saya masih ambil mata kuliah pak beberapa SKS karena kemarin saya jaga gawang di lokasi KKN takut ada sidak dadakan saat teman yang lain KRS an dan tutup teori. Saya juga mengulang mata kuliah yang bapak ajarkan di tahun kemarin karena saya ingin menyelesaikan riset saya semester depan dengan baik" Speechless. 

    Well, aku pun lulus nyaris 4 tahun. Walau saat itu aku kecewa tidak bisa ikut wisuda periode dua bulan sebelumnya. Ada satu titik temu yang kurenungkan di saat aku menyalahkan diriku sendiri yang terlalu malas untuk cepat menyelesaikan riset tugas akhir. Aku belum lulus karena aku belum siap lulus. Keyword yang ada di kepalaku. Kenapa begitu? mari simak baik-baik kegelisahanku di sini.

    Ada beberapa orang yang mengejar waktu demi lulus cepat tanpa lagi peduli apakah dia siap lulus atau tidak? kok pertanyaannya siap atau tidak? Sebab, di sinilah aku benar-benar merasa tidak menyesal karena lulus kuliah cukup lama dari teman yang lainnya. Kejar waktu, sebenarnya apa yng dikejar? Banyak banget orang-orang yang bingung mau apa dan bagaimana setelah lulus. Bukan sembarang asal dapat pekerjaan, comot.. oh no. Ketika kita berada di posisi sebagai pekerja maka kita akan mencurahkan waktu kita untuk pekerjaan itu. Jika tidak sesuai dengan passion kita, maka yang ada hanya lelah dan rasa jenuh yang semakin membuncah hari demi hari tanpa henti. Tapi jika kita beruntung berada di posisi yang tepat dari pekerjaan kita, maka pekerjaan pun akan menjadi hal yang menyenangkan. Di situlah kita harus benar-benar pandai memilih dengan tepat akan kau habiskan untuk pekerjaan macam apa waktu yang Tuhan berikan itu? 

     Ada juga yang lulus kuliah dengan cepat tapi tidak siap lulus, maka apa yang akan terjadi? Bingung. Sebab dari awal hanya mengejar waktu, tidak menikmati setiap proses belajar yang kita lakukan. Tapi aku juga tidak setuju dengan orang-orang yang memprioritaskan kuliah untuk kerja. Karena banyak kok titel sarjana pendidikan menjadi pebisnis, sarjana sastra tidak lantas jadi penyair. Lalu mereka menemukan suatu pekerjaan yang sesuai dengan passion mereka, dan menurutku itu jauh lebih menguntungkan dan luar biasa daripada seorang sarjana hukum lantas dipaksa oleh keadaan untuk menjadi seorang hakim padahal dalam jiwanya tumbuh sebagai seorang pujangga. Hahahahha hidup itu selucu ini yah, kawan..... maka nikmatilah setiap prosesnya. Wahai kamu adek-adek mahasiswa tahun terakhir, belajarlah dengan nikmat, dan nikmati setiap prosesnya. Tidak perlu lirik sana sini, sebab ketika kamu telah keluar dari dunia kampus dan kamu tidak siap menghadapi dunia berikutnya, maka kamu hanya akan menyesal karena kamu tidak mempersiapkan diri dengan matang sedangkan kamu sudah tidak bisa lagi kembali ke masa yang lalu.  Semoga kita sama-sama menemukan "hidup" yang lebih bermakna dari sekadar ingin mengejar hal-hal yang fana. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 2 Rajab 1439 H.






    Assalamualaikum...... Bertemu lagi denganku eva edelweis, gadis madura berhidung minimalis. Kali ini aku ingin share sedikit cerita tentang santri. Why about santri? karena aku seorang santri, dan kamu tidak usah protes. hahaha -_- 

    Sekitar dua tahun yang lalu, tahun 2015 pemerintah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional dalam rangka sebagai peringatan histori tentang peran santri yang luar biasa dalam menjaga keutuhan NKRI. Sementara aku, merayakan hari santri dengan cara menerbitkan sebuah tulisan sederhana ini di blog pribadi. 

    Terhitung 8 tahun sudah aku berstatus sebagai santri. Satu windu itu tidak cukup buat seseorang mengais ilmu di pesantren, karena apa? bahkan hingga hari ini pun aku menyesal kenapa tidak sejak balita saja aku dijebloskan ke pesantren. Loh kok bahasanya dijebloskan sih? Iya, karena pertama kali aku nyantri, aku terpaksa mondok karena keinginan orang tua. Aku benar-benar tidak betah tinggal di pesantren. Sejak hari pertama diserahkan ke pak kyai, orang tuaku tidak menjengukku atau sekadar menelpon ke pesantren untuk menanyakan kabarku, hingga liburan pun tiba. Hiks.... menyedihkan yah :(

    Menurutku, pesantren itu semacam rumah sakit yang menyembuhkan seseorang dari sakitnya. Terserah kamu setuju atau tidak, tapi ini kan hanya soal pengalaman. Aku yang dulu benar-benar sosok aku yang individualis, yang sama sekali tidak mengerti arti empati, tidak mengerti tentang bagaimana hidup bersama dengan orang-orang yang beda kepala beda isi. Awalnya sangat menyiksa, bahkan katakanlah aku sendiri merasa terkucilkan diantara 40 orang yang menghuni kamar di tempatku berada. Yah, kamu ga usah kaget ketika tadi aku menyebutkan angka 40 orang dalam sekamar. Maklum, ini pesantren bukan rumah pribadi apalagi hotel. Tetapi ternyata aku salah sangka, bukan aku yang dikucilkan tapi aku yang mengucilkan diriku sendiri diantara banyak orang. Aku yang tidak mengerti bagaimana membawa diriku sendiri untuk bergaul, bersosialisasi dengan orang lain. Aku menikmati duniaku sendiri tanpa menoleh ke arah orang-orang di sekitarku. Aku terlalu sibuk dengan pikiran "aku ini ga bisa bareng mereka, aku ini ga tahu caranya agar aku diterima di komunitas mereka, aku ini... bla bla bla... dan banyak pikiran negatif lain yang ada di kepalaku waktu itu. Padahal permasalahannya bukan ada di mereka tapi ada dalam diriku sendiri yang enggan membuka diri untuk mencoba sharing, saling curhat misal dan apa pun yang bisa dilakukan bersama orang lain. 

    Tiga tahun berlalu dengan cepat, bahkan dalam kurun waktu yang sebentar itu aku sudah rolling kamar sebanyak 4 kali. Hahahahha .... stress sih ketika mulai bersosialisasi lagi dengan orang-orang baru. Hanya saja Tuhan selalu mengirimiku orang-orang baik hati yang mau paham dengan karakterku yang seperti ini, hingga akhirnya aku bisa melewati situasi sulit semacam harus mengenali dengan baik orang-orang baru yang ada di sekitarku.  Tiga tahun yang cukup berarti buat diriku sendiri, karena di sini aku mengalami banyak hal yang membuatku hidup dan kehidupanku kebanting dengan cepat. Dibekali dengan banyak hal-hal sederhana yang akan membuatku survive hidup di mana pun bahkan dalam situasi sesulit apa pun. Hari ini, ketika aku menulis tulisan ini pun, aku sudah berubah menjadi pribadi yang berbeda. Aku sudah tidak canggung lagi menyapa dan berkenalan dengan orang-orang baru, aku sudah tidak gelisah lagi jika bersosialisasi dengan orang lain, dan aku pun sudah nyaman menjadi diriku yang hari ini, sangat berbeda dengan beberapa tahun silam.  Ini hanya sekilas cerita tentang kehidupan sosial di pesantren, belum lagi soal keilmuan dan pengetahuan yang didapatkan di sana. Bahkan hari ini aku benar-benar menyesal kenapa waktu usiaku masih 10 tahun aku menolak dimondokkan oleh orang tuaku, kenapa tidak kuiyakan saja waktu itu? pikirku sih agar bekalku yang kusadari sedikit akan membawaku melangkah lebih jauh dari pencapaian-pencapaian hari ini. 

    Hari ini pun aku masih berstatus santri di pesantren yang lain, bedanya adalah di pesantren ini aku bertemu dengan mereka yang menurutku sudah sangat mantap keilmuannya dalam beberapa hal sejak di pesantren mereka yang sebelumnya. Di situlah penyesalanku kenapa hanya sebentar saja aku "menelantarkan diri" di pesantren yang dulu. Aku bahkan merasa beruntung hidup di pesantrenku yang sekarang, karena berkat pesantren keluargaku lapang dada melepaskan anak gadisnya jauh dari jangkauannya. Apalagi waktu aku akan berangkat ke Jogja, ibuku sempat bilang mengenai berita tentang Jogja bahwa 95% mahasiswa Jogja tidak perawan. Wah, betapa mengerikannya dan aku tidak tahu persis bagaimana perasaan ibu waktu itu. Kita pasti tahu, bagaimana ketar-ketirnya hati orang tua yang memiliki anak gadis yang merantau jauh dari dirinya. Ketahuilah bahwa menjaga anak perempuan lebih sulit tanggung jawabnya daripada menjaga ratusan kilo emas aman dari penjarah. Mengingat itu semua, aku bersyukur dengan hidupku hari ini yang tanpa terasa sudah 5 tahun aku nyantri dan jauh dari orang tua. Aku benar-benar bersyukur, ayah dan ibuku masih ridla dan berdoa untuk diriku di sini karena kepasrahan hati mereka menyerahkan diri pada Tuhan dan juga pesantren yang akan menjagakanku dengan selamat dunia akhirat, in sya allah....

    Tepat hari santri satu tahun yang lalu, 22 Oktober 2016 aku menghadiahi keluarga dengan hari kelulusanku sebagai hadiah spesial untuk bapak dan ibu yang juga alumni pesantren. Entah sudah keberapa kalinya ibuk selalu menghubungiku dengan peryataan yang sangat kuhapal "Eva, aku ingin ke Jogja.. melihat keindahan budaya Jogja. Aku ingin tahu seperti apa wajah pesantrenmu yang selalu kau ceritakan saat liburan, aku juga ingin mengenal teman-temanmu Va... Kapan kau akan wisuda?" ah, kini pertanyaan itu sudah menjadi kenangan manis antara aku, keluarga, dan pesantrenku. 

    Oke, sampai di sini dulu tulisan ga jelas sore ini... Satu hal sebagai penutup, nikmatilah hidupmu kawan-kawan santri sekalian.. Eksplorasilah apa pun yang ingin kamu tahu, semuanya akan bermanfaat untuk hidupmu di masa yang akan datang dimana potensi dan sosok seorang santri lah yang akan dicari-cari masyarakat nanti. Jangan sampai ceritamu seperti aku, menyesal karena nyantri hanya sebentar.... hehehe
Terimakasih tak terhingga untuk Annuqayah dan pondok pesantren UII Yogyakarta.... 
Salam Santri 


Catatan Eva Edelweis, Yogyakarta 22 Oktober 2017  


    Selamat pagi para pembaca blog sarang laba-laba.... sudah lama rasanya kita tak berjumpa lagi di rumah ini. Nyaris dua bulan mandek tidak pernah mengunjungi blog ini. Sepagian ini aku tidak ingin menuliskan hal-hal yang terasa berat dibaca hanya sharing hal sederhana semacam bullyng.

    Aku yakin semua orang tidak mau jadi korban bullyng, tapi kenapa ada banyak orang membully orang lain dengan senang? Sebenarnya, tiba-tiba nulis ini karena baper dari semalam mewek sendiri kehilangan teman dekat dan entah apa yang terjadi, aku ingin banget nulis unek-unek yang ada di kepala ini. Aku punya banyak  teman yang terbagi dari beberapa komunitas, atau sebuah keluarga kecil. Salah satunya adalah keluarga kecil di pesantren. Aku ga tau yah kenapa aku menjadi manusia yang cuek luar biasa, males banget berkumpul dengan kawan yang di pesantren.. Padahal mulai dari aku buka mata di pagi hari sampai terpejam di malam hari pun yang intens berkomunikasi tentu saja dengan kawan pesantren. Namun aneh rasanya bagiku mendadak jadi seseorang yang super introvert, jarang banget mau main ke teman kamar sebelah kecuali ada moment-moment tertentu seperti merayakan hari kelahiran mereka, makan malam bersama di luar, rencana ke kondangan luar kota, atau hal-hal yang sekiranya membuat kami tidak cukup berbicara di grup line dan mengharuskan tatap muka. Selain dari itu, aku lebih memilih sendiri di kamar dengan aktivitasku sendiri. Oke barangkali ini terlihat sangat aneh untuk aktivitas santri semacam aku yang seharusnya banyak bersosialisasi dengan mereka. Aku nyaman dengan duniaku, dengan banyak hal yang kulakukan sendiri, bahkan kupikir seharusnya aku menjadi anak kotsan dibandingkan tinggal di pesantren. 

    Cerita itu terjadi di pesantren. Bagaimana dengan komunitas lain? contohnya saja deh, di Taekwondo (tkd) dan kimia. Anak-anak taekwondo mayoritas agak absurd macam aku sih hahahha. Yang cowok itu hombreng, yang cewek pun cewek KW. lah kok gitu? ah sudahlah aku tak akan membicarakan hal itu di sini.... aku hanya menyoroti cara mereka memperlakukan seseorang dan bagaimana perasaanku ada di sana. Ketika lagi bareng mereka, diriku yang introvert di pesantren menjadi orang yang humble dengan siapa pun, bahkan aku dengan senang hati membantu mereka anak yang baru masuk untuk belajar sedikit gerakan-gerakan yang benar dilakukan. Bahkan dengan senior pun aku  juga begitu, menjadi seseorang yang sangat asyik diajak bicara seperti aku menemukan diriku yang sebenarnya, tanpa pencitraan, dan aku benar-benar menjadi aku, karena mereka membuatku merasa nyaman untuk tidak jadi orang lain. 

    Begitu pun ketika aku berkumpul dengan anak-anak kimia. Aku menjadi seseorang yang sering heboh sendiri, pemecah suasana, dan menjadi orang yang asyik pun dengan mereka, sama seperti yang aku rasakan saat bareng anak tkd. 

    Lalu kenapa dengan pesantren? apakah ada sesuatu yang buruk di sana? ku kira tidak... lalu kenapa kamu berprilaku seolah punya kepribadian ganda? jawabannya cuma satu, tergantung situasi dan perasaan nyaman yang ditimbulkan oleh komunitas tersebut. 

    Aku ingin banget sih sebenarnya membela diri ketika ada yang mengusikku dengan pertanyaan-pertanyaan "eh, eva kok ga pernah mau gabung sih? kok kamu cuek banget gitu? kayak ga mau kenal..." kujawab mereka dengan senyuman. oke, aku ingin menjawabnya di sini....

    Bullyng. Itulah jawabnnya.... jadi tulisan banyak yang kutulis di atas hanyalah pengantar saja hahahha. inilah inti permasalahannya....Aku ga terlalu sering ikut nimbrung dengan kawan pesantren, karena bullyng. Dimana pun kapan pun kita berkumpul selalu saja ada pembullyan di situ. Entah itu korbannya aku, atau orang lain... tapi aku sangat tidak suka. Mungkin bagi mereka itu asyik, bisa membuat suasana pecah dan ketawa bersama. Hei.... apakah untuk membuat kita tertawa harus mengorbankan perasaan yang lainnya? Misal nih, aku yang dibully ... terus aku balik bully dia, eh dianya marah-marah, cemberut, minta pembelaan dari teman yang lain terus nyari kesalahan gue untuk bully balik. Nah loh? gitu kan.... kamu saja ga suka dibully, kenapa kamu membully orang? itu pertanyaanku yang selama ini tertimbun di kepala. Ketika ada yang dibully, aku hanya ikut tertawa saja jika ada hal-hal lucu tapi sama sekali tidak mau ikut membully orang. Karena aku tahu, walaupun itu seru-seruan, bikin kita jadi ketawa, ada orang yang disakiti. Emang ga ada bully secara fisik, tapi lebih ke kata-kata yang sedikit nyess di hati, dan menurut aku itu lebih menyakitkan dibandingkan ada yang melukai fisik. Awalnya seru-seruaan tapi ujung-ujungnya yang dibully jadi ngambek, kasih pembelaan sendiri, minta pembelaan teman kalau dia punya sekutu, kalau nggak.... dia bakalan balik nyari kesalahan yang bully. Kan, seru-seruan apaan itu? 

    Seseorang bisa kok jadi asyik tanpa harus mengeluarkan joke-joke yang menyeret pada pembullyan. Salah satunya adalah temanku yang satu ini... gadis kelahiran Cilegon yang berulang tahun kemarin... dia salah satu temanku yang paling asyik, dengan ciri khasnya dia yang kadang absurd.... berteman dengan dia, suasana tetap asyik meski ga ada pembullyan. Mungkin di antara sekian banyak orang yang suka banget bully membully orang, dia jarang bahkan tidak pernah membully. Sama kayak aku, hanya numpang ketawa saja ketika ada yang dibully dan dibarengi dengan bercerita hal-hal yang lucu tapi menarik untuk diceritakan ulang, tentu saja tentang keseharian kami bukan ghibahin orang. Oke, Happy birth day Adhe Nur Tsani Oktavia...

    Aku sih orangnya, kalau sudah tidak nyaman ya udah lebih baik meminimalisir dibandingkan ikutan nimbrung tapi kadang ada rasa sakit hati sendiri. Jadi daripada aku baper sendiri, kadang juga sakit hati, mending aku dikatakan cuek ga mau bersosialisasi dengan orang lain, ga asyik, dan dibilang pribadi yang introvert tapi aku nyaman dengan hidupku. Aku merasa tentram meski sendiri. Aku merasa menemukan inilah diriku yang sebenarnya, aku tidak perlu pura-pura merasa baik-baik saja dan happy dengan hal yang kurang menyenangkan. It's my choice.  Oke fine, jika ada yang menanggapi "kok kamu ga asyik banget sih orangnya? itu kan biasa namanya juga teman saling ece gitu... kok kamu baperan? tanggepin dengan santai lah.. ga usah merasa sakit hati.. gitu saja kesel terus merasa ingin ditulis di blog pribadi..." oke mungkin kalau ada yang baca ini, bakalan ada yang berkomentar seperti itu. Tapi kuakui sih, aku baperan banget orangnya.. menurut aku, bagaimana pun bentuk pembullyan itu, meski hanya lewat joke, tetap saja itu bullyng dan kita tidak berhak melukai hati siapa pun meski hanya becanda. Well, untuk menghidupkan suasana, membuat orang tertawa, mengeratkan persahabatan, ada banyak sekali cara tanpa harus bully. Yah aku tahu sih, ada yang bilang sahabat itu adalah orang yang kadang dengan seenaknya ngatain kamu doggy atau piggy dengan muka santai bahkan kayak nama kesayangan. Hanya saja, sahabat versi aku tak seperti itu. Aku sama sekali ga ingin manggil orang yang kusayangi sebagai sahabat dengan panggilan doggy misal.... nggak banget. Meskipun anak jaman now, menganggapnya hal lumrah dilakukan. 
  
    Oke itu saja dulu sampah di kepala yang ingin kubuang, jika kamu tidak suka atau ingin memberiku saran bagaimana hidup yang lebih asyik dari sendirian dengan menjadi manusia yang introvert, kamu boleh komentari tulisan ini. Keasyikan nulis, aku jadi lupa mau berangkat kerja... see you next time.

Catatan Edelweis, Yogyakarta 11 Oktober 2017. Lantai 4 asrama UII

    Assalamualaikum kawan blogger semuanya.... semoga Tuhan selalu menyayangimu sebagaimana Tuhan menyayangiku dengan kasih sayangNya yang luar biasa. Ini kali ke empat ada event 7 hari menulis bersama Basa Basistore. Sebelum aku menuliskan tantangan di hari pertama, kuucapkan terimakasih pada momon yang sudah bikin aku nulis di blog ini lagi. Jujur saja, sebulanan ini tanganku mati rasa, kering inspirasi dan lebih memilih berdiam diri. Sepertinya blog ini akan ramai kembali beberapa hari kedepan oleh coretan absurdku. hihihihi

    Tiga film favorit yang amat kusukai.... banyak sekali sebenarnya film-film keren yang kusuka. Pertama, 3 idiots. Film ini kutonton sudah berkali-kali, tapi tetap saja tak pernah bosan untuk kutonton kesekian kalinya. Suka banget sama film bollywood ini. Komposisi dari film ini sangat bernutrisi untuk dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat. Pesan yang ingin disampaikan sang sutradara ngena banget, bahwa angka-angka yang tertulis di rapot sekolah bukan sebuah acuan dimana seseorang akan sukses di masa mendatang, bahkan materi duniawi pun bukan sebuah bukti yang paling nyata dari seseorang harus dianggap sukses. 

    Kedua, Harry Potter. Film yang diangkat dari sebuah buku yang ditulis oleh J.K Rowling ini merupakan film pertama yang mengundangku untuk berkhayal lebih dari seorang J.K. Rowling. hahahhaha. Bayangkan, ia menulis novel yang berjilid-jilid itu hanya dimulai dari oret-oretan tisu yang ia punya. Betapa inspirasinya ini membuatku semakin gila untuk menikmati karyanya. Aku kesulitan menuliskan alasan kenapa aku begitu menyukai film ini, namun percayalah Rowling telah benar-benar sukses menyita waktuku berjam-jam untuk membaca buku sekaligus menonton filmnya sekaligus.

    Ketiga, film Alif Lam Mim. Film yang sempat mengundang emosi para pejabat, polisi... Yah sebuah film yang menampilkan tentang Islam yang terlalu sering dituduh sebagai teroris, makar dan sebagainya. Sebuah film yang ditayangkan seolah sebagai perlawanan untuk menyatakan Islam itu penuh dengan kedamaian. Tidak hanya itu, aku begitu suka dengan film ini yang menampilkan sesosok "santri" yang mana orang-orang awam selalu memandang rendah status santri yang katanya kuno, di sini ditampilkan 3 orang santri yaitu alif, lam dan mim yang alumnus sebuah pesantren lalu sukses di dunianya dengan bakat dan talentanya masing-masing. Santri yang kekinian, bukan santri kekunoan. Semoga film ini tidak dibredel oleh pemerintah. 

Udah itu saja dulu tulisan hari ini. Bingung sebenarnya mau nuls film apa? Karena aku sudah terlalu lama tidak nonton film. hihihi Namun, ketiga film tadi meskipun lawas, recomended sekali buat ditonton bersama keluarga. Jangan bosan yah mampir di blog pribadiku, semoga hari-hari berikutnya dapet mood dan inspirasi yang lebih baik dari hari ini, biar ga bosen dan kerasa garing.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para teman-temanku yang keceh... Hari ini sudah memasuki hari kelima tantangan menulis 7 hari bersama kampus fiksi. Oke langsung saja yuk...
    Seseorang yang sangat ingin kutemui dalam waktu dekat ini adalah Nana. Sahabat syurgaku yang ada di tanah Sunda. Andai jarak ini tak berlipat jauhnya, mungkin aku sudah menemuinya sejak 4 bulan yang lalu. Keinginan bertemu dengannya bukan hanya sekadar membalaskan rindu yang bertubi-tubi datangnya. Ini semacam sebuah pelarian yang hendak kulepaskan pada seseorang yang tepat. 
    Berbagai banyak alasan yang hendak kukatakan kenapa aku ingin sekali bertemu dengannya, bahkan mungkin terkesan alay jika merindukan seorang sahabat sebegitu hebatnya melebihi kangennya aku pada seseorang yang kusebut sebagai kekasih impian. 
    Februari yang lalu, dia mengabari akan menemuiku di perpustakaan kampus kami. Hanya saja, pertemuan itu menjadi gagal karena ada halangan. Kali ini, aku benar-benar ingin menemuinya, memeluknya erat dan menangis di pundaknya sebagaimana yang sering kulakukan saat aku tak mampu lagi menahan segala sesuatu yang ada di pikiran. 
    Seseorang itu bernama Nana, perempuan cantik yang sangat baik mau menerimaku sebagai teman baiknya. Satu-satunya orang yang tidak pernah pergi meninggalkanku sendiri di saat semua orang mungkin sudah sangat ingin menghujatku dengan jutaan makian. Satu-satunya orang yang selalu menjadi tempat berbagi apa pun bersama-sama. Di depannya, aku tak malu untuk menunjukkan siapa aku yang sebenarnya. Dia pula yang selalu tahu apakah tawaku yang seringkali pecah itu adalah tawa bahagia atau malah hanya sekadar topeng menutup luka....
    Malam ini, aku tak peduli seberapa alaynya aku merindukan Nana. Namun yang pasti, aku sempat kehilangannya dan aku belum menemukan sahabat semacam dia. Aku kehilangan kata-kata untuk menuliskan rindu, mau seberapa banyak pun aku menuliskannya di sini, aku tak yakin kalimatku utuh menyampaikan rasa rindu yang aku alami. Hanya ada serangkai do'a yang tidak pernah putus oleh waktu, semoga Tuhan pun mempertemukan kami kembali. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 20 Ramadhan 1438 H.
Semangat malam teman-teman yang sempat berkunjung ke blog pribadi eva... ^_^ Jangan lupa jaga kesehatan yah, jangan sampai kayak eva yang malah jatuh sakit saat bulan puasa. Duuuuh ga enak banget deh. malah curhat... Oke kawan-kawan, hari ini sudah memasuki hari keempat tantangan menulis bersama kampus fiksi dan basa basi store. Temanya adalah menuliskan sebuah peristiwa di masa lalu yang sangat memalukan... duuuh kok aku mendadak benar-benar malu yah, menuliskannya di sini. But it's oke, semua sudah masa lalu, dan aku harap tidak akan pernah terjadi lagi di masa-masa sekarang.

    Suatu cerita klasik dalam sejarah eva tentang peristiwa yang sangat memalukan adalah soal kantuk. Bayangkan yah, dimana kamu akan menemukan seseorang yang bisa tidur nyenyak di atas motor? ada? Tentu saja ada, dan itu adalah diriku. Tapi aku tidak akan menulis tentang aku yang mengantuk di atas kendaraan, ini soal yang lebih parah dan memalukan. 

    Aku ini sebenarnya pernah nyantri waktu SMA, mengertilah jatah tidur seorang santri itu sangat minim bahkan bisa dihitung berapa kali aku tertidur dengan nyenyak saat di pesantren. Walhasil, kantuk itu sering menyerang saat jam pelajaran di sekolah. Anehnya adalah, kantuk itu datang hanya pada saat jam-jam mata pelajaran Tafsir Quran atau Hadits. Oh my god, di sini aku merasa gagal jadi seorang santri yang nyata. Entah apa penyebabnya, sejak aku masuk kelas X sampai kelas XII aku selalu mengantuk saat pelajaran itu berlangsung. Tapi tidak untuk pelajaran berhitung, mengarang, atau membaca kitab turats, bahkan mungkin aku termasuk salah seorang yang aktif di pelajaran menghitung, atau seputar qiraatul kutub. Aneh sungguh aneh memang.... Kupikir aku ini ngantuk karena makan yang terlalu banyak, akhirnya aku berpuasa di setiap jadwal tafsir quran dan hadits. Tapi, tetap saja cara itu belum ampuh untuk menghilangkan kantukku. Karena aku selalu duduk di bangku paling depan, otomatis ustadz yang mengajar akan melihat siswanya yang sedang berperang melawan kantuk ini, hingga suatu kali si ustadz datang menghampiri bangkuku dan menetap di sampingku. Namun anehnya lagi aku tetap merasa ngantuk.. Ya allah hingga aku benar-benar merasa menyesal dan berdosa tidak menghiraukan ustadzku yang sedang mengajar itu. Hal yang paling memalukan adalah ternyata ustadz yang mengampu pelajaran Tafsir quran adalah teman baik ayahku di pesantren. Itu pun aku tahu, saat detik-detik menunggu kelulusan kelas akhir. Parahnya lagi, si ustadz rupanya mengenalku sejak lama bahwa muridnya yang selalu ngantuk ini adalah putri teman baiknya. 

    Suatu hari sebelum aku boyong dari pesantren, ayah pernah mengajakku untuk bersilaturrahmi ke rumahnya. Tentu sjaa aku dengan tegas menolak tanpa alasan. Bukan karena apa, tapi aku tidak mau diriku tambah memalukan. Aku bahkan sangat mengingatnya peristiwa itu hingga hari ini. Salah satu alasan paling masuk akal ketika aku ditanya kenapa aku lebih memilih mendalami ilmu eksak dibandingkan yang lain. Toh, ilmu eksak pun sama-sama mengajarkanku tentang keajaiban-keajaiban ciptaan Tuhan yang membuatku terus menerus belajar untuk mengenal Tuhan dengan sendirinya melalui jalur pembelajaran bukan sekadar doktrin dari orang tua. Cukup itu saja dulu ceritaku malam ini, sungguh aku meminta maaf pada ustadzku dulu waktu di pesantren MA. Semoga kejadian semacam ini tidak akan pernah terjadi lagi untuk kesekian kalinya. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 19 Ramadhan 1438 H.
Semangat malam para tamu blog pribadiku.... Semoga kamu senantiasa semangat dan terus semangat puasa dan nulisnya.. Oke sampailah kita di hari yang paling bikin baper selama seminggu kedepan, karena saat melihat tema tantangan hari ini cukup bikin kisruh di pikiran. 

    Tentang sebuah kehilangan, seringkali membuatku gagal menuliskan atau menceritakan banyak hal tentang kehilangan. Bukan karena apa, tapi aku harus berani membongkar banyak sayatan-sayatan luka yang tergores di masa-masa lalu yang kini tengah mengalami masa penyembuhan. Selama merantau di sini, di kota ini, aku kehilangan banyak hal entah itu seorang teman baik, sahabat, orang yang diam-diam kusebut dalam doa namun tak berjodoh atau seseorang yang mewarisi darahnya di tubuhku. 

    Seseorang itu bernama Nana, aku mengenalnya sejak beralih tempat tidur dari satu pesantren ke pesantren yang lain dimana hari ini aku tinggal. Seseorang itu lebih dari sekadar teman biasa, meninggalkanku karena memang waktunya dia harus balik ke kampung halamannya. Adalah dia yang mau menerimaku sebagai teman dengan hati yang paling tulus sepanjang aku mengenal banyak orang. Adalah dia yang selalu memahamiku seperti seorang ibu menyayangi anaknya. Aku rindu, sangat merindukannya. Suatu hari nanti, aku berharap akan ada satu kesempatan dimana kami akan bertemu kembali untuk menuntaskan rindu yang selalu hadir. Semoga ukhuwah kita yang sempat terputus, akan tersambung kembali hingga akhiratNya.

    Seseorang itu bernama "Nathan" Lelaki yang diam-diam pernah mencuri senyumku berkali-kali hingga aku jatuh hati. Hampir setiap hari, bahkan terlalu sering blog ini hanya tertulis soal Nathan dan Nathan. Karena dia memang inspirasiku, sejak pertama kali aku menjatuhkan hati padanya. Kehilangannya adalah suatu kehilangan terberat sejak aku tau bagaimana rasanya patah hati dan aku menikmatinya. Patah hati yang tak menyurutkan doa namun terus menerus kurapal berharap takdir Tuhan itu bisa kunego dengan menghadirkan Nathan untuk menjadi teman hidup yang tidak tergantikan. Sayang seribu sayang, rasanya tanganku tidak akan pernah sampai merengkuh sosok seorang Nathan. Kamu tahu rasanya perempuan itu jatuh hati ? lalu patah hati dalam waktu yang bersamaan? Ah, saat itu aku benar-benar jatuh hati berkali-kali dengan sebenar-benar jatuh hati. Aku ingin jatuh hati berkali-kali pada orang dan hati yang sama. Tiada satu sujud yang terlewati dari menyebut nama seorang Nathan. Aku tak hanya sekadar merayu Tuhan, namun aku mendemonya dengan banyak doa yang tak henti aku rapal sepanjang hari, selama jantungku masih berdetak. Rindu itu sungguh ada, bergentayangan dalam setiap dingin yang berhembus di antara pekatnya malam. Rindu itu sungguh menghangatkan, tatkala aku aku jenuh dengan hari-hariku yang membosankan. Adalah Nathan, seseorang yang diam-diam aku menyukainya. Raut wajahnya yang menyejukkan sebab basahan air wudlu'nya, ucapannya yang mendamaikan, sebab aku yakin hari-harinya hanya dipenuhi soal menjaga al-quran menetap dalam hatinya, kesederhanaannya, dan tentang senyum yang kadang tanpa sengaja kucuri beberapa kali saat jarak kami mungkin hanya sekitar 100 cm di depan mata. Aku pernah punya suatu pikiran, Nathan pun merasakan hal yang sama denganku namun, itulah dia seseorang yang memiliki iman jauh lebih tinggi dari nafsunya, tidak akan berani menyatakan soal perasaan macam ini sebelum ikrar sah diucapkan. Ah, yah aku tak ingin menuliskan banyak hal tentang dia lagi malam ini di sini sebelum aku benar-benar larut dalam kenangan. 

    Seseorang yang meninggalkanku beberapa bulan terakhir adalah sesosok wanita yang berperan lebih dari seorang ibu, dialah almarhumah nenek, ibu dari ibuku. Beberapa hari lagi aku akan mudik untuk kembali bersua dengan keluargaku, namun aku bingung pada siapa aku akan pulang. Bercerita dengan seru tentang Jogja yang berhati nyaman. Aku selalu bahagia ketika liburan itu tiba, karena di rumah ada nenek yang sangat menyayangiku melebihi cucu yang lainnya. Pelukannya adalah pelukan terhangat sepanjang masa, menina bobokkan aku yang sudah dewasa ini layaknya bayi yang baru lahir. Wanita yang selalu menyiapkan buka puasaku dua hari sekali sepanjang tahun aku bersamanya. Kemarahannya adalah sesuatu yang paling kurindukan saat ini. Ramadhan tahun lalu aku masih tidur bersamanya, memijiti kakinya, mengelus-ngelus rambut putihnya, menina bobokkan sebagaimana yang beliau lakukan padaku saat masih sehat. Setiap pagi, aku begitu riang menuangkan tehnya, mengantarkan sarapannya, menemaninya sarapan sambil mengajanknya ngobrol dan ah yah aku masih selalu ingin memeluknya dan tidak ingin kulepaskan. Bahkan, saat terakhir beliau menatap dunia untuk terakhir kalinya aku tak sempat melihanya kembali untuk terakhir kali. Kehilangan seorang nenek bagiku bukan sekadar kehilangan biasa, tapi aku benar-benar kehilangan separuh kekuatan hidupku. Saat orang lain dengan entengnya memarahiku, menyalahkanku dengan seenaknya, menambah beban perasaan saat nilai raporku terjun bebas, ada nenek yang tidak pernah memarahiku. Ada seorang nenek yang menguatkanku, memelukku dengan hangat dan tak seorang pun yang punya rasa peduli sebagaimana nenek peduli padaku. Satu-satunya orang yang selalu mendengar suara kecilku, peduli dengan teriakan hati yang kadang orang lain tak pernah menghiraukan. Sejak hari itu, tenggelamlah pula suaraku bersama kepergiannya dari kehidupanku. Kehilangannya membuatku berpikiran aku tidak ingin pulang ke rumah kembali, aku tidak ingin mengalami masa-masa kecil yang sangat menyeramkan itu tanpa seorang nenekku. Seringkali aku berpikir suatu hari aku akan kehilangannya, ia akan meninggalkanku seorang diri dan aku takut membayangkannya. Keinginan terkuat untuk merantau setelah studi bukan karena aku terlalu betah di tanah orang tapi hanya karena aku kehilangan tempat pulang. Mungkin kehilangan ini terlihat berlebihan, namun percayalah seorang anak kecil selalu tahu siapa orang-orang yang benar-benar menyayanginya, dan aku telah kehilangannya.  Sudah cukup di sini aku menguras air mata ini berkali-kali. Sudah kubilang, bahwa menuliskan tentang kehilangan akan selalu menarikku pada masa-masa yang mengerikan.Terimakasih mau berkunjung di blog pribadiku ^_^

Eva Edelweis, Yogyakarta 18 Ramadhan 1438 H.

Hai para blogger.... Selamat berbahagia memasuki tantangan hari kedua. ^_^
Seandainya aku diberi kesempatan untuk memelihara berbagai jenis binatang yang ada di dunia untuk kupelihara di rumah, ada 5 binatang yang sangat ingin kupiara.

1. Kucing Anggora
   Salah satu hewan yang paling kusuka adalah kucing. Hewan berbulu halus itu selalu bikin aku jatuh cinta dengan keimutannya. Waktu kecil aku memelihara kucing Persia, namun kucing itu jomblo dan mati dalam keadaan jomblo sehingga dia tidak mewariskan keturunan untjk kupiara sebagai penggantinya. hikss hiks... sampe hari ini aku belum menemukan pengganti kucingku yang mati. Aku ingin sekali memiliki jenis kucing anggora karena terpesona dengan bulu lebatnya yang sangat halus, namun karena aku nyantri jadi aku belum bisa memelihara kucing dengan seenaknya. Aku pun ingin memiara kucing ini untuk kujadikan teman bermain yang bisa digendong kemana-mana. 

2. Burung Beo
Aslinya aku tidak terlalu tau soal jenis-jenis burung. Namun, spesial untuk Beo, aku mengenalnya pun waktu kecil saat almarhum kakekku punya sekitar 3 burung Beo di depan rumah yang sangat cerewet mengucapkan "assalamualaikum" saat ada tamu. Karena keunikannya itulah aku ingin sekali memeliharnya, sebagai salah satu hewan piaraan di rumah. Burung Beo ini bisa menirukan omongan manusia loh, dan bisa menjadi teman bicara saat kamu sendirian. hihiiii.

3. Panda
Siapa yang ga tahu dengan hewan bertubuh gempal warna hitam putih yang punya bulu-bulu menggemaskan? Ya, dialah Panda. Salah satu dari hewan impian yang ingin kupiara di rumah. hihihi....Di belakang rumahku, ada banyak bambu yang siap menjadi taman bermain dan santapan para Panda. Aku pun ingin memeliharanya, karena dia punya postur tubuh yang sama lucunya dengan kucing. Ga kebayang saat dia menggelindingkan tubuh gempalnya.... 

4. Burung Merak
Burung ini memiliki khas bulu yang berbeda dari burung lainnya. Bulunya yang warna warni dengan mahkota cantik di kepalanya, membuatku jatuh hati melihatnya dan begitu sangat ingin mempeliharanya. Aku sempat melihatnya langsung saat di tempat wisata Eco Green Park yang ada di Malang. Sekian banyak burung yang cantik, hatiku tetap jatuh dan terpesona dengan keindahan bulu-bulu Merak.

5. Sapi
Yah, aku ingin memelihara sapi bukan berarti aku menjadi penggembala sapi. Hahahaha tidak, sama sekali tidak. Aku ingin memilikinya hanya karena sapi itu identitas sebuah kekayaan. Maklum, aku ini anak desa, jadi siapa yang punya banyak sapi, dia itu orang kaya. hahahhaha. Kok aku jadi mendadak mata duitan? nggak apa-apalah yah, toh ini kan impian jadi kaya, siapa tahu kaya di usia muda hanya dengan punya Sapi yang banyak. wkwkwkkw 
Terimakasih atas kunjungganya di blog pribadinya epa, silahkan tinggalkan jejak sebagai tanda anda sudah bersilaturrahmi dan ngopi di rumah saya ini... hihi smapai jumpa besok yah.... 

Eva Edelweis,  Yogyakarta 17 Ramadhan 1438 H.
    Aku memanggilnya  lek Imut. Yah, imut sekali memang dan menggemaskan. Hahahaha.. katanya dia sudah bertambah usia, bahkan aslinya usianya melampaui usiaku tapi tetap saja aku menyebutnya "Lek" yang artinya adik. Selain karena memang posturnya yang imut, dia memang imut seperti anak-anak balita dan kalau gemes, rasanya pingin nyubit-nyubit  dia  sampe puas (huaaa maapkan saya lek..). tapi kecil-kecil kamu gesit.. hahahah.. Cukup sudah aku bicara ga jelas di sini, yang ingin kutulis bukan tentang itu semua...

    Pertama, kuucapkan selamat panjang umur, semoga bertambahnya usia bertambah pula keberkahan hidupmu, bertambah dewasa, dan tambah imut tentunya... Lancar risetnya yah :) selebihnya, aku cukup mengaminkan segala pinta baikmu... 

    Gara-gara mengingat omonganmu semalam, tiba-tiba aku terbersit untuk ngeblog malam-malam tanpa harus ada acara mewek ga jelas.. Sungguh malu, malu pake banget, karena pernah suatu hari saat tanpa sadar menangis di depan customer ganteng yang mau masukin sample dan kau tahu apa yang kurasakan? rasanya mau menghilang kayak raib di novelnya bang Tere.... 

    Kadang kita ingin menangis sejadi-jadinya tanpa pernah tahu sebenarnya apa alasan kita ingin menangis. Syukur-syukur ga ngamuk ke orang lain.. tapi sadarilah bahwa air mata yang mengalir dari seorang wanita bukan air mata yang sembarangan membanjiri pipi kita lek, tapi itu karena hati yang menggerakkan pikiran kita untuk menangis. Kau tahu kenapa? karena mungkin hati kita terlalu lama menyimpan dan memendam sesuatu yang tidak seharusnya kita simpan di sana. Sesuatu yang mengganjal berupa sakit yang telah lama mengeras membuat hati kita berontak diam-diam untuk meluapkannya. Kita harus menangis, meski terlihat cengeng tapi tidak lantas membuat kita terlihat lemah hanya karena soal menangis tanpa alasan. Kita harus menangis untuk menyadarkan diri sendiri bahwa kita memang hanya sejenis manusia biasa yang memiliki batas-batas tertentu untuk selalu merasa baik-baik saja. Jika kita memang tidak baik, katakanlah tidak baik jangan selalu disimpan terlalu lama biar hati kita ga karatan jadi manusia tapi tidak berhati manusia. Karena ketika kita mampu jujur dengan diri sendiri, di situlah hati dan pikiran bisa diajak berkompromi untuk tidak panik dan bisa mengontrol emosi dengan baik...

    Semalam aku pun merasakan hal yang sama, ingin menangis sambil teriak-teriak macam orang gila biar puas sekalian... tapi yang terjadi justru hanya menangis sesenggukan di pojokan kamar. Bahkan meski ada yang bertanya kenapa menangis, mungkin hanya tersenyum kecil dan mengatakan "aku rapopo" padahal dalam hati rasanya sudah mau meledak hasrat ingin cerita, curhat dan berbagi pada orang lain. Namun, harus disadari hal-hal seperti itu tidak seharusnya ku bagi-bagi, tidak penting orang lain tahu keadaan hati kita yang sedang kacau. Kita hanya harus memastikan bahwa sekacau apa pun, diri kita tetap berdiri tegak di tempat dan tak mudah rapuh hanya karena sedikit masalah. Namanya juga hidup, pasti penuh masalah... iya kan? kalau tidak ingin dapat masalah, silahkan pindah rumah menuju alam barzah kata guruku... Perlu diingat, selama bumi masih bulat dan tetap berotasi pada porosnya maka begitulah hidup kita akan terjadi, ketika ada sedih maka akan dengan cepat berganti gembira. Ketika ada luka maka akan segera berganti bahagia. Seperti halnya hari ini, saat tulisan ga jelas ini ditulis rasanya kok aku seneng, hati berbunga-bunga padahal tidak pernah tau apa yang sebenarnya bikin senang. Barangkali kamu perlu seperti ini, sedih seperlunya dan bahagialah dengan sederhana....

    Tanpa sadar, aku telah menulis hal-hal yang mungkin kurang penting namun dengan sengaja kamu baca sampai selesai. hahahaha... Tulisan paling sederhana dedikasi untuk lek imut, gadis terkocak yang pernah aku kenal, yang sudah berusia 22 tahun katanya... peluk jauh untukmu, kalau kau ingin kado mainlah ke jogja =D Semoga kamu selalu bahagia.

Eva Edelweis, Yogyakarta 28 April 2017.



i know i'm not alone....
Kamu pernah merasa hari-harimu benar-benar kosong? yah, aku mengalaminya hari ini. Beberapa hari ini aku hanya duduk anggun di depan komputer yang artinya hari itu benar-benar tidak produktif dan pikiranku kacau. Menangis tanpa alasan sambil menulis tulisan ini membuatku ingin mentertawakan diri sendiri, bagaimana mungkin aku merasa kalah padahal aku tidak sedang ikut lomba dan semacamnya. Aku masih di sini dengan setumpuk kekosongan dalam pikiranku yang mungkin semakin memperparah kebuntuan otakku.
Aku boleh menangis hari ini? dan aku hanya ingin menangis meskipun tanpa alasan.... aku sungguh tidak tau untuk apa menangis, mungkin benar air mata ini mengalir karena perintah hati untuk mengingatkanku bahwa ternyata aku sejenis manusia biasa yang mana hatiku mulai memberontak sedari kemarin ingin menendang-nendang segala sesuatu yang ada di depan mata. Aku tidak tau aku sedang menangisi apa, namun kenapa aku merasa perasaan ini serasa dikuliti, dicabut rasa malunya... dan begitu sakit dan sesak rasanya.

Apa ini saatnya aku harus mengakui bahwa pura-pura bahagia dan selalu gembira itu sungguh menguras energi? walau dalam keseharianku, diriku tampak sebagai orang yang paling blak-blakan dalam bicara seolah rem di mulut ini sudah los dan tak berfungsi namun tetap saja segala kesedihan ini tidak bisa aku bicarakan dan hanya bisa kutumpahkan di sini. Baru kali ini aku juga merasa betapa menyedihkannya, dan menyiksanya memendam rasa benci, dendam yang tak seharusnya menghuni hatiku Tuhan....Ajaibnya setelah aku nulis ngalor ngidul di sini, rasanya petir beserta hujan di hati ini lebih sedikit mau bersahabat...

Aku hanya selalu berusaha memastikan aku baik-baik saja dan selalu bahagia meski mungkin bagi orang yang melihatnya inilah pencitraan paling nyata. Yah, kau tidak usah nyinyir dengan pengakuanku kali ini karena sesungguhnya pencitraan itu adalah sifat alamiah manusia. Bukankah setiap orang selalu berusaha menutupi aib sendiri dan menampakkan kebaikan dirinya? Sadar atau tidak, pencitraan semacam itu mesti dilakukan oleh kebanyakan orang. Sah-sah saja sih menurutku tidak ada yang salah dengan sebuah pencitraan. Apalagi sekarang ini di media sosial, waaah hampir rata-rata semua penggunanya mencitrakan dirinya baik dan terbaik. Yah, di situlah hal yang penting menurut aku, dimana kamu bisa mencitrakan dirimu sebaik mungkin dengan harapan memang sebaik itulah dirimu yang sesungguhnya. 
Sekian dulu yak, catatanku hari ini. Semoga kamu bahagia ^_^  

 Selamat malam para tamu blog pribadiku... semoga kamu selalu bahagia seperti aku ^_^
    Ide tulisan ini sebenarnya sudah terlalu lama menghuni pikiranku namun sekali lagi rasa malas itu menggelayut tanpa ampun, padahal hampir setiap hari aku berada di depan layar komputer. Lalu inspirasi ini muncul kembali mendesak untuk segera dituliskan sebelum semuanya kadaluarsa, seperti cintaku untuknya hahahahah... 
    Pertama kali kamu membaca judul di atas, apa yang kamu pikirkan? seseorang yang berkepala botak? seseorang yang berotak sejenius einsten? atau seseorang yang ahli dalam segala hal? oh tidaaaaak... aku tidak akan membicarakan itu semua. hahahhaa. Profesor menurut KBBI adalah seseorang yang memiliki pangkat dosen  tertinggi di perguruan tinggi. Namun aku menyebut (nya) profesor karena ternyata dia sudah cukup berbakat lah di bidangnya, kalau aku mah apa atuh bang cuma butiran debu kalau dibandingin dengan dia. hiks hiks.
    Sebut saja namanya Dias. Kupikir aku benar-benar mengenali sosok seorang Dias, namun ternyata aku salah besar dan itu sangat memalukan saat aku mulai sok tahu tentang orang lain. Dias bilang dia sedang mengalami beberapa persoalan dimana dia sebenarnya menurutku lebih butuh teman curhat daripada solusiku yang terlihat sangat menyebalkan. Dias ini salah satu teman yang sama-sama memiliki hobby menulis diary. Oh yah, tentu saja bukan cuma cewek dong yang suka ngediary cowok pun juga ternyata hobby curhat lewat diary. Saat dia bercerita tentang beberapa hal aku mengatakan sesuatu  "yas, cobalah kau menulis di media yang berbayar jangan hanya nulis diary kayak aku" ucapku waktu itu. "Yah Va, akan kucoba, makasih sarannya" dan komunikasi kami selesai sampai di situ. Lalu suatu hari aku menemukan suatu tulisan jenis kolom di sebuah koran elektronik yang cukup menarik untuk kutuntaskan jadi sarapan pagi. Seketika rasanya mataku berhenti berkedip untuk beberapa saat, tidak hanya itu saja bahkan aku membaca tulisan itu berulang-ulang sampai aku benar-benar hapal isi dari tulisan itu. Nama penulisnya adalah Dias Al-Faraby anak Solo. Aku mengucek mata berkali-kali untuk memastikan bahwa nama itu hanyalah milik sahabatku yang satu itu bukan orang lain. Oh yah, foto yang ditampilkan memang foto dia. Berarti benar kalau itu memang tulisan Dias sahabatku. Kukunjungi mbah yang paling pinter mbah google untuk search namanya lagi, kutemukan beberapa jenis tulisan yang sama dengan judul yang berbeda atas nama penulis yang sama. Sahabatku penulis media massa bukan hanya penulis diary macam aku. Rasanya aku malu sekali waktu itu sok ngasih solusi, dan itu murni aku hanya ingin menyemangatinya saja. Bagaimana mungkin anak petakilan macam aku yang hanya hobby ngediary, ngeblog sok sok an menasihati seorang penulis untuk menulis. Hahahahaha. Parah banget kan yah? makanya sekali lagi, kalau ada orang yang curhat padaku aku nggak berani ngasih solusi apalagi sok bijak bilang ini itu takut kejadian yang sama terjadi lagi. Sungguh memalukan. Namun mungkin sahabatku itu masih jaga muru'ahku sebagai temannya maka diapun mengiyakan apa yang kukatakan. Terimakasih bro... oh nggak terimakasih prof. Yah, karena ternyata kamu pantas untuk kusebut kau sebagai profesor (dalam hal kepenulisan). Maaf dengan lancang sekali aku berlaku sok tahu tentang apa yang orang lain butuhkan, inginkan padahal aku yakin waktu itu kamu hanya perlu telinga untuk mendengarkan segala keluhmu, butuh mulut untuk mendoakan kelancaran usahamu tidak untuk diberi solusi yang kupikir solusinya menyebalkan sekali untukmu. -_- 
    Terakhir, aku berpesan untuk kamu yang membaca tulisan ini, janganlah kamu selalu merasa tahu tentang segala sesuatu, merasa memahami orang lain sepenuhnya apalagi merasa dirimu lebih baik dari orang lain. Cukuplah menjadi pribadi yang rendah hati, dan selalu merasa tidak tahu apa-apa agar kamu mau belajar dari orang lain. Kelihatan tidak tau apa-apa sungguh lebih baik dibandingkan kamu tidak tahu sesuatu namun sok tahu. Udah itu saja yang ingin kutulis di sini, sebagai tulisan tanda liburan telah berakhir.. huuuu huuuuu :'(

Eva Edelweis, Yogyakarta 24 April 2017

Selamat pagi guys...semoga hari-harimu selalu menyenangkan penuh keberkahan. Kali ini aku kembali hadir di rumah laba-labaku dengan mengikuti event 7 hari tantangan menulis bersama #Kampusfiksi dan #Basabasistore untuk yang kedua kalinya. Kamu bisa membaca event yang pertama di tulisanku sebelumnya. Tema di hari pertama lagi-lagi tentang "cinta". Kau mau tahu kisah cinta yang pernah kualami? yukk tengoklah di sini ^_^

     Panggil aku eva. Nama kecil yang ibu sematkan untukku hingga hari ini. Jaman aku masih kecil, belum paham apa itu cinta. Tapi aku pernah mengalaminya. Dulu temanku rata-rata bukan jenis perempuan, jadi semisal aku menyukai temanku sendiri yang notabenenya anak lelaki, justru di situlah aku merasa tak ada seorang pun yang menyadarinya. Namun satu hal yang masih kuingat dengan jelas, saat aku bertatap mata dan menyapanya mesti ada rasa gelagapan. Yah, mirip lah kayak orang dewasa berbicara dengan orang yang disukainya.

      Namanya Faiq, tapi aku lupa siapa nama lengkapnya. Dia adalah teman sekelas waktu MI, dan satu-satunya teman lelaki yang gak laki. Nah loh? ahahahha maksudnya gimana? Yup. Dia anak lelaki yang punya otak encer di kelasku, sebutlah dia rivalku masalah peringkat di kelas. Saat bel jam istirahat berdentang, suasana di sekolah kami cukup ramai. Rasa bahagia tak terkira saat mereka bebas dari derita harus duduk manis selama kira-kira 2 jam sambil menyantap mata pelajaran. Si Faiq ini tetap anteng di kelas meskipun jam istirahat, padahal anak yang lain sudah beramai-ramai bermain sepak bola di halaman sekolah. Maklum, dia gak suka main sepak bola karena tubuhnya yang agak gempal dibandingkan anak yang lainnya. hahahahah.  Tapi dia paling ganteng lah yah di kelas, mukanya imut, manis, dan dibandingkan yang lain dia berkulit putih. Dia juga tidak banyak tingkah macam anak yang lain, tidak nakal, dan anak yang disukai guru-guru. Jadi karena dia ga suka main bola, dia ga nakal kayak teman lelaki seperti pada umumnya, aku mengatakan dia anak lelaki yang ga laki. hahahahha.
     Awalnya biasa sih dengan dia, toh dia teman sekelasku. Tapi saat perayaan akhir tahun kenaikan kelas menuju kelas 5 MI, kebetulan kami sama-sama terpilih jadi siswa terbaik di sekolah. Aku sebagai perwakilan dari siswi terbaik dan tentu saja siswa terbaiknya adalah Faiq. Namanya juga anak-anak, biasa sering nggodain temannya sendiri. Nah, dari situlah muncul benih-benih cinta di hati anak ingusan macam kami. Yah, hampir setiap hari kami digodain sebagai pasangan oleh teman-teman, entah itu teman sekelas atau bahkan kakak kelas pun ikut menjodoh-jodohkan kami. Hatiku kedut-kedut saat itu, takut kabar macam ini terdengar oleh bapakku yang waktu itu jadi guru sekaligus sekeretaris kepsek, bisa-bisa aku kena marah bapak... 

    Suatu hari entah kapan, dia melayangkan pesawat kertas yang ternyata berisi surat cinta (sumpah, kalau diingat, aku mau ngakak...) yang ditulis dengan rapih mendarat di mejaku.. Tapi aku lupa isi lengkapnya seperti apa, hanya saja aku kaget bisa-bisanya anak SD udah berani tembak menembak. Hahahhaha. Maklum jaman kami masih SD handphone itu masih termasuk barang mahal dan langka, hanya orang-orang kaya yang punya. Jadinya, tidak ada chat chit lewat media sosial seperti hari ini, cukup lewat secarik pesawat kertas. Setelah acara kirim mengirim surat, aku jadi enggan menyapanya. Begitu mataku bertemu dengan sosoknya, mendadak jadi deg deg an alay, rasanya hati ini mau meloncat kegirangan tapi bercampur rasa malu. Sampai akhirnya kami lulus MI dia mulai menjauh dari pandanganku, mungkin  karena waktu itu aku mengabaikannya. Hahahhaha. Bayangin ajalah yah, aku merasakan jatuh cinta di usia 8 tahun-an terus aku harus gimana? palingan kalau ketemu cuma senyum-senyum doank, terus ngobrol biasa bareng teman sekelas. Jadi kurasa tidak ada yang istimewa dari cinta monyet ini. Hahhahaha. 

       Beberapa waktu yang lalu aku pulang liburan dari tanah rantau. Pada saat berada di acara walimatul ursynya adek kelasku (maklum, adat di rumah adalah nikah dini kecuali aku ) dan kebetulan ketemu teman MI, dia memberi kabar bahwa satu pekan lagi Faiq akan menikah. Tiba-tiba aku merasa pipiku merona mengingat jaman kami MI dulu... dan ternyata dia telah menemukan jodohnya. Semoga pernikahan kalian sakinah mawaddah wa rahmah Faiq... Sejak kami lulus MI hingga aku lulus kuliah pun, komunikasi kami benar-benar terputus. Salam rindu dari kawan lama


Eva Edelweis Yogyakarta, 11 Maret 2017.



"Ada saatnya kamu tidak ingin bicara apa pun dengan siapa pun. Kamu hanya ingin menghabiskan waktu dengan bekerja atau diam beberapa lama" Boy Candra. 

    Hari libur kali ini sungguh berbeda dengan hari libur biasanya. Setiap kali libur khususnya hari minggu, biasanya kuhabiskan waktu untuk membaca buku-buku yang hanya tergeletak saja di atas kasur setelah sekian lama menina bobokkan aku saat insomnia menyerang. Kadang-kadang juga hanya kuhabiskan waktu untuk membersihkan kamar, menyuci pakaian, menyetrika dan yah sekedar bersih-bersih. Kalau nggak, mager di kamar sampai sore. Hahahaha. 

    Liburan kali ini aku gowes. Yes, gowes. Perasaan senang tak terkira saat gowes itu tak bisa kujelaskan, seperti melepas rindu dengan kekasih. Kok lebay yah? hahahha. Karena terhitung kira-kira sudah 2 tahun lamanya aku tidak melakukan hobby yang satu ini. Bukan karena malas atau apa, tapi ada kenangan buruk beberapa tahun yang lalu. Setelah sekian lama ga gowes, akhirnya bisa gowes juga hari ini. Mengelilingi jalanan kampus yang sepi... Rasanya malam ini kakiku mulai terasa mau copot gara-gara jarang berolahraga, berasa mau ambruk -_-

    Hal yang berbeda dari liburan kali inipun tak hanya cukup gowes saja, tapi aku kembali memasak. Sempat dulu selama beberapa semester, aku mencoba untuk benar-benar belajar mandiri, mulai dari masak sendiri, nyuci tanpa laundry... Barangkali ini sepele, tapi ternyata tidak. Berbagai kemudahan yang ada justru membuat seseorang menjadi pemalas. Mahasiswa sekarang cenderung memilih untuk membeli makanan di tempat makan terdekat agar lebih praktis dan tidak ribet, capek-capek masak sendiri. Sekedar nyuci pakaian, mereka tinggal pergi ke laundry dan yup semuanya beres. Tapi bagi seorang anak rantau seperti aku, kiranya kurang mantep jika merantaunya setengah-setengah. Maksudnya gimana? yah, sekalian jauh dari keluarga, cobalah untuk benar-benar belajar mandiri mulai dari hal sederhana, sesederhana memasak sendiri, sesederhana nyuci sendiri. Kalau kata dosenku sih, begini " kalau mau sukses, nyuci tanpa laundry" Aku aminkan sajalah lah yah perkataan dosenku ini. Jadi sebenarnya bukan terletak pada masak sendirinya, nyuci sendirinya, tapi bagaimana kita belajar mandiri sejak masih remaja agar besok tidak kaget jika sudah berkeluarga. Setelah nelpon ummi, tiba-tiba terbersit ngikuti omongan ummi yang menyuruhku kembali masak seperti dulu. Meskipun pernah gagal walau hanya bikin sambal tomat. Hahahha. Yes, aku dulu tak hanya suka bereksperimen di lab saja, tapi juga di dapur. Hasilnya gimana? Lumayan lah, untuk makanan-makanan sederhana yang tidak terlalu butuh banyak bahan. hihiihi karena aslinya, eva lebih suka bikin kue-kue kering atau cemilan daripada masak makanan berat. 

    Sebenarnya hari ini ada acara masak-masak satu angkatan di asrama, tapi aku lebih memilih istirahat setelah beberapa saat rasanya badanku mau ambruk setelah gowes dan menyantap hasil masak hari ini. Bukan bermaksud tidak ingin bicara, atau apapun lah dengan kalian (keluarga cemara 2012 putri) tapi aku cuma sedang melakukan sebuah hibernasi yang sudah lama tak pernah kulakukan. Aku cuma ingin menepi sejenak dari keramaian, kapan lagi aku menikmati sepi seperti hari ini? rasanya aku sudah lama sekali tak menyibukkan diri dengan melakukan hal-hal semacam ini, meski tadi pas masak ada yang gosong -_- tapi sungguh aku benar-benar menikmati lelah di hari libur kali ini. ^_^

*Hanya sebuah catatan tentang kegiatan di hari libur. Tidak ada yang istimewa, kecuali perasaan syukur bahagia meski menikmati hari libur tanpa siapa pun.

Eva Edelweis, Yogyakarta 5 Januari 2017.


#Tantangan 10 Hari Menulis Bersama Kampus Fiksi

Kali ini aku harus menuliskan tentang sebuah janji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi. 
1. Aku berjanji tidak akan menyukai orang yang sama untuk kedua kalinya. 
     Aku pernah menyukai seseorang, meski hanya sekedar menyukainya diam-diam tanpa sedikitpun kutampakkan bahwa aku sedang menyukainya kecuali bahasa mata yang tak pernah bisa berbohong kala aku berpapasan dengannya. Hari ini entahlah bagaimana kabarnya, namun yang pasti aku harus mampu menghapus rasa suka itu menjadi hilang dan bersih tanpa sedikitpun ada perasaan yang tersisa.Seandainya pun Tuhan masih mentakdirkan untuk bertemu, bahkan ketika kesempatan itu masih ada untuk kedua kalinya aku tak ingin menyukai dia kembali seperti dahulu kala. setidaknya ketika aku mulai sakauw dengan perasaan yang sama, janjiku ini tertulis secara rapih di sini sebagai pengingat yang kekal untuk melupakannya. 

2. Aku berjanji akan disiplin dalam memanage waktu
    Aku berjanji pada diriku sendiri untuk memanfaatkan waktu luangku dengan hal-hal yang bermanfaat. Aku pun berjanji tidak akan lagi suka menunda-nunda melakukan pekerjaan yang bisa kulakukan saat itu juga. Karena baru kusadari aku ini hobby sekali menunda-nunda waktu, bahkan meskipun beberapa kali kudapatkan sanksi atas perbuatanku yang satu ini, aku masih belum jera dengan hobbyku ini. 

3. Aku berjanji akan tetap menjadi "santri" selamanya
   Aku memang nakal, tapi aku tak pernah lupa pada jati diriku sebagai santri. Meskipun sempat aku nyaris terbawa oleh lingkungan yang pernah kutinggali, aku berjanji dimanapun aku berada, dalam kondisi apapun, aku tetap akan berprilaku sebagai sosok seorang santri. Bahkan meskipun aku bukan lagi anak pesantren, hanya sebagai alumni dan bahkan hanya nyantri dalam waktu yang cukup singkat. Aku tetap berjanji menjaga "kesantrianku" dimanapun aku berpijak.

Akhirnya sampai di sini juga batas akhir writing challenge bersama kampus fiksi. Purna sudah tulisanku melunasi semua tema-tema yang ditentukan oleh admin. Rasanya baru kemarin aku menuliskan hari pertama yang menyusul hari kedua dengan tenggat waktu yang cukup singkat. Meski pada akhirnya aku telat posting, ternyata sampai pula pada akhir perjalanan. Oh tidak, ini bukan akhir perjalanan namun awal perjalanan.  Terimakasih kampus fiksi yang telah dengan sengaja memanage pikiran kita untuk memperoleh inspirasi menulis. Semoga ada kelanjutan event selanjutnya yang lebih bikin gereget lagi untuk blogging. Sampai jumpa di tulisan berikutnya, Tetap setia guys mengunjungi rumah laba-laba edelweis :) Thanks so much for your visit. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 27 Januari 2017


#Tantangan 10 Hari Menulis Bersama Kampus Fiksi
Suatu hari aku pernah berpikir ingin menulis surat untukmu, lalu entah kesibukan macam apa yang membuatku begitu tidak punya waktu untuk menuliskannya. 

    Dear kamu, seseorang yang pernah hadir membawa sebentuk senyum dalam waktu yang cukup lama. Apa kabarmu hari ini? kuharap kau selalu baik-baik saja. Aku rindu senyum hangatmu, dan aku benar-benar merindukannya. Beberapa tahun yang lalu Tuhan mentakdirkan kita berkenalan tanpa sengaja di sebuah kampus di tanah Jawa, dan aku baru tahu ternyata kita sama-sama berstatus sebagai delegasi kampus kita masing-masing mengikuti ajang perlombaan yang sama. Kau pernah bilang padaku bahwa untuk meraihku kau butuh waktu sekitar 1 tahun untuk mengenalku saja. Hahahaha.. 

    Hari ini aku merindukanmu, tidak hanya hari ini tapi hampir setiap hari, bahkan kadang aku benci dengan diriku yang macam gadis pesakitan karena rindu. Heii, aku rindu sahabat sepertimu cery yang tak pernah lupa pada jadwal kuliahku. Ini lucu sekali, bahkan aku sendiri kadang sering telat karena lupa ada jadwal kuliah di jam itu tapi kamu mesti menghubungiku setengah jam sebelum kuliah. Aku rindu dengan cery yang selalu menjadi pendengar setia keluh kesahku, dan kau bahkan mau-maunya menjadi tempat pelampiasan kemarahanku... Yang ku tahu kau selalu memberi waktu untuk berusaha selalu ada saat aku mencarimu. Suatu hari, aku panik luar biasa saat mau presentasi hasil laporan magang selama 1 bulan. Kau menjadi pendengar pertama saat aku mulai latihan, dan kau seolah paham pada apa yang kubicarakan padahal aku tahu kau pura-pura paham atas penjelasanku yang semakin lama semakin membuatmu migrain, saat aku bilang kenapa cery terlalu baik denganku kau bilang bahwa kau hanya suka melihat caraku tertawa dan kau ingin menjadi alasanku tertawa lepas bahagia. Kau benci saat aku mulai menangis sesenggukan, kau benci saat aku tertunduk lesu dalam kekecewaan.
    Maafkan aku cery yang suka sewot dengan kamu yang kadang ga pake parfum saat bertemu, aku cuma ga mau kamu terlihat kucel dan terlihat tidak terawat. Aku mau sahabatku yang satu ini enak dipandang, wangi, dan terawat. Maafkan aku yang suka mempermasalahkan dirimu yang menyukai makanan fast food seperti mie instant, tapi aku cuma khawatir dengan keadaanmu. Kalau kamu sakit, siapa yang mau diajak ngoceh malam-malam hanya untuk menghilangkan kantuk saat aku begadang untuk menyelesaikan tugas kampusku? Kalau kamu sakit, siapa yang mau menjadi partner paling asyik untuk diajak menangis dan tertawa bersama? Kalau kamu sakit siapa yang akan membantuku menyelesaikan tugas kuliah asramaku? kamu kan tahu cery, aku tak punya  sahabat yang lebih tulus dari seorang kamu. Orang-orang hanya mendekat saat ada perlunya saja, lalu menjauh saat ia mendapatkan apa yang dia peroleh. Kau kan tahu cery, kau adalah seseorang yang mau ajak  gila bareng saat liburan, kamu yang mau diajak susah kemana-mana direpotin oleh gadis paling bawel ini.  Maafkan aku yang suka marah dan kesel tapi percayalah aku hanya tak mampu menunjukkan rasa sayang dengan baik dan lembut. As you know me so well, aku tidak pernah benar-benar bisa marah dengan orang lain apalagi kamu, sahabat terbaik yang pernah kukenal. 

     Cery, aku tidak tahu harus nulis surat semacam apa untukmu, tapi sungguh dari hati yang terdalam aku benar-benar rindu cery. Mengenalmu adalah bagian terindah sepanjang hidup, meski pada akhirnya kita berpisah tersebab satu alasan yang tak hendak kau bicarakan. Suatu kali kau memintaku menemanimu hunting buku di kota, tapi yang terjadi bukan aku yang menemanimu hunting buku tapi justru kau yang menemaniku menyelesaikan tugas kuliah asrama sampai kau tertidur pulas di masjid keraton. Namun kau bilang, bahwa kau tidak menyesal jauh-jauh ke kota tanpa satupun buku yang kita peroleh karena waktu luang sedetik yang kita lewati tak ada satupun yang tersia-sia. Sepanjang perjalanan hujan mulai turun, dan darisitulah sampai detik ini aku mulai kurang menyukai hujan karena setiap tetesnya adalah ingatan tentang kamu. Hujan terakhir yang memisahkan kita dengan jarak yang begitu jauh bahkan akupun tak terlalu yakin akan bertemu lagi suatu hari nanti. Aku takut, akan menangis lemah di depanmu. Akupun tak sanggup melihatmu lagi yang memutuskan pergi tanpa alasan bahkan kau sama sekali tak pamit denganku. 

   Cery, kita bertemu pertama kali di Jogja dan kuharap akan bertemu kembali di kota yang sama. Melepas rindu yang tak pernah tuntas walau kutuliskan hingga beribu halamanpun di sini. Aku merindukan setiap waktu yang pernah kita lewati di kota ini. Orang bilang, jogja terbuat dari serpihan rindu yang memanjang. Yah, suatu hari saat aku meninggalkan kota ini, rinduku tak pernah hilang tetap kekal di sudut Masjid keraton, di sepanjang jalan Malioboro, di persimpanagn Tugu, di halte-halte Trans Jogja, di sepanjang taman pintar, di sepanjang Kaliurang, disanalah rinduku memanjang bertaburan, semakin hari tumbuh subur tanpa pernah tahu kapan rindu itu akan terwujud dalam sebuah pertemuan. Tapi cery, meskipun aku tidak tahu alasanmu pergi tanpa pamit aku tak pernah membencimu walau sedetik. Kita pernah janji kan, akan saling mendoakan yang terbaik apapun yang terjadi, bahkan meski kita hari ini ini slaing berjauhan.Salam rindu untuk Cery yang entah dimana, dari aku yang masih melebur rindu  sepanjang waktu. 


Eva Edelweis, Yogyakarta 27 Januari 2017


Previous PostPostingan Lama Beranda