Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Seseorang pernah bertanya, kenapa aku masih aktif nulis di blog pribadi? Bukankah itu membosankan, katanya.. Lalu kujawab dengan satu senyuman termanis yang pernah kupunya.
Kenapa aku menulis, karena di sinilah aku menemukan diriku. Ketika banyak sekali yang terpendam dalam pikiran tapi aku tak mampu mengatakannya, setidaknya aku masih bisa jujur ketika menulis. Lalu, apakah semua yang kau tulis itu adalah semua yang kamu alami? tanyanya lagi yang terkesan ingin tahu. Masih kuberikan senyumku di hadapanmu. Tidak, tidak semua yang aku tulis adalah sesuatu yang kualami. Kau tahu, tidak semenyek itu hidupku La.... Aku suka mengkhayalkan sesuatu dan kutulis di sini. Aku juga sering menjadi pendengar dari kawanku yang mengalami patah hati, lalu entah bagaimana hatinya tergerak menangis di pundakku.. Aku pikir diriku punya daya tarik yang luar biasa melalui pundak yang sudah keberapa kalinya selalu ada orang yang bersandar di sana dengan sesenggukan dan menceritakan kesedihannya. Aku memposisikan diri mereka, dengan tanpa sadar bahkan aku merasa lebih sedih dari mereka.

Aku menulis untuk diriku sendiri. Aku menulis untuk mentransfer sebagian depresi yang menghuni dalam kepalaku menjadi sebuah tulisan yang bisa kubaca ulang 30 tahun mendatang. Aku ingin menuliskan semua perasaanku di sini, tapi ternyata tetap saja tidak bisa. Meskipun tadi kukatakan bahwa aku bisa jujur ketika menulis, ternyata tak semudah itu.. Pasti ada sedikit perasaan was was dalam hati takut ada seseorang yang segitu keponya denganku sampai bongkar-bongkar alamat blogku ini hahahaha. Kau tahu, setiap kali aku ngepost tulisan yang berbau hal menyedihkan sering ada pesan masuk di hp menanyakan kabarku dan parahnya ada yang langsung ngejudge aku segalau itu....

Aku memang mengurangi keaktifan di media sosial, tapi aku tetap akan menulis selama aku punya waktu di sisa-sisa hidupku. Aku akan menulis sampai usiaku renta dan sudah tidak mampu lagi menulis.. Kamu tahu kenapa? Bagiku menulis itu semacam terapi diri bagaimana mengelola emosi yang selama ini aku pertahankan tetap stabil apa pun yang terjadi.

Aku juga tidak pernah menyangka, blog yang isinya begini riweuh pernah membuatku diterima di beberapa lembaga yang bergerak di bidang copy writing. Aku juga tidak tahu apa yang bikin HRD tertarik dengan port folio yang kubuat. Sayangnya takdir berkata lain sampai akhirnya aku gagal masuk di antara beberapa lembaga tersebut. Awalnya, cukup bikin aku patah hati dan mogok menulis. Tapi dasar kenyataannya aku ini memang harus menulis, karena kalau tidak, bisa membahayakan kestabilan emosiku sendiri hahahha alay... yeah, aku sempat mogok berbulan-bulan tidak lagi menulis di blog ini sebagai wujud marah sekaligus frustasi.. Alhamdulillah, waktu mengajariku banyak hal tentang bagaimana caranya ikhlas dengan apa yang Tuhan skenariokan. Aku balik lagi menulis hal tak penting di sini..semoga orang yang sempat kepo dengan blogku ini tidak mendadak pingsan baca tulisan receh beginian 

Eva Edelweis, Yogyakarta 27 April 2018
    Manusia robot aku analogikan orang yang hidupnya diatur orang lain. Kau percaya nggak, hari gini ada manusia macam itu? Aku sih percaya. Soal kamu ga percaya, aku ga peduli. Dia si manusia robot, hidup seperti manusia biasanya. Makan dan minum, tidur dan terbangun, belajar dan bekerja, dan masih banyak hal serupa jenis manusia biasa yang ia kerjakan. Termasuk mencintai orang lain misal.....

Gambar terkait
                                           Sumber: wordsonimages.com

    Kau tahu apa bedanya manusia biasa dengan manusia robot? yah, kemerdekaannya. Indonesia telah merdeka sejak 73 tahun yang lalu. Tapi manusia robot belum merasakan merdeka dengan hidupnya. Ketika seseorang merasa apa pun yang dia lakukan dikendalikan oleh manusia lain, maka di situlah ia berstatus sebagai manusia robot. Walau pun ada pernyataan bahwa perasaan, jiwa, hati seseorang tidak bisa dikendalikan oleh orang lain hanya diri kita sendiri yang mampu mengendalikannya sebenarnya tidak berlaku untuk manusia robot. Sederhananya begini, seperti cerita cinderella yang jatuh hati dengan anak raja. Mustahil bagi keduanya di alam nyata. Setidaknya, versi kehidupan manusia  robot. Anak raja harus menikah dengan anak raja. Begitu pun seorang putri cantik tidak boleh jatuh cinta pada pelayan rumahnya. Apakah kau mengerti yang aku maksud? ah aku sulit menggambarkannya. Semoga kamu paham yang aku maksud. 

    Ada banyak alasan, kenapa hidupnya seperti itu, semacam ada belenggu yang tidak bisa ia patahkan kecuali ada seseorang yang dengan sepenuh hati membawanya pergi agar belenggu itu hilang dengan sendirinya. Sebab, itu takdir dia sejak lahir. Bahkan ketika tadi aku mempersoalkan urusan perasaan, jatuh cinta itu kan soal hati. Kita tidak bisa memilih akan jatuh cinta pada siapa. Pada kondisi tertentu, belenggu itu semacam pengendali hidup agar tetap berada di jalan yang seharusnya, tapi urusan perasaan tidak bisa dipaksakan. Belenggu yang sebenarnya hanya ada dalam perasaan si manusia robot tapi orang lain tetap melihatnya seperti manusia biasa yang biasanya menyenangkan. 

    Kamu ingat dongeng Rapunzel yang disihir ibunya yang jahat dan membuatnya tertidur cukup lama? Dia hanya akan terbangun ketika ada seorang pangeran yang mencintainya dan menciumnya. Aku percaya dengan dongeng itu. Sebagaimana manusia robot, yang hanya akan menjadi dirinya sendiri, menemukan dirinya dan belenggu hidupnya akan hancur hanya ketika ada seseorang yang mencintainya setulus hati lalu membawanya pergi jiwa raganya ke tempat lain. Seseorang yang spesial, yang Tuhan takdirkan untuknya. Tapi aku juga tidak tahu, apakah beberapa jenis manusia robot macam ini akan ditakdirkan bertemu dan hidup dengan seseorang yang spesial macam itu? Spesial karena seperti dongeng Rapunzel, pangeran yang menciumnya tidak sembarang lelaki. Ia memang diutus Tuhan untuk membangunkan Rapunzel dari tidur panjangnya dan bertugas untuk membahagiakannya. 


    Ada juga seseorang yang mungkin takdirnya tidak akan berubah, tetap jadi manusia robot sepanjang hidupnya jika ia gagal menemukan seseorang yang tadi aku sebut spesial. Tapi menurutku, entah kapan suatu hari belenggu hidupnya akan hilang tanpa disadari walau pun tidak menemukan orang yang spesial. Yah, akan hilang hanya ketika dia pasrah segenap hati tentang seluruh hidupnya pada Tuhan yang Maha segalanya. Menerima takdirnya sebagai manusia robot sepanjang hidupnya. Yakin, bahwa apa pun yang terjadi itu memang skenario terbaik dari Tuhan. Lantas ia hanya mensyukuri dan menikmati hidupnya hari demi hari dengan hati yang gembira dan lapang dada. 


*Tertulis di Laboratorium Fisika Universitas Islam Indonesia

Eva Edelweis, Yogyakarta  5 April 2018


Selamat malam para kawan blogger.... lama banget rasanya tak menengok rumah blog satu ini. Ada banyak kesedihan, kebahagiaan terlupakan sebab kesibukan. Mungkin, aku sudah menemukan cara yang tepat mengatasi sedih berlebihan dengan cara menyibukkan diri tanpa lagi menuangkannya di sini. Tapi jangan khawatir, aku menulis banyak hal di sini bukan sebab aku terlalu sedih, namun ingin jadi teman tumbuh bagi kalian yang mungkin mengalami hal serupa dengan tulisan-tulisan di sini.  Yah walau pun semua tak tersampaikan dengan sempurna, tapi aku mencoba menyentuh setiap perasaan kalian yang sedang dilanda galau dan patah hati dengan cara yang sederhana, menuliskan banyak hal tentang isi hati perempuan, dan laki-laki yang kadang tak peka dengan keadaan. Cukup sudah aku basa-basi di sini... hahahahha aku hanya ingin berbagi satu hal pada kalian, yang mungkin berada di titik terakhir masa kuliah. 


     Aku bersyukur bisa melanjutkan studi di bidang yang kuminati, meski kampusku di luar negri (Swasta, maksud guee). Tidak masalah mau kuliah di mana pun itu tak terlalu berpengaruh pada kesuksesanmu di masa depan. Hal terpenting adalah ketekunanmu untuk belajar dan tidak pantang menyerah. Kamu menjadi berbeda bukan karena kampusmu yang terkenal, tapi sebab dirimu sendiri yang menjalani proses belajar di sana. Kamu mau menjadi apa, siapa, semuanya ada dalam genggamanmu, keputusanmu memilih yang tepat. Hal terpenting lagi yang tidak boleh kau lupakan, bahwa di mana pun kamu bisa belajar, tetap haus ilmu dimana pun dan kapan pun. 

     Saat aku kuliah, aku memilih untuk fokus kuliah tidak dengan organisasi-organisasi kampus yang butuh waktu cukup ekstra. Sebab, tanpa organisasi-organisasi itu pun rasanya 24 jam itu begitu singkat, hahahahha. Hanya organisasi dan kegiatan tertentu yang aktif kuikuti, bukan karena malas sebab aku tahu diri bagaimana aku kurang bisa memanage waktu dengan baik jika aktif di semua hal. Namun, aku tetap menikmati proses belajarku tanpa harus menyesali kenapa dulu tidak jadi aktifis kampus. 

   Beranjak di tahun kedua menuju tahun ketiga, aku merasakan masa belajar yang sangat menjenuhkan, bahkan  aku meminta orang tuaku untuk pindah jurusan saja pikirku waktu itu. Bapak dengan sangat tegas mengatakan "nak, nikmatilah masa belajarmu dengan penuh kenikmatan. Masa itu tidak akan terulang lagi, kalau kamu menyerah di sini maka penyesalan yang akan kamu dapatkan di waktu yang akan datang. Bapak membayangkan berada di posisimu, namun ingatlah pada komitmen bahwa setiap pilihan yang kamu pilih semua memiliki konsekuensi, begitu pula saat kamu dulu menyatakan keinginan kuat untuk kuliah seperti yang kamu inginkan  lalu kuijinkan kamu jauh dari jangkauan bapak ibumu, tapi bapak percaya kamu pun memiliki keinginan kuat untuk mencapai impianmu dan kamu akan berkomitmen menyelesaikan apa yang sudah kau mulai nak"....  sampai di situ saja, aku menangis malu di balik telpon. Aku benar-benar menangis sebab kalah dengan diriku sendiri. Aku berada di titik terendah, banyak hal yang kualami saat itu hingga tanpa sadar aku nyaris kehilangan kendali untuk tetap stay strong, percaya bahwa Allah mempermudah jalan hidupku. 

   Berada di tahun terakhir perkuliahan, aku melirik sekelilingku. Bukan hanya melirik, bahkan menelisik jauh ke depan apa yang kemungkinan terjadi di sana. Aku melirik teman yang berhasil lulus kuliah super cepat. Aku pun melirik teman yang beberapa kali sekelas denganku namun nyatanya dia angkatan 2 tahun di atasku. Aku melirik teman yang kuliah nyambi kerja tapi dia tetap berada di kalangan mahasiswa berprestasi, aku pun melirik teman yang kerjaannya nangkring sana sini ikut arus lingkungan mainnya. Ah, di situ aku berada di posisi sebagai mahasiswa yang pura-pura tuli ketika ditanya kapan lulus? aku bahkan tetap memberikan senyumku yang memikat pada siapa pun yang seringkali merecoki moodku berkali-kali. Lalu sampailah pada pertanyaan dosen pembimbing bertanya" Eva kapan berencana lulus?" lalu kujawab "saya masih ambil mata kuliah pak beberapa SKS karena kemarin saya jaga gawang di lokasi KKN takut ada sidak dadakan saat teman yang lain KRS an dan tutup teori. Saya juga mengulang mata kuliah yang bapak ajarkan di tahun kemarin karena saya ingin menyelesaikan riset saya semester depan dengan baik" Speechless. 

    Well, aku pun lulus nyaris 4 tahun. Walau saat itu aku kecewa tidak bisa ikut wisuda periode dua bulan sebelumnya. Ada satu titik temu yang kurenungkan di saat aku menyalahkan diriku sendiri yang terlalu malas untuk cepat menyelesaikan riset tugas akhir. Aku belum lulus karena aku belum siap lulus. Keyword yang ada di kepalaku. Kenapa begitu? mari simak baik-baik kegelisahanku di sini.

    Ada beberapa orang yang mengejar waktu demi lulus cepat tanpa lagi peduli apakah dia siap lulus atau tidak? kok pertanyaannya siap atau tidak? Sebab, di sinilah aku benar-benar merasa tidak menyesal karena lulus kuliah cukup lama dari teman yang lainnya. Kejar waktu, sebenarnya apa yng dikejar? Banyak banget orang-orang yang bingung mau apa dan bagaimana setelah lulus. Bukan sembarang asal dapat pekerjaan, comot.. oh no. Ketika kita berada di posisi sebagai pekerja maka kita akan mencurahkan waktu kita untuk pekerjaan itu. Jika tidak sesuai dengan passion kita, maka yang ada hanya lelah dan rasa jenuh yang semakin membuncah hari demi hari tanpa henti. Tapi jika kita beruntung berada di posisi yang tepat dari pekerjaan kita, maka pekerjaan pun akan menjadi hal yang menyenangkan. Di situlah kita harus benar-benar pandai memilih dengan tepat akan kau habiskan untuk pekerjaan macam apa waktu yang Tuhan berikan itu? 

     Ada juga yang lulus kuliah dengan cepat tapi tidak siap lulus, maka apa yang akan terjadi? Bingung. Sebab dari awal hanya mengejar waktu, tidak menikmati setiap proses belajar yang kita lakukan. Tapi aku juga tidak setuju dengan orang-orang yang memprioritaskan kuliah untuk kerja. Karena banyak kok titel sarjana pendidikan menjadi pebisnis, sarjana sastra tidak lantas jadi penyair. Lalu mereka menemukan suatu pekerjaan yang sesuai dengan passion mereka, dan menurutku itu jauh lebih menguntungkan dan luar biasa daripada seorang sarjana hukum lantas dipaksa oleh keadaan untuk menjadi seorang hakim padahal dalam jiwanya tumbuh sebagai seorang pujangga. Hahahahha hidup itu selucu ini yah, kawan..... maka nikmatilah setiap prosesnya. Wahai kamu adek-adek mahasiswa tahun terakhir, belajarlah dengan nikmat, dan nikmati setiap prosesnya. Tidak perlu lirik sana sini, sebab ketika kamu telah keluar dari dunia kampus dan kamu tidak siap menghadapi dunia berikutnya, maka kamu hanya akan menyesal karena kamu tidak mempersiapkan diri dengan matang sedangkan kamu sudah tidak bisa lagi kembali ke masa yang lalu.  Semoga kita sama-sama menemukan "hidup" yang lebih bermakna dari sekadar ingin mengejar hal-hal yang fana. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 2 Rajab 1439 H.






    Assalamualaikum...... Bertemu lagi denganku eva edelweis, gadis madura berhidung minimalis. Kali ini aku ingin share sedikit cerita tentang santri. Why about santri? karena aku seorang santri, dan kamu tidak usah protes. hahaha -_- 

    Sekitar dua tahun yang lalu, tahun 2015 pemerintah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional dalam rangka sebagai peringatan histori tentang peran santri yang luar biasa dalam menjaga keutuhan NKRI. Sementara aku, merayakan hari santri dengan cara menerbitkan sebuah tulisan sederhana ini di blog pribadi. 

    Terhitung 8 tahun sudah aku berstatus sebagai santri. Satu windu itu tidak cukup buat seseorang mengais ilmu di pesantren, karena apa? bahkan hingga hari ini pun aku menyesal kenapa tidak sejak balita saja aku dijebloskan ke pesantren. Loh kok bahasanya dijebloskan sih? Iya, karena pertama kali aku nyantri, aku terpaksa mondok karena keinginan orang tua. Aku benar-benar tidak betah tinggal di pesantren. Sejak hari pertama diserahkan ke pak kyai, orang tuaku tidak menjengukku atau sekadar menelpon ke pesantren untuk menanyakan kabarku, hingga liburan pun tiba. Hiks.... menyedihkan yah :(

    Menurutku, pesantren itu semacam rumah sakit yang menyembuhkan seseorang dari sakitnya. Terserah kamu setuju atau tidak, tapi ini kan hanya soal pengalaman. Aku yang dulu benar-benar sosok aku yang individualis, yang sama sekali tidak mengerti arti empati, tidak mengerti tentang bagaimana hidup bersama dengan orang-orang yang beda kepala beda isi. Awalnya sangat menyiksa, bahkan katakanlah aku sendiri merasa terkucilkan diantara 40 orang yang menghuni kamar di tempatku berada. Yah, kamu ga usah kaget ketika tadi aku menyebutkan angka 40 orang dalam sekamar. Maklum, ini pesantren bukan rumah pribadi apalagi hotel. Tetapi ternyata aku salah sangka, bukan aku yang dikucilkan tapi aku yang mengucilkan diriku sendiri diantara banyak orang. Aku yang tidak mengerti bagaimana membawa diriku sendiri untuk bergaul, bersosialisasi dengan orang lain. Aku menikmati duniaku sendiri tanpa menoleh ke arah orang-orang di sekitarku. Aku terlalu sibuk dengan pikiran "aku ini ga bisa bareng mereka, aku ini ga tahu caranya agar aku diterima di komunitas mereka, aku ini... bla bla bla... dan banyak pikiran negatif lain yang ada di kepalaku waktu itu. Padahal permasalahannya bukan ada di mereka tapi ada dalam diriku sendiri yang enggan membuka diri untuk mencoba sharing, saling curhat misal dan apa pun yang bisa dilakukan bersama orang lain. 

    Tiga tahun berlalu dengan cepat, bahkan dalam kurun waktu yang sebentar itu aku sudah rolling kamar sebanyak 4 kali. Hahahahha .... stress sih ketika mulai bersosialisasi lagi dengan orang-orang baru. Hanya saja Tuhan selalu mengirimiku orang-orang baik hati yang mau paham dengan karakterku yang seperti ini, hingga akhirnya aku bisa melewati situasi sulit semacam harus mengenali dengan baik orang-orang baru yang ada di sekitarku.  Tiga tahun yang cukup berarti buat diriku sendiri, karena di sini aku mengalami banyak hal yang membuatku hidup dan kehidupanku kebanting dengan cepat. Dibekali dengan banyak hal-hal sederhana yang akan membuatku survive hidup di mana pun bahkan dalam situasi sesulit apa pun. Hari ini, ketika aku menulis tulisan ini pun, aku sudah berubah menjadi pribadi yang berbeda. Aku sudah tidak canggung lagi menyapa dan berkenalan dengan orang-orang baru, aku sudah tidak gelisah lagi jika bersosialisasi dengan orang lain, dan aku pun sudah nyaman menjadi diriku yang hari ini, sangat berbeda dengan beberapa tahun silam.  Ini hanya sekilas cerita tentang kehidupan sosial di pesantren, belum lagi soal keilmuan dan pengetahuan yang didapatkan di sana. Bahkan hari ini aku benar-benar menyesal kenapa waktu usiaku masih 10 tahun aku menolak dimondokkan oleh orang tuaku, kenapa tidak kuiyakan saja waktu itu? pikirku sih agar bekalku yang kusadari sedikit akan membawaku melangkah lebih jauh dari pencapaian-pencapaian hari ini. 

    Hari ini pun aku masih berstatus santri di pesantren yang lain, bedanya adalah di pesantren ini aku bertemu dengan mereka yang menurutku sudah sangat mantap keilmuannya dalam beberapa hal sejak di pesantren mereka yang sebelumnya. Di situlah penyesalanku kenapa hanya sebentar saja aku "menelantarkan diri" di pesantren yang dulu. Aku bahkan merasa beruntung hidup di pesantrenku yang sekarang, karena berkat pesantren keluargaku lapang dada melepaskan anak gadisnya jauh dari jangkauannya. Apalagi waktu aku akan berangkat ke Jogja, ibuku sempat bilang mengenai berita tentang Jogja bahwa 95% mahasiswa Jogja tidak perawan. Wah, betapa mengerikannya dan aku tidak tahu persis bagaimana perasaan ibu waktu itu. Kita pasti tahu, bagaimana ketar-ketirnya hati orang tua yang memiliki anak gadis yang merantau jauh dari dirinya. Ketahuilah bahwa menjaga anak perempuan lebih sulit tanggung jawabnya daripada menjaga ratusan kilo emas aman dari penjarah. Mengingat itu semua, aku bersyukur dengan hidupku hari ini yang tanpa terasa sudah 5 tahun aku nyantri dan jauh dari orang tua. Aku benar-benar bersyukur, ayah dan ibuku masih ridla dan berdoa untuk diriku di sini karena kepasrahan hati mereka menyerahkan diri pada Tuhan dan juga pesantren yang akan menjagakanku dengan selamat dunia akhirat, in sya allah....

    Tepat hari santri satu tahun yang lalu, 22 Oktober 2016 aku menghadiahi keluarga dengan hari kelulusanku sebagai hadiah spesial untuk bapak dan ibu yang juga alumni pesantren. Entah sudah keberapa kalinya ibuk selalu menghubungiku dengan peryataan yang sangat kuhapal "Eva, aku ingin ke Jogja.. melihat keindahan budaya Jogja. Aku ingin tahu seperti apa wajah pesantrenmu yang selalu kau ceritakan saat liburan, aku juga ingin mengenal teman-temanmu Va... Kapan kau akan wisuda?" ah, kini pertanyaan itu sudah menjadi kenangan manis antara aku, keluarga, dan pesantrenku. 

    Oke, sampai di sini dulu tulisan ga jelas sore ini... Satu hal sebagai penutup, nikmatilah hidupmu kawan-kawan santri sekalian.. Eksplorasilah apa pun yang ingin kamu tahu, semuanya akan bermanfaat untuk hidupmu di masa yang akan datang dimana potensi dan sosok seorang santri lah yang akan dicari-cari masyarakat nanti. Jangan sampai ceritamu seperti aku, menyesal karena nyantri hanya sebentar.... hehehe
Terimakasih tak terhingga untuk Annuqayah dan pondok pesantren UII Yogyakarta.... 
Salam Santri 


Catatan Eva Edelweis, Yogyakarta 22 Oktober 2017  


    Selamat pagi para pembaca blog sarang laba-laba.... sudah lama rasanya kita tak berjumpa lagi di rumah ini. Nyaris dua bulan mandek tidak pernah mengunjungi blog ini. Sepagian ini aku tidak ingin menuliskan hal-hal yang terasa berat dibaca hanya sharing hal sederhana semacam bullyng.

    Aku yakin semua orang tidak mau jadi korban bullyng, tapi kenapa ada banyak orang membully orang lain dengan senang? Sebenarnya, tiba-tiba nulis ini karena baper dari semalam mewek sendiri kehilangan teman dekat dan entah apa yang terjadi, aku ingin banget nulis unek-unek yang ada di kepala ini. Aku punya banyak  teman yang terbagi dari beberapa komunitas, atau sebuah keluarga kecil. Salah satunya adalah keluarga kecil di pesantren. Aku ga tau yah kenapa aku menjadi manusia yang cuek luar biasa, males banget berkumpul dengan kawan yang di pesantren.. Padahal mulai dari aku buka mata di pagi hari sampai terpejam di malam hari pun yang intens berkomunikasi tentu saja dengan kawan pesantren. Namun aneh rasanya bagiku mendadak jadi seseorang yang super introvert, jarang banget mau main ke teman kamar sebelah kecuali ada moment-moment tertentu seperti merayakan hari kelahiran mereka, makan malam bersama di luar, rencana ke kondangan luar kota, atau hal-hal yang sekiranya membuat kami tidak cukup berbicara di grup line dan mengharuskan tatap muka. Selain dari itu, aku lebih memilih sendiri di kamar dengan aktivitasku sendiri. Oke barangkali ini terlihat sangat aneh untuk aktivitas santri semacam aku yang seharusnya banyak bersosialisasi dengan mereka. Aku nyaman dengan duniaku, dengan banyak hal yang kulakukan sendiri, bahkan kupikir seharusnya aku menjadi anak kotsan dibandingkan tinggal di pesantren. 

    Cerita itu terjadi di pesantren. Bagaimana dengan komunitas lain? contohnya saja deh, di Taekwondo (tkd) dan kimia. Anak-anak taekwondo mayoritas agak absurd macam aku sih hahahha. Yang cowok itu hombreng, yang cewek pun cewek KW. lah kok gitu? ah sudahlah aku tak akan membicarakan hal itu di sini.... aku hanya menyoroti cara mereka memperlakukan seseorang dan bagaimana perasaanku ada di sana. Ketika lagi bareng mereka, diriku yang introvert di pesantren menjadi orang yang humble dengan siapa pun, bahkan aku dengan senang hati membantu mereka anak yang baru masuk untuk belajar sedikit gerakan-gerakan yang benar dilakukan. Bahkan dengan senior pun aku  juga begitu, menjadi seseorang yang sangat asyik diajak bicara seperti aku menemukan diriku yang sebenarnya, tanpa pencitraan, dan aku benar-benar menjadi aku, karena mereka membuatku merasa nyaman untuk tidak jadi orang lain. 

    Begitu pun ketika aku berkumpul dengan anak-anak kimia. Aku menjadi seseorang yang sering heboh sendiri, pemecah suasana, dan menjadi orang yang asyik pun dengan mereka, sama seperti yang aku rasakan saat bareng anak tkd. 

    Lalu kenapa dengan pesantren? apakah ada sesuatu yang buruk di sana? ku kira tidak... lalu kenapa kamu berprilaku seolah punya kepribadian ganda? jawabannya cuma satu, tergantung situasi dan perasaan nyaman yang ditimbulkan oleh komunitas tersebut. 

    Aku ingin banget sih sebenarnya membela diri ketika ada yang mengusikku dengan pertanyaan-pertanyaan "eh, eva kok ga pernah mau gabung sih? kok kamu cuek banget gitu? kayak ga mau kenal..." kujawab mereka dengan senyuman. oke, aku ingin menjawabnya di sini....

    Bullyng. Itulah jawabnnya.... jadi tulisan banyak yang kutulis di atas hanyalah pengantar saja hahahha. inilah inti permasalahannya....Aku ga terlalu sering ikut nimbrung dengan kawan pesantren, karena bullyng. Dimana pun kapan pun kita berkumpul selalu saja ada pembullyan di situ. Entah itu korbannya aku, atau orang lain... tapi aku sangat tidak suka. Mungkin bagi mereka itu asyik, bisa membuat suasana pecah dan ketawa bersama. Hei.... apakah untuk membuat kita tertawa harus mengorbankan perasaan yang lainnya? Misal nih, aku yang dibully ... terus aku balik bully dia, eh dianya marah-marah, cemberut, minta pembelaan dari teman yang lain terus nyari kesalahan gue untuk bully balik. Nah loh? gitu kan.... kamu saja ga suka dibully, kenapa kamu membully orang? itu pertanyaanku yang selama ini tertimbun di kepala. Ketika ada yang dibully, aku hanya ikut tertawa saja jika ada hal-hal lucu tapi sama sekali tidak mau ikut membully orang. Karena aku tahu, walaupun itu seru-seruan, bikin kita jadi ketawa, ada orang yang disakiti. Emang ga ada bully secara fisik, tapi lebih ke kata-kata yang sedikit nyess di hati, dan menurut aku itu lebih menyakitkan dibandingkan ada yang melukai fisik. Awalnya seru-seruaan tapi ujung-ujungnya yang dibully jadi ngambek, kasih pembelaan sendiri, minta pembelaan teman kalau dia punya sekutu, kalau nggak.... dia bakalan balik nyari kesalahan yang bully. Kan, seru-seruan apaan itu? 

    Seseorang bisa kok jadi asyik tanpa harus mengeluarkan joke-joke yang menyeret pada pembullyan. Salah satunya adalah temanku yang satu ini... gadis kelahiran Cilegon yang berulang tahun kemarin... dia salah satu temanku yang paling asyik, dengan ciri khasnya dia yang kadang absurd.... berteman dengan dia, suasana tetap asyik meski ga ada pembullyan. Mungkin di antara sekian banyak orang yang suka banget bully membully orang, dia jarang bahkan tidak pernah membully. Sama kayak aku, hanya numpang ketawa saja ketika ada yang dibully dan dibarengi dengan bercerita hal-hal yang lucu tapi menarik untuk diceritakan ulang, tentu saja tentang keseharian kami bukan ghibahin orang. Oke, Happy birth day Adhe Nur Tsani Oktavia...

    Aku sih orangnya, kalau sudah tidak nyaman ya udah lebih baik meminimalisir dibandingkan ikutan nimbrung tapi kadang ada rasa sakit hati sendiri. Jadi daripada aku baper sendiri, kadang juga sakit hati, mending aku dikatakan cuek ga mau bersosialisasi dengan orang lain, ga asyik, dan dibilang pribadi yang introvert tapi aku nyaman dengan hidupku. Aku merasa tentram meski sendiri. Aku merasa menemukan inilah diriku yang sebenarnya, aku tidak perlu pura-pura merasa baik-baik saja dan happy dengan hal yang kurang menyenangkan. It's my choice.  Oke fine, jika ada yang menanggapi "kok kamu ga asyik banget sih orangnya? itu kan biasa namanya juga teman saling ece gitu... kok kamu baperan? tanggepin dengan santai lah.. ga usah merasa sakit hati.. gitu saja kesel terus merasa ingin ditulis di blog pribadi..." oke mungkin kalau ada yang baca ini, bakalan ada yang berkomentar seperti itu. Tapi kuakui sih, aku baperan banget orangnya.. menurut aku, bagaimana pun bentuk pembullyan itu, meski hanya lewat joke, tetap saja itu bullyng dan kita tidak berhak melukai hati siapa pun meski hanya becanda. Well, untuk menghidupkan suasana, membuat orang tertawa, mengeratkan persahabatan, ada banyak sekali cara tanpa harus bully. Yah aku tahu sih, ada yang bilang sahabat itu adalah orang yang kadang dengan seenaknya ngatain kamu doggy atau piggy dengan muka santai bahkan kayak nama kesayangan. Hanya saja, sahabat versi aku tak seperti itu. Aku sama sekali ga ingin manggil orang yang kusayangi sebagai sahabat dengan panggilan doggy misal.... nggak banget. Meskipun anak jaman now, menganggapnya hal lumrah dilakukan. 
  
    Oke itu saja dulu sampah di kepala yang ingin kubuang, jika kamu tidak suka atau ingin memberiku saran bagaimana hidup yang lebih asyik dari sendirian dengan menjadi manusia yang introvert, kamu boleh komentari tulisan ini. Keasyikan nulis, aku jadi lupa mau berangkat kerja... see you next time.

Catatan Edelweis, Yogyakarta 11 Oktober 2017. Lantai 4 asrama UII

Surat ini kutulis untuk diriku di masa depan.
Va, esok ketika tiada seseorang lagi yang mendengar suaramu, peduli denganmu maka ingatlah bahwa di masa-masa mudamu suaramu lebih banyak bungkam oleh keadaan. Suaramu lebih terdengar semacam jeritan-jeritan kecil yang selalu kau perdengarkan di depan TuhanMu. Yah, ingatlah bahwa kau masih memiliki Tuhan yang selalu mendengar suara-suara hati yang tidak kau ucapkan pada yang lain

Va, kamu tak perlu menangis lagi di pojokan kamar saat pikiranmu bejibun penuh dengan beban dan masalah. Bukankah kau telah akrab dengan itu semua? Bukankah kau selalu berbisik pada dirimu sendiri untuk tidak menjadi seseorang berjiwa lemah, bermental lemah... Kamu selalu cerewet bicara dengan dirimu sendiri bahwa kau sejenis gadis yang sangat kuat, yang selalu bilang "aku baik-baik saja Tuhan"  bukankah begitu Va? maka tolong bacalah surat ini kembali jika 10 tahun- 30 tahun yang akan datang ada banyak terpaan masalah mengganggu urat nadimu, menahan helaan napasmu, ingatlah bahwa kau telah lebih dulu terlatih menghadapi semuanya sendiri. 

Va, ketika orang-orang terdekatmu meninggalkanmu janganlah kau patah hati terlalu dalam apalagi sampai berniat bunuh diri. Ingat kembali Va, di usiamu saat ini, saat kau menuliskan tulisan ini kau telah mengalami banyak kehilangan yang lebih parah dari hanya kehilangan kekasih hati. Kau telah sering mengalami patah hati kesekian kalinya, maka tetaplah berdiri tegak menatap kedepan, bahwa orang-orang yang menyayangimu dengan tulus akan punya seribu alasan untuk tetap tinggal di sisimu meski ada satu alasan kuat untuk pergi meninggalkanmu.

Va, kau percaya kan Tuhan itu tak pernah dzalim dengan hambanya ? Yah, percayalah selama kau berjalan di jalanNya, di jalan yang diridlaiNya, tak perlu resah dengan orang lain yang mungkin telah lama memendam rasa benci terlalu dalam melihatmu bahagia. segalanya akan terjadi secara bergantian, dan tetaplah memiliki hati yang anggun yang tidak mudah mendendam pada siapa pun. 

Surat ini hanya sekadar surat untuk diri sendiri di masa 10-30 tahun yang akan datang. Ketika kau mengalami masa-masa paling sulit yang kesekian kalinya, bacalah kembali tulisan-tulisan ini hingga tuntas. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 22 Ramadhan 1438 H
 Selamat malam para tamu blog pribadiku... semoga kamu selalu bahagia seperti aku ^_^
    Ide tulisan ini sebenarnya sudah terlalu lama menghuni pikiranku namun sekali lagi rasa malas itu menggelayut tanpa ampun, padahal hampir setiap hari aku berada di depan layar komputer. Lalu inspirasi ini muncul kembali mendesak untuk segera dituliskan sebelum semuanya kadaluarsa, seperti cintaku untuknya hahahahah... 
    Pertama kali kamu membaca judul di atas, apa yang kamu pikirkan? seseorang yang berkepala botak? seseorang yang berotak sejenius einsten? atau seseorang yang ahli dalam segala hal? oh tidaaaaak... aku tidak akan membicarakan itu semua. hahahhaa. Profesor menurut KBBI adalah seseorang yang memiliki pangkat dosen  tertinggi di perguruan tinggi. Namun aku menyebut (nya) profesor karena ternyata dia sudah cukup berbakat lah di bidangnya, kalau aku mah apa atuh bang cuma butiran debu kalau dibandingin dengan dia. hiks hiks.
    Sebut saja namanya Dias. Kupikir aku benar-benar mengenali sosok seorang Dias, namun ternyata aku salah besar dan itu sangat memalukan saat aku mulai sok tahu tentang orang lain. Dias bilang dia sedang mengalami beberapa persoalan dimana dia sebenarnya menurutku lebih butuh teman curhat daripada solusiku yang terlihat sangat menyebalkan. Dias ini salah satu teman yang sama-sama memiliki hobby menulis diary. Oh yah, tentu saja bukan cuma cewek dong yang suka ngediary cowok pun juga ternyata hobby curhat lewat diary. Saat dia bercerita tentang beberapa hal aku mengatakan sesuatu  "yas, cobalah kau menulis di media yang berbayar jangan hanya nulis diary kayak aku" ucapku waktu itu. "Yah Va, akan kucoba, makasih sarannya" dan komunikasi kami selesai sampai di situ. Lalu suatu hari aku menemukan suatu tulisan jenis kolom di sebuah koran elektronik yang cukup menarik untuk kutuntaskan jadi sarapan pagi. Seketika rasanya mataku berhenti berkedip untuk beberapa saat, tidak hanya itu saja bahkan aku membaca tulisan itu berulang-ulang sampai aku benar-benar hapal isi dari tulisan itu. Nama penulisnya adalah Dias Al-Faraby anak Solo. Aku mengucek mata berkali-kali untuk memastikan bahwa nama itu hanyalah milik sahabatku yang satu itu bukan orang lain. Oh yah, foto yang ditampilkan memang foto dia. Berarti benar kalau itu memang tulisan Dias sahabatku. Kukunjungi mbah yang paling pinter mbah google untuk search namanya lagi, kutemukan beberapa jenis tulisan yang sama dengan judul yang berbeda atas nama penulis yang sama. Sahabatku penulis media massa bukan hanya penulis diary macam aku. Rasanya aku malu sekali waktu itu sok ngasih solusi, dan itu murni aku hanya ingin menyemangatinya saja. Bagaimana mungkin anak petakilan macam aku yang hanya hobby ngediary, ngeblog sok sok an menasihati seorang penulis untuk menulis. Hahahahaha. Parah banget kan yah? makanya sekali lagi, kalau ada orang yang curhat padaku aku nggak berani ngasih solusi apalagi sok bijak bilang ini itu takut kejadian yang sama terjadi lagi. Sungguh memalukan. Namun mungkin sahabatku itu masih jaga muru'ahku sebagai temannya maka diapun mengiyakan apa yang kukatakan. Terimakasih bro... oh nggak terimakasih prof. Yah, karena ternyata kamu pantas untuk kusebut kau sebagai profesor (dalam hal kepenulisan). Maaf dengan lancang sekali aku berlaku sok tahu tentang apa yang orang lain butuhkan, inginkan padahal aku yakin waktu itu kamu hanya perlu telinga untuk mendengarkan segala keluhmu, butuh mulut untuk mendoakan kelancaran usahamu tidak untuk diberi solusi yang kupikir solusinya menyebalkan sekali untukmu. -_- 
    Terakhir, aku berpesan untuk kamu yang membaca tulisan ini, janganlah kamu selalu merasa tahu tentang segala sesuatu, merasa memahami orang lain sepenuhnya apalagi merasa dirimu lebih baik dari orang lain. Cukuplah menjadi pribadi yang rendah hati, dan selalu merasa tidak tahu apa-apa agar kamu mau belajar dari orang lain. Kelihatan tidak tau apa-apa sungguh lebih baik dibandingkan kamu tidak tahu sesuatu namun sok tahu. Udah itu saja yang ingin kutulis di sini, sebagai tulisan tanda liburan telah berakhir.. huuuu huuuuu :'(

Eva Edelweis, Yogyakarta 24 April 2017
Salam Kartini untuk semua wanita ^_^
    Inspirasiku kali ini berasal dari seorang gadis kecil yang baru semalam aku kenal. "Namaku Mia" begitulah suara yang kudengar dari seberang saat kutanya namanya. Kami berkenalan hanya melalui via telpon, dan itu pun hanya beberapa menit saja kami ngobrol karena jaringan telkomsel yang sedang tidak bersahabat dengan kami. Semalam, badanku meriang dan masih bersembunyi dalam selimut lalu Mia menawarkan diri untuk mendongengiku sebelum aku tidur. Cara bercerita yang ekspresif, serius, menampakkan bahwa gadis kecil itu bukan gadis desa biasa tapi cukup cerdas untuk anak seumuran dia. Pertanyaan pertama saat dia memulai obrolan cukup membuatku speechless dan baper malam-malam. Bagaimana tidak, anak itu dengan entengnya nanya "kak, udah punya pacar belum? udah nikah belum ?" spontan saja aku menggeleng, dan mengatakan nggak. "bohong" katanya. Lalu akhirnya kami tertawa... Jujur saja aku kaget dengan pertanyaannya. Bagaimana anak seusia adekku itu sudah mempertanyakan tentang hal yang cukup serius semacam pernikahan?
                                          Mia, gadis berkacamata bersama teman-temannya 

    Anak ini sungguh penuh kejutan, belum selesai aku tertawa dengan omongannya, tiba-tiba dia nanya "kak, mondok itu enak ga?" "ada enaknya kadang juga nggak, sayang... " Lantas, dia memintaku bershalawat untuknya. Ah sampai di situ saja aku dibuatnya malu, karena aku yang dulu suka shalawatan pun harus mengakui kalau shalawatan macam di  album anak Langitan, aku sudah banyak lupa teks shalawatnya hingga akhirnya dia shalawat dengan dua jenis shalawat yang berbeda. Salah satu judul shalawatnya "Habibi yaa Muhammad" saat kutanya siapa yang mengajarinya? dengan lantang dia menyebutkan salah satu nama seseorang yang kukenal begitu akrab yang kini sedang mengabdi menjadi pengajar muda di Muara Enim.
    Jawaban demi jawaban dari pertanyaanku terjawab setelah aku ngobrol sebentar dengan temanku (sang tuan guru). Pantas saja dia menanyakan apakah aku menikah atau masih lajang, karena ternyata di kampungnya gadis-gadis seusia anak SMP biasanya nikah dini. Sebenarnya ini bukan hal baru bagiku, karena di tulisanku yang sebelumnya pernah kutuliskan tentang pernikahan dini di kampungku. Hal yang bikin kaget hanyalah karena pertanyaan itu muncul dari seorang anak kecil berusia 8 tahun an. Tidak hanya itu saja, anak itu terobsesi dengan anak pondok. Mungkin dia mulai kagum dengan tuan guru yang sebenarnya anak pondok yang multi talent mengajarinya banyak hal, termasuk mengajarinya banyak jenis shalawat. Tapi sayangnya gadis itu mungkin kecewa saat aku bilang, aku lupa dengan teks shalawat yang dia minta bacain :(
    Barangkali sedikit cerita di atas, tidak terlalu penting untuk kau baca. Namun, entah terlalu lebay atau gimana aku masih belum move on jatuh hati dengannya, yang katanya bercita-cita ingin jadi seorang detektif. Semoga cita-citamu tercapai sayang... boleh kamu tinggal di desa terpencil, namun tetaplah berjuang meraih segala impian. Tidak ada bedanya antara anak desa dan anak kota dalam hal bermimpi dan belajar. Senanglah dalam belajar, karena jika kau senang belajar maka kau akan dengan mudah mendapat banyak beasiswa untuk belajar sepuasmu sambil lalu kau akan mulai mengerti tentang realitas hidup yang terkadang bikin kita mual dengan segala permasalahannya.  Belajarlah dengan senang, tekun, dan jadilah Kartini untuk orang-orang sekitarmu lalu kau wujudkan cita-citamu. Tadi pagi, hujan membasahi seluruh sudut kota Jogja. Saat itu yang kupikirkan adalah bagaimana doaku dari sini disambut Tuhan untuk membersamai seluruh mimpimu. Hari ini katanya kamu sedang ikut sekolah petualang di Jakarta, dan mungkin ini kali pertama menatap dengan pandangan paling jujur tentang suasana ibu kota. Bersenang-senanglah di sana, semoga pengalaman di sana membuatmu candu untuk terus belajar dan mencari lebih banyak lagi pengalaman... Terimakasih telah menyapaku sayang, sejenak aku menatap masa-masa yang telah kulewati tanpa adanya sebuah perubahan, hanya diam di tempat saja dan hari ini sapaanmu membuatku tersadar untuk terbangun dari tidur panjangku. Membuatku menyadari bahwa aku juga sama sepertimu punya banyak mimpi yang sempat terhenti dan ingin segera kuwujudkan. Oh yah, tuan guru bilang kamu excited dengan perempuan yang bisa sekolah tinggi..... semoga suatu hari kamu bisa melangkahkan kakimu kesini, ke kota budaya, kota pelajar dan kau juga menjadi salah satu dari mereka yang diberikan kesempatan belajar gratis di sini ^_^
    Terakhir, untuk tuan guru terimakasih telah mengenalkanku padanya. Aku senang sekali saat kau memberiku kesempatan untuk bercakap meski hanya sebentar saja... semoga besok, kami punya kesempatan lagi untuk berbagi cerita yang lebih seru dari sekedar dongeng anak-anak yang dimarahi ibunya.... Salam cinta dari tanah Jogja untuk kalian, tuan guru beserta siswa-siswa hebatnya. 


Eva Edelweis,  Yogyakarta 21 April 2017

    





#Tantangan 10 Hari Menulis Bersama Kampus Fiksi
Assalamualaikum para pengunjung rumah laba-laba... mohon maaf tulisan ini telat posting karena kondisi kesehatan yang kurang baik. Kali ini aku mencoba mengingat kembali kira-kira apa yang pernah diremehkan orang lain namun bagiku merupakan suatu kebanggaan tersendiri, sesuai tema yang diminta oleh kampus fiksi yukk luangkan waktu sebentar saja...

        Eva, begitulah ibuku memanggil namaku. 21 Tahun yang lalu, aku dilahirkan ke dunia oleh seorang ibu yang luar biasa. Dibesarkan di lingkungan yang boleh dibilang mayoritas masyarakatnya lulusan MI-Mts. Namun, kabar bahagia untuk seorang eva adalah eva terlahir dalam keluarga yang mengutamakan pendidikan, baik itu pendidikan di pesantren atau di sekolah umum. Tulisan ini kumuat di blog pribadi bukan semata-mata niat menyombongkan diri apalagi merendahkan orang lain. Tidak sama sekali. Namun, hanya sebatas kenangan terindah sepanjang hidup.

      Masa kecilku begitu menyenangkan, aku benar-benar menikmati masa-masa kenakalan yang luar biasa. Yah, jangan dikira aku itu anak penurut, cantik, anggun atau semacamnya. Eva kecil yang nakal, menyebalkan itu kawannya bukan anak perempuan, tapi laki-laki. Mainannya bukan boneka, tapi bedil. Makanya ikutan nakal. hahahha. Orang-orang tak menyukaiku karena aku yang nakal pada teman-teman perempuanku. Namun, eva yang nakal ternyata telah memasuki usia remaja. Tibalah aku di pesantren, mungkin biar aku segera tobat dari kenakalanku. Tanpa terasa, masa-masa tersulit di pesantren telah kulalui, saatnya aku melanjutkan studi. Aku menyukai kimia sejak kelas pertama SMA, kuniatkan bulat-bulat untuk suatu saat aku belajar kimia lebih dalam lagi. Bagaimana reaksi keluargaku? woooaah sempat putus asa karena mereka tak mengijinkanku keluar dari pesantren. Namun, inilah takdir Allah yang lebih kuasa dari apapun, hari ini tulisan ini ditulis oleh mantan anak nakal lulusan kimia. hahahha. 

     Inti ceritanya begini, aku mampu menaklukkan hati orang tua untuk meyakini betul bahwa aku bulat dalam keputusanku untuk menekuni kimia. Ketika aku pulang kampung tahun pertama, orang-orang mulai menunjukkan rasa ketidak sukaannya padaku yang katanya nyeleneh kuliah bidang itu. Mereka mulai mempertanyakan apa yang kupelajari, apa manfaatnya buat masyarakat, akan kemanakah aku ketika lulus, meremehkan aku yang nakal tidak bisa apa-apa hanya membuang-buang duit orang tua saja, sampai ada kata-kata yang begitu menyebalkan, yang tak pantas aku tulis di sini. Namun, tetesan air mata itu terhapus oleh semangat ayahku yang tak henti ia suntikkan. Ayahku selalu berpesan bahwa aku belajar ke tanah rantau bukan untuk menjadi apa-apa, bukan untuk menjadi siapa-siapa, namun untuk belajar dengan baik dan tekun. Untuk suatu saat, segala pelajaran yang pernah aku dapat entah itu di bangku kuliah atau dalam kehidupan sehari-hari, akan menjadi manfaat untuk diriku sendiri dan orang lain, kelak ketika aku terjun dalam masyarakat. Cukuplah aku menjadi anak gadis ayah yang baik, yang tak lupa pada jati dirinya seorang santri, dimanapun ia berada.  Jangan sampai mengecewakan dan mencoreng nama baik keluarga dengan hal-hal yang diluar batas perilaku seorang santri. Ayahkupun tak menuntut aku menjadi seorang pelajar yang harus memiliki nilai IPK yang melangit, namun ayahku kesal jika aku malas-malasan belajar. Pesan ayah selalu kuingat baik-baik, bahwa aku tak perlu peduli dengan omongan orang lain cukup rajin "belajar" saja.

         Memasuki tahun kedua, barulah harapan itu terjawab. Anak gadis ayah membawa kabar gembira, karena baru saja ia dinyatakan sebagai penerima beasiswa Dikti dan Pesantren. Kejutan ini sebagai jawaban untuk mereka yang meragukanku, meremehkan seorang santri yang nyeleneh belajar "mau merakit bom" katanya, mengabaikan aku yang hanya punya modal  "Tekad bulat" tanpa punya modal yang lain. Tahun kedua, entah hadiah semacam apalagi yang Allah tunjukkan pada ayah, bahwa anaknya yang dulu nakal telah benar-benar tobat dari kenakalannya. Ayah mulai percaya padaku bahwa aku bisa bertanggung jawab atas pilihanku, karena ternyata kimia tak serumit jalan cintamu mas broh... hahahhaha. Meskipun rumit, aku melunasi janjiku pada ayah untuk belajar dengan baik. Pulang kampung, aku tak lagi malu untuk bertemu dengan orang-orang yang dulu mengenyekku, aku tak lagi kaku berbicara dengan mereka yang pernah mengataiku ngabis-ngabisin duit orang tua, padahal mending belajar agama daripada kimia. Ah, apa yang kualami tak sesederhana tulisan ini. Pernah stres kalau pulang kampung, karena takut jadi bahan omongan orang. Namun, belajar dari sebuah pengalaman yang cukup menegangkan untuk anak pertama sepertiku, aku sudah mencoba membuktikan pada ayah bahwa ayah tak perlu khawatir melepas anak gadisnya ke tanah rantau, takut melakukan hal-hal yang bisa saja mengecewakan dan memalukan keluarga. Aku mencoba membuktikan pada ayah, bahwa aku bukan lagi anak gadisnya yang nakal dan menyebalkan tapi, aku sudah tumbuh menjadi remaja yang siap bertanggung jawab atas segala keputusan hidup yang aku pilih di masa depan. 

    Sekali lagi kutuliskan bahwa aku tak berniat menyombongkan diri, tapi hanya sebatas jejak hidup bahwa aku pernah berhasil memperjuangkan sesuatu meski cukup sederhana. Aku termasuk dari gadis yang beruntung, diberi kesempatan belajar sesuai minat hingga di bangku kuliah dibandingkan dengan gadis-gadis lain didesaku. Tidak hanya itu saja, aku berterimakasih untuk UII dan Dikti telah menggratisin aku kuliah, hihihi... semoga aku bisa lanjut kuliah dengan gratis lagi yah.. :). Aku masih ingat bagimana dulu saat interview tentang motivasiku belajar kimia jauh-jauh dari pulau garam. Karena jawabanku masih sama, aku ingin desaku yang pernah tertinggal, terlahir dari sana generasi-generasi cerdas untuk menjadikan pulau garam minimal hampir menyerupai jogja, sebagai kota pendidikan. Tidak akan ada lagi dikotomi antar ilmu, tidak akan ada lagi perempuan yang diremehkan karena nekat "nyeleneh", tidak akan ada lagi ceritanya pendidikan tinggi hanyalah milik mereka berjenis lelaki. Semua bidang ilmu pengetahuan memiliki muara yang berbeda dan punya jatah untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya tanpa pandang ilmu agama atau bukan.


Eva Edelweis, Yogyakarta 25 Januari 2017
#Tantangan 10 Hari Menulis Bersama Kampus Fiksi

     Berbicara tentang film, sebenarnya aku bukan gadis yang suka nonton. Aku meluangkan waktu untuk nonton hanya ketika libur panjang pulang kampung dengan bekal film yang cukup banyak hasil copyan dari teman. Nonton di bioskop pun tidak sering, cuma sesekali saja, kalau ada duit berlebih. hahahha. Tapi meskipun jarang nonton, aku ini suka sekali dengan film-film Bollywood bahkan sejak aku masih berusia 7 tahunan. Namun bukan berarti aku tidak tertarik dengan film jenis lain semisal film Indonesia, Thailand, dan Hollywood. Banyak sekali film-film yang kusuka, dari berbagai genre mulai dari romance, action, dan yang lainnya. Tapi kali ini cukup beberapa judul film saja yang bakal kutulis di sini. Lain kali jika punya ide, aku akan menuliskannya di lain waktu untuk sekedar review film. 

Tiga film apa yang paling berkesan? 

      Pertama, film "I'm not stupid" sebuah film Singapura yang rilis pada tahun 2006, yang disutradarai oleh Jack Neo. Film ini merupakan sebuah film satir tentang kehidupan 3 pemuda yang sama-sama memiliki hubungan buruk dengan keluarganya. Kenapa film ini termasuk dari kategori film yang mengesankan? karena akupun pernah mengalaminya. Sebagai seorang anak, aku belajar bagaimana seharusnya aku mengkomunikasikan sesuatu dengan orang tuaku sendiri, pun sebagai anak aku belajar untuk memahami segala sesuatu yang terkadang keinginan kita tidak sepaket dengan keinginan orang tua. Untuk orang tua, di sini digambarkan dengan sangat jelas bahwa mereka itu tidak seharusnya egois dengan kehendak mereka sendiri, sebagai orang tua seharusnya memahami talenta dan minat yang ada pada anaknya bukan hanya sekedar melulu menuntut untuk mengikuti kehendak mereka apalagi memaksakan sesuatu yang bukan passionnya. Bahkan, seharusnyalah orang tua itu mensupport anaknya sendiri untuk berkembang lebih baik sesuai dengan talenta yang ia miliki. Jadi, seseorang itu dikatakan pinter bukan hanya karena dia jago matematika, fisika, namun seorang blogger seperti Tom Yeo pun termasuk dari orang yang pinter. Film ini cukup menarik bagiku karena sang produser benar-benar menyajikan secara apik sehingga pesan yang ingin dia sampaikan pada penonton benar-benar mengena dan nyangkut dalam perasaan, filmnyapun tidak monoton karena ada beberapa adegan tertentu yang cukup kocak sebagai penyegarnya. 

      Kedua, film "Three Idiots" sebuah film bollywood yang disutradarai oleh Vidhu Vinod Chopra, yang mana jalan ceritanya ditulis oleh Rajkumar Hirani. Sebuah film yang ditulis sebagai sebuah kritik keras untuk dunia pendidikan. Film ini termasuk film yang cukup mengesankan karena terkesan pada karakter seorang tokoh utama bernama Ranchoddas yang begitu istimewa. Film yang mengisahkan tentang kehidupan dunia perkuliahan yang cukup mengasyikkan, jika kita mampu menikmatinya dan menjalaninya seperti seorang Ranchoddas yang luar biasa cerdas dan mengagumkan. Akupun pernah membayangkan kehidupan nyata untuk berperan sebagai Rancho, seorang mahasiswa yang berotak cerdas, kritis terhadap beberapa kebijakan yang ditetapkan di kampusnya. Tidak hanya itu saja, seorang Rancho menyadarkan kita bahwa sebuah institusi pendidikan semacam universitas bukanlah tempat untuk mendapatkan nilai ipk yang bagus, lulus dengan nilai sempurna, namun lebih dari itu semua. Universitas tempat mahasiswa untuk belajar secara serius, menggali sebanyak-banyaknya ilmu untuk kemudian dipraktekkan dan dimanfaatkan suatu hari nanti saat mereka kembali ke kampung halamannya masing-masing. Kita bisa sukses jika kita benar-benar serius mendalami bidang yang kita minati, bukan hanya sekedar sukses yang berupa angka dalam ijazah dan kekayaan harta yang bisa kita kumpulkan sebanyak-banyaknya, Namun sukses lebih dari sekedar itu semua. Pesan yang dapat kita ambil dari film ini, yaitu kesuksesan seseorang tidak bisa diukur hanya tentang angka dan materi. 

      Ketiga, film "Tenggelamnya Kapal Van Der Wick" yang ditulis oleh Hamka. Film ini cukup apik dan recommended sekali untuk ditonton. Film ini termasuk dari sebagian film yang mengesankan karena aku begitu tertarik dengan seorang Zainuddin. Selain karena memang terpikat dengan jalan kehidupan Zainuddin, akupun juga suka dengan Herjunot Ali. hahahhaa. Film yang recommended sekali untuk ditonton para remaja yang sedang mabuk asmara. Cinta bisa mengubah segalanya, membuat seseorang menjadi gila, bahkan cinta pun bisa mengubah seseorang menjadi raja. Perjalanan cinta Zainuddin begitu berat dan terjal, namun ia sukses mengubah luka dalam hatinya menjadi bara semangat yang luar biasa untuk mengubahnya menjadi seseorang yang sukses karena cinta. Yah, pesan moral semacam ini yang begitu kuat menancap dalam pikiran untuk kita terapkan dalam hidup kita. Ketika kita mengalami kegagalan, tidak hanya tentang kegagalan soal cinta, namun tentang kegagalan banyak hal, kita tidak boleh terbawa arus kegalauan, menyerah dalam keterpurukan, namun kita seharusnya memutar balik arah jalan hidup kita menjadi lebih baik untuk di kemudian hari kita meraih kesuksesan dan tidak pernah menyesal pernah mengalami kegagalan. 

Banyak film yang kusuka, namun sekali lagi aku katakan aku ini bukan penikmat film cuma sesekali saja nontonnya. Jadi jangan kaget dengan judul-judul film jadul yang kusebutin tadi. Pokoknya mah kalau masalah film, bolehlah kau bilang aku ini katrok, gak up date dengan film-film baru, tak masalah kok. Toh kalaupun aku up date dengan film-film baru, tidak lantas membuatku semakin cerdas dan cantik. hahahha.

Eva Edelweis, Yogyakarta 22 Januari 2017
Salam dluha...
Aku hanyalah wanita biasa yang mencoba menuliskan beberapa kegelisahan yang ada dalam benakku. Tulisan sederhana kali ini kutujukan  khusus untuk lelaki. Siapapun engkau, entah itu anak konglomerat, priayi, penyair, anak petani, anak jalanan atau siapapun  dirimu wahai lelaki yang belum menemukan pasangan halalnya... kunafaskan sejenak beberapa pesan yang tak seharusnya menggurui namun  hanya sebagai pengingat dari sahabatmu. 
Untuk kamu, kaum adam yang masih sedang berada dalam sebuah jalan kesendirian, menuju jalan-jalan kerdil untuk menemukan potongan tulang rusukmu yang kelak akan menemani masa tuamu, maka tolong pahamilah sejenak pesan singkatku sebagai wanita... 
"Kamu jangan terlalu baik pada banyak lawan jenismu, pada semua wanita.. hingga tanpa kau sadari, jika satu persatu dari mereka kau dekati, kau akrabi, ada sebuah perasaan nyaman yang membuat mereka (wanita) nyaman dan tenteram di dekatmu. Tanpa kau sadari pula, mereka begitu percaya padamu untuk dijadikan sebagai tempat curhat paling aman, lalu terbukalah cerita-cerita privasi mereka padamu. Ketahuilah, bahwa hati wanita itu sangat mudah tergoyah oleh sikap baik seseorang, bisa saja dia mengartikan makna lain dari sikap pedulimu. Sedetik waktu yang kau luangkan hanya untuk menjadi pendengar setia, bisa saja menanam rasa "yang lain" dalam dirinya....Hati wanita sangat mudah luluh dengan sesosok lelaki yang menawarkan dirinya menjadi pendengar yang setia menyimak keluh kesahnya, ia akan merasa dihargai dan merasa nyaman dengan sikapmu yang baik itu....Jika kau tidak ingin menetap dalam hati seorang perempuan, jangan pernah masuk dalam kehidupannya agar tak tercipta luka dalam dirinya... bersikap baiklah tanpa harus memberi kesan bahwa perilaku baikmu bisa menimbulkan suatu prahara yang begitu jelimet dalam kehidupan seorang wanita..."
Ku peringatkan padamu saudaraku kaum lelaki, tolong berhati-hatilah.. Jangan kau menumbuhkan apa yang tidak mereka tanam, perasaan nyaman, tentram itu lebih berbahaya dari perasaan cinta, kawan... 
Jangan sampai kau merusak masa depan mereka hanya karena ulahmu yang begitu lihai bergaul dengan banyak perempuan. Jangan kau rusak harapan-harapan mereka dengan kata-kata manis yang mungkin bagimu adalah lelucon paling lucu untuk kau lontarkan pada setiap perempuan... hingga timbul perasaan sedikit "baper" merasa dirinya disukai, dicintai, padahal semua hanyalah bualanmu yang biasa kau ucap pada mereka.... Jangan sampai kau membuat seorang perempuan merasa sudah memiliki perasaan masa lalu saat kau telah bersanding dengan orang lain... kau paham kan maksud dari kata-kataku? aku katakan sekali lagi, bahwa sebagai lelaki jangan terlalu baik pada banyak perempuan... sikapmu yang begitu, akan menjadi bom waktu yang suatu saat tinggal menunggu kapan meledaknya. Jika kau ingin menjadi lelaki baik-baik, tidak perlu kau terlalu dekat pada semua wanita... cukuplah bersikap biasa-biasa saja tanpa harus tampil menawan seolah kau lelaki pahlawan yang akan selalu peduli padanya, sementara jika kau sudah menemukan seseorang yang berhasil mencuri hatimu lalu kau pergi tanpa basa-basi meninggalkan sepi di hati perempuan lain.

*sebuah inspirasi dari seorang sahabat yang sedang kurindukan....

#Catatan Eva edelweis, Yogyakarta 16 Januari 2017.
Aku ini cukup nakal, bandel sekali pada orang tua. Sampai suatu  hari setelah pengumuman kelulusan MTs yang setara dengan SMP seorang ustadz menawariku untuk mengajukan diri sebagai siswa yang masuk ke salah satu MAN favorit di kota kelahiranku dengan jalur beasiswa. Kusampaikan amanat ustadz tersebut pada bapak bahwa aku akan mengikuti promosi beasiswa tersebut. Ternyata bapak punya keinginan lain untuk menyekolahkanku di salah satu pesantren yang cukup terkenal dan populer di kepalaku. Yeah Pesantren?? Dulu aku sempat ditawarkan untuk nyantri sejak aku lulus MI tapi bukan eva namanya kalau dia tidak bandel, aku menolaknya dengan alasan bahwa aku masih terlalu kanak-kanak untuk pergi jauh dari orang tua. Aku juga belum rela waktu bermainku di masa kecil habis gara-gara aku harus tinggal di lingkungan pesantren yang cukup jauh. Tapi seusai MTs, bapakku dengan sangat tegas menolak tawaran ustadzku tadi, karena belliau punya rencana lain untuk memondokkanku di Annuqayah.Pesantren ini merupakan pesantren utama dari seluruh keluargaku. yah, seluruh keluarga besarku menamatkan studinya di pesantren ini kecuali ummi yang memang nyalaf di Pesantren Al-Is'af. Mau tidak mau, aku harus terima kenyataan bahwa aku akan segera ganti status menjadi SANTRI. Singkat cerita, di sana aku menemukan seorang guru sufi bagiku. Beliau itu cukup kharismatik di sekolah ini, masih muda, dan cerdas tentunya. Beruntung sekali beliau itu menyukai anak-anak di kelas kami. yup, dari berbagai kelas yang ada di sana, kelas yang sering dikunjunginya tentu kelas kami. Berisi orang-orang kreatif dan penuh semangat kata beliau... satu hal yang menarik dari beliau adalah pewarisan ilmu dan amal. Kami diajarkan terapi shalawat untuk merelaksasi tubuh dan pikiran ketika jenuh. Lakukan dengan ikhlas, rutin dan kita akan merasakan dahsyatnya energi  shalawat merasuk dalam jiwa kita. Setiap kali beliau mengajar, tidak pernah lupa mengawali mata pelajaran dengan terapi shalawat yang disertai gerakan-gerakan tertentu. 
Terapi shalawat ini masih sering kulakukan, apalagi ketika pikiran mulai gaduh tak karuan, maka terapi shalawat adalah obat andalan pertama kali yang kulakukan. Saking karena aku sering melakukan terapi ini, ketika pikiran kacau maka secara otomatis, tanpa aba-aba hati dan mulut ini komat-kamit dengan sendirinya. Tidak, aku tidak sedang ingin riya' di sini. Hanya saja mau berbagi sedikit tentang khasiat shalawat yang luar biasa. Bapakku yang sederhana saja hidupnya, tak pernah lupa mengingatkanku untuk bershalawat...Bapak tahu, aku ini takut "kendaraan cepat". yup, aku merasa takut ketika dibonceng naik motor dengan kecepatan di atas 60 km/h. Maka ketika aku mulai mengantuk dibonceng bapak saat menjemputku dari pesantren, si bapak menaikkan kecepatannya sehingga dengan sendirinya kantukku hilang dan rempong komat-kamit bershalawat untuk menenangkan diriku sendiri. Sesederhana itu, bapak mengingatkanku untuk tidak lupa bershalawat. 
Menurut hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang mahasiswa UIN SYAHID Jakarta, membaca shalawat dapat menimbulkan kepuasan batin, perasaan senang, nyaman, sejahtera, karena memuji orang yang kita cintai, yaitu Rasulullah. Efek shalawat mempengaruhi psikologis seseorang, perasaan kita akan menjadi tenteram setelah membacanya. Kenapa? pertanyaan ini pernah muncul di benakku saat dulu bapak sering mengingatkanku untuk bershalawat kalau aku telponan malam-malam, nangis tak karuan. Ternyata jawabannya simple. Apakah kalian pernah membaca buku "the true power of water" yang di tulis oleh Masaru Emoto? Buku ini menjelaskan tentang keajaiban molekul air. Masaru Emoto, seorang peneliti Jepang mengungkap bahwa ternyata air sebagai salah satu makhluknya Allah, ternyata dapat merespon perkataan orang. Prof Masaru ini, melakukan sebuah penelitian dengan membandingkan 2 jenis air. Air yang pertama, diperlakukan dengan baik. Setiap harinya didoakan, dipuji, diberi perkataa-perkataan yang baik. Sementara air yang kedua, yaitu air yang diperlakukan sebaliknya. Air yang kedua ini, dimaki-maki, diberikan omongan yang jelek. Lalu, apa yang terjadi? Ternyata setelah kedua jenis air ini diperlakukan sedemikian rupa, kemudian dianalisis dengan menggunakan mikroskop, hasilnya adalah kristal air yang pertama sangat bagus. Sedangkan air jenis kedua, kristal yang terbentuk, pecah dan sangat jelek. Berdasarkan hasil penelitian prof Masaru Emoto, dapat kita ambil kesimpulan bahwa memang benar, ketika kita sering membaca shalawat, atau alquran maka yang terjadi adalah perasaan tenang, relaksasi tubuh kita bagus, muncul kepuasan bathin. Karena menurut ilmu biokimia, tubuh manusia itu 70% terdiri dari air. Sangat wajar, jika respon tubuh dan jiwa kita sangat bagus setelah membaca shalawat. Tidak salah jika sebagai muslim, kita menerapkan terapi shalawat ini sebagai relaksasi tubuh, toh sudah terbukti secara ilmiah kan? 
Mengenai efek terapi shalawat, aku sendiri mengalami banyak khasiatnya, yang tentunya tidak harus kutuliskan panjang lebar di sini. Rasakan sendiri nikmatnya.  Wanita yang sedang menstruasi, sangat disarankan untuk melakukan terapi shalawat, selain karena sebagai pengganti ibadah dari tilawah alquran, tentunya menjadi obat penenang. Pasti paham kan, kalau wanita sedang menstruasi, bawaannya ingin marah terus, ngajak berantem, dan emosinya cenderung tak terkontrol. Tidak hanya ketika pikiran galau amburadul, tapi terapi shalawat ini biasanya kulakukan untuk memfokuskan diri, terutama ketika hampir ujian, atau sedang murajaah... maka jangan lupa untuk menyambi dengan shalawat. Bulan Desember ini, kebetulan bulan maulidur Rasul, dimana kekasih kita Nabi Muhammad, dilahirkan pada bulan Rabi'ul awal, maka demi alasan apalagi kita tidak cinta bershalawat? 

*Tulisan ini sebenarnya tulisan lawas, yang masih masuk dalam draf dan baru kulanjutin hari ini. hahahaha

                                                                                                                  Yogyakarta, 07 Desember 2016

      Semester 7 sudah berlalu, teringat satu tahun yang silam pada saat materi kuliah Tasawuf yang diampu oleh salah satu dosen favoritku yang ternyata dosen psikologi UII. Referensi utama yang kami gunakan yaitu sebuah buku berjudul "Prophetic Intelligent" mungkin dari kalian yang tertarik untuk belajar tasawuf sekaligus mendalaminya, dipersilahkan membaca buku ini (saya lagi promosiin buku loh..... ). Banyak hal yang disajikan dalam buku ini, namun dari sekian banyak sub judul yang dihidangkan ustadz penulis, yang paling menarik adalah tentang do'a. Kalian tentu tidak asing kan dengan istilah do'a? maka tak usah kuperjelas panjang kali lebar di sini. Penghujung semester ini ditutup oleh materi tasawuf yang membahas tentang do'a. Pertemuan yang cukup spesial menurutku, karena kami angkatan 2012 putri yang akan segera mengakhiri studi dipersilahkan satu persatu untuk share kisah pribadi masing-masing mengenai do'a dan kado spesial dari pertemuan terakhir di semester itu adalah impian dan keinginan yang belum kami raih diaminkan bersama-sama di kelas, katanya sih do'a usadzku ini maqbul... apalagi ditambah dengan do'a orang lain maka aku yang penuh pengharapan pada saat itu pun meyakini 100 % Tuhan sedang menyimak do'a kami. 

      Pada saat kuceritakan beberapa pengalaman pribadiku tentang do'a, ustadzku berkata begini "Tuhan itu telah menjamin do'a kita akan terkabul, sebagaimana yang Ia katakan dalam al-Quran, ud'uunii astajib lakum. Ada 3 cara Tuhan itu menjawab do'a kita. Pertama, ya, Aku beri sekarang. Kedua, tunggu, Aku mau lihat usahamu terlebih dahulu. Ketiga, tidak, Aku punya yang lebih baik untukmu." Jadi benar, jika Tuhan itu memang akan menjawab do'a kita. Entah itu akan dijawab saat itu juga, entah nanti atau barangkali permintaan kita tidak dikabulkan namun Tuhan menggantikannya dengan yang lebih baik. Maka jangan langsung mengjudge Tuhan itu tidak mengabulkan permintaan kita, sabarlah... Tuhan itu Maha Oke guys... maka jangan lelah berdo'a dan berikhtiar. Tuhan itu akan mengkabulkan do'a-do'a kita, asal kita tidak merevisi sendiri do'a-do'a kita. Lah kok bisa? yah bisa dong... bukan cuma skripsi doank yang ada revisinya, tapi tanpa kita sadari terkadang seringkali kita merevisi do'a-do'a kita sendiri. Tak heran, jika kita ngedumel, dan merasa keinginan kita tidak kunjung terkabulkan. Contoh, kamu sedang berdo'a bahwa 2 bulan yang akan datang tulisanmu akan tembus di media massa sekelas KOMPAS. Oke, kata Tuhan begitu mendengar do'a kita. Lalu ternyata kau merasa tulisanmu masih ecek-ecek dan belum layak dibaca banyak orang apalagi terbit di kompas. Kau khawatir, tulisanmu akan dikritik masyarakat pembaca. Rasa-rasanya masih perlu menulis lagi dan lagi untuk menghasilkan tulisan yang layak dibaca, kira-kira butuh 4-5 tahun lagi mateng untuk mengasah kekreatifan menulis kemudian terpublish. Oke, kata Tuhan lagi, Aku akan mengabulkan do'amu setelah 5 tahun lagi. Nah loh, seandainya kau tak berpikir ragu-ragu dengan kemampuanmu serta keajaiban Tuhan, bisa jadi 2 bulan yang akan datang tulisanmu benar-benar terpublish di kompas. siapa yang bakal mengira? Namun, karena prasangka buruk kita pada Tuhan, maka apa yang terjadi? Tuhan akan mengabulkan do'amu nanti 5 tahun yang akan datang. loh kok bisa? yah bisa dong, Allah itu Maha Oke guys... kamu mau apa, bagaimana, Allah itu mendengar kok suara kita, bahkan suara hati kita. Masih ingatkah sebuah hadits qudsi yang isinya begini "Ana 'inda dzonni abdi bii wa ana ma'ahuu 'inda dzakaran" yang kira-kira artinya adalah aku ini berdasarkan prasangka hambaKu dan Aku bersama hambaKu ketika namaKu disebutkan. Seandainya saja kamu yakin bakalan bisa menembus kompas dalam waktu yang demikian cepat yang tentu saja jauh sebelum kau punya keinginan kau memang punya minat menulis dan mau ikhtiar, Tuhan itu bakal ngabulin kok permintaanmu. Lah kok bisa?? lagi-lagi kau nanya begitu.. yah tentu bisa dong, karena Dia Tuhan yang tak bisa kita kendalikan kehendakNya. Karena kau berpikiran negatif, ragu-ragu, khawatir terhadap kemampuan dirimu sendiri dan keajaiban Tuhan jadilah mimpimu masih lama untuk dikabulkan. maka point penting yang perlu kau catat baik-baik dalam pikiranmu adalah berhati-hatilah dalam bicara, berpikir, dan berdoa. Entah itu bicara dengan sengaja, tidak sengaja, atau bahkan meski hanya sekedar gumaman hati. Barangkali pada saat itu Tuhan sedang mendengarkan ucapanmu dan mengkabulkannya
      
      Oke, jika kau sudah yakin dengan keajaiban Tuhan tadi, ikhtiarpun dilakukan semampumu, lalu masih saja do'amu belum terkabulkan. Kata dosenku, bisa saja hal ini terjadi karena dosa. Yup, dosa itu ternyata menghalangi keterkabulan do'a-do'a kita loh. jangan sampai hal ini terjadi pada diri kita. Kita sibuk berjuang keras, merapal do'a sekencang-kencangnya tapi kita lupa bahwa diri kita bermandikan dosa. Maka segeralah meminta ampunan Tuhan agar segera mengembalikan diri kita dalam keadaan hati dan jiwa yang bersih agar ketika kita menginginkan sesuatu, Tuhan itu begitu ridla untuk memberi apapun yang kita minta. Yakini bahwa Tuhan itu tak kan membiarkan diri kita dalam keterlantaran tanpa terkabulkannya do'a-do'a kita. Berbekal ikhtiar yang cukup, do'a yang mantap, dan jiwa yang bersih in sya allah apapun yang kita minta pada Tuhan akan Dia berikan, bahkan ketika ketidakmungkinan secara logika terwujudnya keinginan kita menjadi sangat mungkin terjadi maka di situlah keajaiban Tuhan yang Maha Oke itu berlaku. Kita jangan pernah merevisi do'a kita, tapi mantapkanlah do'a kita supaya Tuhan yakin kita bersungguh-sungguh dalam do'a kita dan meyakini keMaha Oke-an Tuhan dalam segalanya. 

      Bagaimana jika kita telah berikhtiar, berdo'a, membersihkan diri dengan meminta ampunan Tuhan tapi masih saja keinginan kita belum tercapai, bahkan justru yang kita peroleh adalah sesuatu yang sama sekali tidak kita inginkan. Pertanyaan ini muncul dari salah satu temanku. Semisal begini, kamu akan mendaftarkan diri di suatu kampus di prodi yang cukup populer dan banyak diminati orang seperti jurusan Teknik. Namun ternyata, kau lolos di jurusan pendidikan bukan Teknik. Padahal, kamu sudah bekerja keras mengasah bakatmu sejak jauh-jauh hari di bangku SMA. Tapi apa yang kau dapat? akhirnya dengan berbagai alasan dan saran dari teman, keluarga, masuklah kau menjadi mahasiswa bidang pendidikan secara ikhlas. Kenapa itu bisa terjadi? nah, jawaban yang menarik dari dosenku cukup simpel sebenarnya. Mungkin saja apa yang kita peroleh itu bukan hasil jawaban Tuhan terhadap do'a-do'a kita, namun jawaban terhadap do'a-do'a orang tua kita. yup, bukan hal yang mengagetkan lagi kawan, jika do'a orang tua itu ternyata maqbul. Bukankah keridlaan Tuhan ada pada keridlaan orang tua? maka tidak heran jika Tuhan lebih mendengarkan do'a dan harapan orang tua dibandingkan harapan kita sendiri. Jadi kau jangan bangga jika ternyata do'a dan keinginanmu seringkali terwujud karena bisa jadi semua itu berkat do'a dari orang tua bukan hanya semata-mata hasil dari kerja kerasmu. Nah bagaimana jika harapan kita dan orang tua kita berbeda? maka kasus seperti inilah yang harus kita pahami baik-baik.. seperti kasus di atas, seseorang menginginkan dirinya bergelut di bangku kuliah pada bidang Teknik, namun lolosnya malah di bidang pendidikan. Mungkin hal ini yang diinginkan orang tua. Yup, orang tua kita bisa saja takut untuk menyampaikan keinginannya agar si anak kuliah saja di prodi pendidikan bukan Teknik, takut anaknya down dengan mimpinya. Namun, ternyata diam-diam orang tua menyampaikan harapannya langsung pada Tuhan yang Maha Oke. Beres perkara. Si anak bisa apa? maka jalani saja takdirnya. Jika hal ini terjadi, di sinilah kekuatan do'a kita diadu sebenarnya. yah, karena antara keinginan orang tua dan keinginan kita berbeda, maka kita dapat berikhtiar lebih dengan kuat-kuatan do'a. Persoalan do'a orang tualah yang lebih dahsyat, maka terimalah dengan ikhlas, karena sekali lagi ku tuliskan bahwa Tuhan menjawab doa kita dengan 3 cara, salah satunya adalah Tuhan tidak mengabulkan do'a kita namun menggantinya dengan yang lebih baik untuk kita. luar biasa sekali kan keajaiban do'a ini? Yuk, mantapkan do'a....

*Tulisan ini hanyalah sebuah ocehan ringan seorang Eva Edelweis untuk mengenang dosen tasawuf saja, yang juga terisnspirasi dari tulisannya mas Haris. Semoga bermanfaat.

Yogyakarta, 3 November 2016





Jatuh cintalah, maka kau akan merasakan kenikmatan hidup yang cuma sementara. Di tulisan sebelumnya "Guruku inspirasiku (semacam euforia mencintai)" telah kukisahkan sedikit bagaimana guruku memperoleh inspirasi. Ah yah, untuk mendapatkan inspirasi katanya harus jatuh hati lalu patah hati. Kau mungkin berpikir, sakit hati itu tak ada nikmatnya sama sekali, yang ada bakalan banjir air mata nangis bombay sok merasa terluka, terkhianati atau apalah... hiks.. hiks.. kasian :P Jika aku yang mengalami hal seperti itu, rasanya aku akan menceritakan bagaimana sakit hati yang mengagumkan. Tapi aku tak kan mengerucutkan sakit hati cuma karena putus dengan kekasih atau dikhianati kekasih, tapi lebih secara universal. Sejujurnya, aku ini tipe-tipe cewek sensitif, yang ya ampun sediki-sedikit sakit hati, meskipun kadang ga ditampakkan.  Pernah suatu kali, seseorang menatapku penuh kebencian, setidaknya itu yang terbaca dari pikiranku. Sakit hati? jelas, sakit hati karena aku merasa kesalahan macam apa yang telah kubuat hingga membuatnya menatapku sedemikian rupa mengerikan? sakit hati tersebab temanku sendiri tak menyapaku dengan muka yang riang. Aku juga pernah merasakan sakit hati karena lelaki, yaitu pada saat aku menyukai seseorang hanya dari jarak jauh dan menyukainya diam-diam. Sakit hati karena cintaku bertepuk sebelah tangan dan dia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang menyukainya duuh sedihnya... wkwkwkwk. Tentu saja sebagai cewek normal, pasti menangis. Tapi itu hanya sebentar, karena pada detik kesekian mukaku kembali konyol seperti sedia kala -_- Tertawa lepas seolah tidak terjadi apa-apa. Kembali pada topik awal, bagaimana mengubah sakit hati yang awalnya bikin kamu menyedihkan menjadi mengagumkan. Kuncinya cuma satu, ada pada Tuhan dan diri kita sendiri. Ketika sakit hati itu menghampiri kita, maka sejatinya kita butuh seseorang yang akan menguatkan kita, menambal luka hati kita. Jangan salah ambil teman sebagai teman curhat atau supporter kita, alih-alih dia memberikan solusi, menenangkan, bisa jadi aib kita kemana-mana, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, alihkan saja semuanya pada Tuhan, tautkan diri kita sepenuhnya pada Tuhan. Kita rajinkan shalat kita, tentu saja yang kumaksud adalah shalat-shalat sunnah kalau shalat lima waktu, pastilah yah ga boleh ketinggalan plus jamaah tentunya hihihi. Rajin-rajinlah juga kita mengunjungi RumahNya, percaya atau tidak, ketika hati kita dalam keadaan tidak sehat, emosi kita tidak stabil, pikiran kita penuh dengan problem-problem hidup yang belum terselesaikan cobalah ngadem sebentar saja di Masjid. Niatnya ngademin hati dulu, menangislah di sana sepuasnya, adukan apa saja yang ada di kepalamu, biar lebih afdhal, percikilah mukamu dengan air wudlu, dan sejenak kau menghadap Tuhanmu. Setidaknya hal itu akan membuat seseorang lebih tenang, damai, dan hati tentram. Masjid itu bikin tentram? oh jelas, aku sendiri yang membuktikannya. Entah kenapa setiap kali ketika aku sendiri mulai merasakan hal yang tidak nyaman, hati rasanya mati, dan ga mood hidup, biasanya aku memilih masjid sebagai tempat paling nyaman untuk bersemedi dari keramaian. Tuhan yang kita ajak bicara, tentu saja menyimak keluhan kita, sakit hati kita. Ga mungkin Tuhan itu tega membiarkan diri hambanya yang telah menyerahkan diri segala urusannya pada Tuhan semata akan membiarkan kita dalam keadaan terpuruk, tunggulah tangan Tuhan menyambar kita, memeluk kita dengan erat, bukankah sudah pernah kau dengar sebuah hadits qudsi yang menyatakan bahwa "Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” nah tuh, masih belum percaya? itu perkataannya Tuhan loh... bukan perkataanku yang cuma manusia abal-abal... dan yakinilah mau hati kita disakiti sekeras apapun, jika Tuhan yang menjadi teman curhat, menjadi penyembuh luka kita, maka segalanya akan baik-baik saja. Jangan pernah takut sakit hati, ketika sakit hati itu mampu membuat kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan, why not? Tapi tunggu dulu, jangan hanya ketika saat kita dalam keadaan tidak baik-baik saja kita mendekat padaNya tapi mendekatlah dalam keadaan apapun, seorang teman saja yang diperlakukan seperti itu semisal kita hanya mendekat jika ada maunya, yo mesti kesel lah. Paling nggak, dia kapok temenan sama orang yang begitu hahahhaha. Namun satu hal, logikanya kita yang butuh Tuhan, maka perbaikilah sikap kita yang seperti itu, janganlah bersikap semaunya. Barangkali Tuhanpun sakit hati dengan perlakuan yang seperti itu.... 

Satu hal lagi yang ingin kubagi di sini, semakin sering hati kita disakiti, dilukai, justru bukan membuat hati itu semakin terluka namun semakin berkilau jika si pemilik hati ini ridla dan penuh keikhlasan menerima apapun. Seperti halnya diamond, semakin tinggi suhu yang diberikan pada saat menempanya maka kualitas diamond itu semakin bagus, begitupun dengan hati kita, semakin sering tersakiti, hati kita justru semakin berkilau jika diiringi rasa sakit itu dengan keikhlasan bahkan  in sya allah hati kita jauh lebih berkualitas dibandingkan diamond. Apalagi jika pada saat kita disakiti, dilukai lalu kita semakin dekat dengan Tuhan maka sungguh rasa sakit yang kita alami menjadi begitu mengagumkan. Maka setelah membaca tulisan ini, sudahilah tangisanmu, sedihmu, ada banyak hal yang perlu kau lakukan dibandingkan sekedar merenungi nasib burukmu..... Hidup itu hanya sebentar bray, eman-eman jika kau membiarkan hidupmu dirundung kesedihan, sebaliknya bikinlah kesedihan itu menjadi suatu hal yang mengagumkan. Bahkan jika guruku sengaja bikin dirinya sakit hati cuma untuk memperoleh inspirasi, maka saatnya kita juga bisa melakukan hal yang sama, memanfaatkan waktu saat patah hati dengan menulis puisi misalnya, lumayan kan jika sakit hati juga membuat kita menjadi sesosok manusia yang produktif dan menggali bakat terpendam kita sebagai pujangga hahahahha. Ah yah, cukup sekian ocehanku yang mungkin terlalu lebay dan panjang di sini, namun kusemogakan tulisan ini bermanfaat untuk siapapun yang sudi membaca sekelumit tulisanku, dan kudoakan semoga sakit di hatimu segera sembuh ^_^ jika ada yang tidak berkenan, silahkan tinggalkan jejak untuk diperbaiki.


*Catatan Eva Edelweis, Yogyakarta 15 Oktober 2016.


    Seorang guru sufiku pernah bercerita tentang dirinya bahwa waktu beliau masih muda, beliau menyukai banyak wanita. Bukan sesosok play boy yang suka tebar pesona, sungguh bukan. Beliau adalah santri tulen yang sedang mencari jati dirinya. Beliau mencintai lalu sakit hati, begitulah kira-kira ringkasnya kisah beliau. Bahkan terlalu banyak wanita yang didekatinya. Mau kuistilahkan sebagai pacar, rasa-rasanya kurang sopan. Jadi begini, beliau memang sengaja menyukai beberapa wanita untuk membuat dirinya patah hati. Berpindah dari satu hati ke hati yang lain. Wanita itu penuh inspirasi, begitulah beliau menganggapnya. Apa yang terbersit dalam benakmu dengan cara pikir seperti beliau? ada orang yang susah payah dengan sengaja bikin dirinya sakit hati... what wrong about him? Alasan satu-satunya adalah inspirasi. yup, dia menyukai seseorang untuk menemukan inspirasi, pun patah hati untuk meraih inspirasi. Katanya sih, ketika seseorang berada di titik terlemahnya, pada masa-masa yang sulit di situlah inspirasi, ide akan nongkrong dalam pikiran kita. Disitulah kita akan berada di istana pikiran yang penuh dengan jutaan ide. Lahirlah puisi-puisi romantis dari jiwa beliau. Well, satu pesan yang cukup mengesankan dari beliau adalah "Jatuh cintalah dan patah hatilah".


    Aku ini bisa disebut sebagai pengagum rahasianya, hahahhaha. bagaimana tidak? apapun yang beliau bicarakan mesti menarik. Hal yang paling mengerikan adalah, akupun pernah mencoba ramuannya untuk menemukan inspirasi. Aku jatuh cinta dengan seseorang. Well, aku benar-benar jatuh cinta dan seolah tenggelam dan terseret untuk masuk dalam hidupnya. Inspirasi itu memang pernah datang bertandang, bahkan aku pun pernah merasakan manisnya ide yang pernah kutumpahkan. Melayang di meja redaksi dan aku juga pernah tahu rasanya ditolak berkali-kali. Semua itu karena kamu. Bahkan aku menulis hingga saat inipun karena kamu. Ceracauku di sini, kembali hidup karena kamu. Sebuah inspirasi dari seorang guru yang benar-benar berpengaruh besar dalam hidupku. Mungkin kalian yang membaca tulisan ini akan mencibir bahwa tulisan-tulisan di blog ini lebih pantas dianggap sampah. Oke, aku akui yang kutulis memang hanya sampah yang hendak kubuang dari batok kepalaku.



    Aku sudah pernah mencoba ramuan guruku untuk mendatangkan inspirasi. Namun yang ada, aku betul-betul patah hati. Meski harus ku akui di saat rindu bertandang, maka aku harus segera minum air sebanyak-banyaknya untuk menggantikan air mata yang membanjir di pelupukku. Aku ga mau lah sakit cuma gara-gara dehidrasi yang disebabkan oleh tangisan alay bombay. Lebay yah?? yah memang.  Tapi aku tak pernah bermain-main soal perasaan. Seperti halnya guruku mencintai, lalu sengaja bikin diri sakit hati karena putus. Oh tidak, jika berniat seperti itu berarti aku telah mencoba memainkan hati anaknya orang, lebih-lebih main-main dengan diri sendiri. Aku pernah jatuh hati karena memang jatuh hati dan tak semudah itu berpindah dari satu hati ke hati yang lain. aku ini tipe-tipe yang agak setia kok ahahahah. Salah satu alasan klasik mengapa tulisanku penuh bumbu-bumbu rindu yah karena itu, aku jatuh hati karena Allah yang dengannya, inspirasi benar-benar datang seperti kata guruku. Inspirasi yang datang adalah bonus dari Allah, karena mau seberapa jatuh aku menyukai maka tak kan habis kutuliskan di sini. Yah aku jatuh hati karena Allah. Perihal tentang jatuh hati dan rindu, aku tuliskan sedikit lagi di sini (rindu lagi?? ga bosen kali yah..... ahahhaha).



Kau tahu sakitnya rindu? ah, pasti kau tahu. Bagaimana mungkin seseorang di zaman canggih seperti ini tak kenal sakitnya rindu? sakitnya lebih parah dari sakit maagh, atau bahkan sakit typus. Serius!! Kalau udah kambuh nih sakit, kau bakalan kuat puasa berhari-hari tanpa makan sesuappun nasi. Bahkan parahnya lagi, kau sudah tak mengenal bagaimana nikmatnya tidur yang lelap dan bermimpi indah. Kalau sudah kambuh, kau memang layak disebut sebagai pesakitan. ngeri deh pokoknya. muka kusut tak terawat, bahkan kau bisa jadi tak peduli orang-orang di sekitarmu. Yang ada dalam benakmu itu hanya orang yang kamu rindu, bahkan dirimu sendiri seolah bayangan semu. Nggak kok, aku bukanlah Syeikh Siti Jenar yang akan mengatakan "ahad, ahad, hanya dirimu yang ada," karena apa? boleh jadi kalau sudah menderita pesakitan rindu aku sudah hidup setengah sadar setengah tidak, yang ada cuma kamu. Aku bahkan masih ingat bahwa sejatuh cinta apapun aku pada seseorang, maka tak mungkin aku menghilangkanNya dari sudut hatiku. Mungkin ini alasannya aku masih hidup dengan nyaman dan damai, bahkan saat aku menderita rindu (wkwkwkkw alay ). Seseorang pernah berkata padaku "Rindu itu berat, kamu tidak akan kuat biar aku saja yang merindu. kamu jangan" ahh alay banget pikirku saat itu. Tapi begitu aku mengalaminya, aku bahkan tak akan pernah mengatakan kalimat seperti itu pada siapapun.



    Rindu itu menyebalkan, bahkan cenderung kurang ajar. Dia selalu bertambah dan bertambah tanpa tahu rasanya berkurang. Terkadang meski aku sadar begitu menyebalkannya rindu, akupun dengan sengaja menciptakannya. Menahannya berlama-lama dalam diriku. Aku sengaja menciptakan sakit, patah hati berkali-kali hanya karena satu alasan. Yah benar, back to the fisrt statement, Inspirasi.Tanganku tak selihai beliau melahirkan banyak karya-karya yang bikin hati begidik kalau membacanya. Aku cuma sedikit belajar dari beliau, mencoba mengorat-ngoret dan menumpahkan apapun yang ada di benak. Jujur saja apa yang dikatakan guruku itu benar, bahwa ketika kita berada di titik terendah sebagai sesosok ciptaanNya Tuhan, maka terkadang di situ banyak ide dan inspirasi bermunculan. Hanya masalahnya adalah bagaimana kita mampu mengikatnya dan mengemasnya dengan baik. Aku sih jelas masih belajar, jadi kau boleh mencibir tulisan penuh kealayanku di sini hahahhaha. 



    Well, aku jatuh cinta dan benar-benar tenggelam dalam euforia asmara. Tetapi tidak hanya inspirasi yang pernah muncul, perubahan, dan rasa-rasanya hidup ini terlalu indah untuk kau nikmati sendiri tanpa merasakan asyiknya mencintai seseorang.....maka jatuh cintalah!. 



Selamat menemukan inspirasi yang jauh lebih dahsyat dari sebatas euforia mencintai. :)



Yogyakarta, 24 September 2016
Previous PostPostingan Lama Beranda