Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Seseorang pernah bertanya, kenapa aku masih aktif nulis di blog pribadi? Bukankah itu membosankan, katanya.. Lalu kujawab dengan satu senyuman termanis yang pernah kupunya.
Kenapa aku menulis, karena di sinilah aku menemukan diriku. Ketika banyak sekali yang terpendam dalam pikiran tapi aku tak mampu mengatakannya, setidaknya aku masih bisa jujur ketika menulis. Lalu, apakah semua yang kau tulis itu adalah semua yang kamu alami? tanyanya lagi yang terkesan ingin tahu. Masih kuberikan senyumku di hadapanmu. Tidak, tidak semua yang aku tulis adalah sesuatu yang kualami. Kau tahu, tidak semenyek itu hidupku La.... Aku suka mengkhayalkan sesuatu dan kutulis di sini. Aku juga sering menjadi pendengar dari kawanku yang mengalami patah hati, lalu entah bagaimana hatinya tergerak menangis di pundakku.. Aku pikir diriku punya daya tarik yang luar biasa melalui pundak yang sudah keberapa kalinya selalu ada orang yang bersandar di sana dengan sesenggukan dan menceritakan kesedihannya. Aku memposisikan diri mereka, dengan tanpa sadar bahkan aku merasa lebih sedih dari mereka.

Aku menulis untuk diriku sendiri. Aku menulis untuk mentransfer sebagian depresi yang menghuni dalam kepalaku menjadi sebuah tulisan yang bisa kubaca ulang 30 tahun mendatang. Aku ingin menuliskan semua perasaanku di sini, tapi ternyata tetap saja tidak bisa. Meskipun tadi kukatakan bahwa aku bisa jujur ketika menulis, ternyata tak semudah itu.. Pasti ada sedikit perasaan was was dalam hati takut ada seseorang yang segitu keponya denganku sampai bongkar-bongkar alamat blogku ini hahahaha. Kau tahu, setiap kali aku ngepost tulisan yang berbau hal menyedihkan sering ada pesan masuk di hp menanyakan kabarku dan parahnya ada yang langsung ngejudge aku segalau itu....

Aku memang mengurangi keaktifan di media sosial, tapi aku tetap akan menulis selama aku punya waktu di sisa-sisa hidupku. Aku akan menulis sampai usiaku renta dan sudah tidak mampu lagi menulis.. Kamu tahu kenapa? Bagiku menulis itu semacam terapi diri bagaimana mengelola emosi yang selama ini aku pertahankan tetap stabil apa pun yang terjadi.

Aku juga tidak pernah menyangka, blog yang isinya begini riweuh pernah membuatku diterima di beberapa lembaga yang bergerak di bidang copy writing. Aku juga tidak tahu apa yang bikin HRD tertarik dengan port folio yang kubuat. Sayangnya takdir berkata lain sampai akhirnya aku gagal masuk di antara beberapa lembaga tersebut. Awalnya, cukup bikin aku patah hati dan mogok menulis. Tapi dasar kenyataannya aku ini memang harus menulis, karena kalau tidak, bisa membahayakan kestabilan emosiku sendiri hahahha alay... yeah, aku sempat mogok berbulan-bulan tidak lagi menulis di blog ini sebagai wujud marah sekaligus frustasi.. Alhamdulillah, waktu mengajariku banyak hal tentang bagaimana caranya ikhlas dengan apa yang Tuhan skenariokan. Aku balik lagi menulis hal tak penting di sini..semoga orang yang sempat kepo dengan blogku ini tidak mendadak pingsan baca tulisan receh beginian 

Eva Edelweis, Yogyakarta 27 April 2018
   Ramadhan akan datang sebentar lagi, tapi pikiran masih sama kacaunya. Aku menghilang dari media sosial untuk waktu yang cukup lama. Aku juga bukan orang yang terlalu peduli soal status seseorang yang sering booming di media sosial. Pencitraan, membuatku muak terlalu sering melihat dan membaca kepalsuan dibalik status facebook, caption instagram yang kadang kali ga nyambung sama fotonya. Aku muak dengan semua kepalsuan itu..... Lalu aku ingin curhat di sini, yah karena orang-orang kalau mau kepo jarang yang sampe buka alamat blog pribadinya. 

   Aku mulai mengenali diriku sendiri yang ternyata kesepian, sangat parah. Aku tidak punya teman bicara yang asyik buat kucurhati, aku terlanjur menutup diri dari orang lain supaya mereka tidak tahu tentang aku yang mereka kenal cerewet, periang, energik, dan kadang menyebalkan ini ternyata tidak lebih dari seorang perempuan yang rapuh, introvert dan sangat menyedihkan. 

   Nyaris 6 tahun aku hidup jauh dari keluarga. Bahkan, aku tak hanya jauh secara fisik saja tapi juga soal perasaan. Yah, aku jauh dari keluargaku. Aku sebenarnya tidak tahu apakah ada yang peduli denganku? Hahahaha mustahil. Tidak ada yang pernah bertanya "Va, apakah kamu baik-baik saja?" yah sekedar pertanyaan semacam itu tak pernah ada dalam hidupku. Aku sering menghabiskan waktu dengan diriku sendiri, berbicara dengan diriku sendiri di sepanjang jalan. Jangan heran kalau kamu sering melihatku berjalan di trotoar sendirian macam anak hilang. Aku menolak untuk diantar pulang, aku menolak tawaran teman yang tidak sengaja lewat dan ia berbaik hati ingin memboncengku misal... yah betul sekali, aku senang berbicara dengan diriku sendiri, mencoba self talk saat pikiranku macam orang yang sekarat dalam hidup tapi tidak pernah ada yang tahu soal itu. 

   Aku menikmati banyak hal satu tahun terakhir di tempat kerjaku. Aku berteman dengan mereka cukup baik, bahkan kadang aku geli sendiri saat aku jatuh sakit dan ijin tidak masuk lab, seringkali ada pesan masuk "Jangan lama-lama sakitnya, aku rindu". Hahahahahha aku geli, kenapa ada orang yang rindu denganku? tidak jarang aku nangis baca pesan singkat yang sejenis berasal dari teman kampus atau rekan kerja. Itu artinya, mereka menganggapku ada padahal selama ini aku merasa kosong, aku merasa bukan pribadi yang menarik, dan keberadaanku tidak terlalu menguntungkan bagi orang lain. 

   Satu kenyataan pahit memang jika kamu punya keluarga, teman, kekasih tapi dirimu sendiri merasa tak ada yang peduli. Lalu apa yang membuat seseorang macam aku kuat tahan dalam keadaan macam itu? aku, kamu, kalian semua punya Tuhan. Ya, satu-satunya yang membuatku tetap memiliki harapan hidup yang lebih baik meskji aku kehilangan diriku sendiri, kehilangan mimpi, kehilangan banyak hal yang membuatku serasa jatuh tertimpa tangga pula, itu hanya Tuhan. Aku merasa cukup dan lebih tenteram karena aku masih punya sisa keyakinan tentang Tuhan. Percayalah, ini bukan hanya soal retorika khayalan atau ceramah yang membosankan hanya saja aku benar-benar merasakan bagaimana Tuhan memelukku yang kesepian. 

   Aku pikir aku sakit, yah sakit cukup lama dan aku tidak sedang butuh siapa-siapa untuk menyembuhkan sakitku kecuali sebuah harapan kecil yang masih tumbuh dalam hati tentang Tuhan yang masih baik hati dengan makhluk nakal macam aku. Haaaaaah bahkan ketika aku ingin nulis ini saja perlu mikir ribuan kali, apakah dengan menulis begini sedikit perasaanku tak sebeku kemarin? 
Well, aku cukupkan saja tulisan yang tak penting ini. 

Tertulis di Laboratorium Fisika Dasar UII Yogyakarta

Eva Edelweis, Yogyakarta 24 April 2018

    Manusia robot aku analogikan orang yang hidupnya diatur orang lain. Kau percaya nggak, hari gini ada manusia macam itu? Aku sih percaya. Soal kamu ga percaya, aku ga peduli. Dia si manusia robot, hidup seperti manusia biasanya. Makan dan minum, tidur dan terbangun, belajar dan bekerja, dan masih banyak hal serupa jenis manusia biasa yang ia kerjakan. Termasuk mencintai orang lain misal.....

Gambar terkait
                                           Sumber: wordsonimages.com

    Kau tahu apa bedanya manusia biasa dengan manusia robot? yah, kemerdekaannya. Indonesia telah merdeka sejak 73 tahun yang lalu. Tapi manusia robot belum merasakan merdeka dengan hidupnya. Ketika seseorang merasa apa pun yang dia lakukan dikendalikan oleh manusia lain, maka di situlah ia berstatus sebagai manusia robot. Walau pun ada pernyataan bahwa perasaan, jiwa, hati seseorang tidak bisa dikendalikan oleh orang lain hanya diri kita sendiri yang mampu mengendalikannya sebenarnya tidak berlaku untuk manusia robot. Sederhananya begini, seperti cerita cinderella yang jatuh hati dengan anak raja. Mustahil bagi keduanya di alam nyata. Setidaknya, versi kehidupan manusia  robot. Anak raja harus menikah dengan anak raja. Begitu pun seorang putri cantik tidak boleh jatuh cinta pada pelayan rumahnya. Apakah kau mengerti yang aku maksud? ah aku sulit menggambarkannya. Semoga kamu paham yang aku maksud. 

    Ada banyak alasan, kenapa hidupnya seperti itu, semacam ada belenggu yang tidak bisa ia patahkan kecuali ada seseorang yang dengan sepenuh hati membawanya pergi agar belenggu itu hilang dengan sendirinya. Sebab, itu takdir dia sejak lahir. Bahkan ketika tadi aku mempersoalkan urusan perasaan, jatuh cinta itu kan soal hati. Kita tidak bisa memilih akan jatuh cinta pada siapa. Pada kondisi tertentu, belenggu itu semacam pengendali hidup agar tetap berada di jalan yang seharusnya, tapi urusan perasaan tidak bisa dipaksakan. Belenggu yang sebenarnya hanya ada dalam perasaan si manusia robot tapi orang lain tetap melihatnya seperti manusia biasa yang biasanya menyenangkan. 

    Kamu ingat dongeng Rapunzel yang disihir ibunya yang jahat dan membuatnya tertidur cukup lama? Dia hanya akan terbangun ketika ada seorang pangeran yang mencintainya dan menciumnya. Aku percaya dengan dongeng itu. Sebagaimana manusia robot, yang hanya akan menjadi dirinya sendiri, menemukan dirinya dan belenggu hidupnya akan hancur hanya ketika ada seseorang yang mencintainya setulus hati lalu membawanya pergi jiwa raganya ke tempat lain. Seseorang yang spesial, yang Tuhan takdirkan untuknya. Tapi aku juga tidak tahu, apakah beberapa jenis manusia robot macam ini akan ditakdirkan bertemu dan hidup dengan seseorang yang spesial macam itu? Spesial karena seperti dongeng Rapunzel, pangeran yang menciumnya tidak sembarang lelaki. Ia memang diutus Tuhan untuk membangunkan Rapunzel dari tidur panjangnya dan bertugas untuk membahagiakannya. 


    Ada juga seseorang yang mungkin takdirnya tidak akan berubah, tetap jadi manusia robot sepanjang hidupnya jika ia gagal menemukan seseorang yang tadi aku sebut spesial. Tapi menurutku, entah kapan suatu hari belenggu hidupnya akan hilang tanpa disadari walau pun tidak menemukan orang yang spesial. Yah, akan hilang hanya ketika dia pasrah segenap hati tentang seluruh hidupnya pada Tuhan yang Maha segalanya. Menerima takdirnya sebagai manusia robot sepanjang hidupnya. Yakin, bahwa apa pun yang terjadi itu memang skenario terbaik dari Tuhan. Lantas ia hanya mensyukuri dan menikmati hidupnya hari demi hari dengan hati yang gembira dan lapang dada. 


*Tertulis di Laboratorium Fisika Universitas Islam Indonesia

Eva Edelweis, Yogyakarta  5 April 2018


Selamat malam para kawan blogger.... lama banget rasanya tak menengok rumah blog satu ini. Ada banyak kesedihan, kebahagiaan terlupakan sebab kesibukan. Mungkin, aku sudah menemukan cara yang tepat mengatasi sedih berlebihan dengan cara menyibukkan diri tanpa lagi menuangkannya di sini. Tapi jangan khawatir, aku menulis banyak hal di sini bukan sebab aku terlalu sedih, namun ingin jadi teman tumbuh bagi kalian yang mungkin mengalami hal serupa dengan tulisan-tulisan di sini.  Yah walau pun semua tak tersampaikan dengan sempurna, tapi aku mencoba menyentuh setiap perasaan kalian yang sedang dilanda galau dan patah hati dengan cara yang sederhana, menuliskan banyak hal tentang isi hati perempuan, dan laki-laki yang kadang tak peka dengan keadaan. Cukup sudah aku basa-basi di sini... hahahahha aku hanya ingin berbagi satu hal pada kalian, yang mungkin berada di titik terakhir masa kuliah. 


     Aku bersyukur bisa melanjutkan studi di bidang yang kuminati, meski kampusku di luar negri (Swasta, maksud guee). Tidak masalah mau kuliah di mana pun itu tak terlalu berpengaruh pada kesuksesanmu di masa depan. Hal terpenting adalah ketekunanmu untuk belajar dan tidak pantang menyerah. Kamu menjadi berbeda bukan karena kampusmu yang terkenal, tapi sebab dirimu sendiri yang menjalani proses belajar di sana. Kamu mau menjadi apa, siapa, semuanya ada dalam genggamanmu, keputusanmu memilih yang tepat. Hal terpenting lagi yang tidak boleh kau lupakan, bahwa di mana pun kamu bisa belajar, tetap haus ilmu dimana pun dan kapan pun. 

     Saat aku kuliah, aku memilih untuk fokus kuliah tidak dengan organisasi-organisasi kampus yang butuh waktu cukup ekstra. Sebab, tanpa organisasi-organisasi itu pun rasanya 24 jam itu begitu singkat, hahahahha. Hanya organisasi dan kegiatan tertentu yang aktif kuikuti, bukan karena malas sebab aku tahu diri bagaimana aku kurang bisa memanage waktu dengan baik jika aktif di semua hal. Namun, aku tetap menikmati proses belajarku tanpa harus menyesali kenapa dulu tidak jadi aktifis kampus. 

   Beranjak di tahun kedua menuju tahun ketiga, aku merasakan masa belajar yang sangat menjenuhkan, bahkan  aku meminta orang tuaku untuk pindah jurusan saja pikirku waktu itu. Bapak dengan sangat tegas mengatakan "nak, nikmatilah masa belajarmu dengan penuh kenikmatan. Masa itu tidak akan terulang lagi, kalau kamu menyerah di sini maka penyesalan yang akan kamu dapatkan di waktu yang akan datang. Bapak membayangkan berada di posisimu, namun ingatlah pada komitmen bahwa setiap pilihan yang kamu pilih semua memiliki konsekuensi, begitu pula saat kamu dulu menyatakan keinginan kuat untuk kuliah seperti yang kamu inginkan  lalu kuijinkan kamu jauh dari jangkauan bapak ibumu, tapi bapak percaya kamu pun memiliki keinginan kuat untuk mencapai impianmu dan kamu akan berkomitmen menyelesaikan apa yang sudah kau mulai nak"....  sampai di situ saja, aku menangis malu di balik telpon. Aku benar-benar menangis sebab kalah dengan diriku sendiri. Aku berada di titik terendah, banyak hal yang kualami saat itu hingga tanpa sadar aku nyaris kehilangan kendali untuk tetap stay strong, percaya bahwa Allah mempermudah jalan hidupku. 

   Berada di tahun terakhir perkuliahan, aku melirik sekelilingku. Bukan hanya melirik, bahkan menelisik jauh ke depan apa yang kemungkinan terjadi di sana. Aku melirik teman yang berhasil lulus kuliah super cepat. Aku pun melirik teman yang beberapa kali sekelas denganku namun nyatanya dia angkatan 2 tahun di atasku. Aku melirik teman yang kuliah nyambi kerja tapi dia tetap berada di kalangan mahasiswa berprestasi, aku pun melirik teman yang kerjaannya nangkring sana sini ikut arus lingkungan mainnya. Ah, di situ aku berada di posisi sebagai mahasiswa yang pura-pura tuli ketika ditanya kapan lulus? aku bahkan tetap memberikan senyumku yang memikat pada siapa pun yang seringkali merecoki moodku berkali-kali. Lalu sampailah pada pertanyaan dosen pembimbing bertanya" Eva kapan berencana lulus?" lalu kujawab "saya masih ambil mata kuliah pak beberapa SKS karena kemarin saya jaga gawang di lokasi KKN takut ada sidak dadakan saat teman yang lain KRS an dan tutup teori. Saya juga mengulang mata kuliah yang bapak ajarkan di tahun kemarin karena saya ingin menyelesaikan riset saya semester depan dengan baik" Speechless. 

    Well, aku pun lulus nyaris 4 tahun. Walau saat itu aku kecewa tidak bisa ikut wisuda periode dua bulan sebelumnya. Ada satu titik temu yang kurenungkan di saat aku menyalahkan diriku sendiri yang terlalu malas untuk cepat menyelesaikan riset tugas akhir. Aku belum lulus karena aku belum siap lulus. Keyword yang ada di kepalaku. Kenapa begitu? mari simak baik-baik kegelisahanku di sini.

    Ada beberapa orang yang mengejar waktu demi lulus cepat tanpa lagi peduli apakah dia siap lulus atau tidak? kok pertanyaannya siap atau tidak? Sebab, di sinilah aku benar-benar merasa tidak menyesal karena lulus kuliah cukup lama dari teman yang lainnya. Kejar waktu, sebenarnya apa yng dikejar? Banyak banget orang-orang yang bingung mau apa dan bagaimana setelah lulus. Bukan sembarang asal dapat pekerjaan, comot.. oh no. Ketika kita berada di posisi sebagai pekerja maka kita akan mencurahkan waktu kita untuk pekerjaan itu. Jika tidak sesuai dengan passion kita, maka yang ada hanya lelah dan rasa jenuh yang semakin membuncah hari demi hari tanpa henti. Tapi jika kita beruntung berada di posisi yang tepat dari pekerjaan kita, maka pekerjaan pun akan menjadi hal yang menyenangkan. Di situlah kita harus benar-benar pandai memilih dengan tepat akan kau habiskan untuk pekerjaan macam apa waktu yang Tuhan berikan itu? 

     Ada juga yang lulus kuliah dengan cepat tapi tidak siap lulus, maka apa yang akan terjadi? Bingung. Sebab dari awal hanya mengejar waktu, tidak menikmati setiap proses belajar yang kita lakukan. Tapi aku juga tidak setuju dengan orang-orang yang memprioritaskan kuliah untuk kerja. Karena banyak kok titel sarjana pendidikan menjadi pebisnis, sarjana sastra tidak lantas jadi penyair. Lalu mereka menemukan suatu pekerjaan yang sesuai dengan passion mereka, dan menurutku itu jauh lebih menguntungkan dan luar biasa daripada seorang sarjana hukum lantas dipaksa oleh keadaan untuk menjadi seorang hakim padahal dalam jiwanya tumbuh sebagai seorang pujangga. Hahahahha hidup itu selucu ini yah, kawan..... maka nikmatilah setiap prosesnya. Wahai kamu adek-adek mahasiswa tahun terakhir, belajarlah dengan nikmat, dan nikmati setiap prosesnya. Tidak perlu lirik sana sini, sebab ketika kamu telah keluar dari dunia kampus dan kamu tidak siap menghadapi dunia berikutnya, maka kamu hanya akan menyesal karena kamu tidak mempersiapkan diri dengan matang sedangkan kamu sudah tidak bisa lagi kembali ke masa yang lalu.  Semoga kita sama-sama menemukan "hidup" yang lebih bermakna dari sekadar ingin mengejar hal-hal yang fana. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 2 Rajab 1439 H.





    Menikah, bagiku perkara paling sakral seumur hidup. Aku tidak pernah menginginkan masa laluku yang hitam kembali terulang. Jika kamu bertanya "kapan siap menikah" mungkin aku hanya bisa menjawabnya dalam hati. Sebuah keluarga bukan arena untuk coba-coba, aku mengumpamakannya seperti kapal kecil yang ada di tengah lautan lepas .. butuh perjuangan agar tidak oleng. Kau mengerti kan?  yah tentu saja pernikahan butuh persiapan dan tidak semena-mena hanya mengandalkan cinta. Apalagi hanya karena ocehan mulut tetangga.

    Aku pun butuh seseorang yang mencintaiku saat tua nanti. Seorang kamu yang akan menghapus luka lama yang tak pernah hilang dalam memori. Menurutku, keluarga adalah sebuah rumah cinta yang dipenuhi jutaan cinta di dalamnya.... Hanya ada cinta, tidak yang lainnya. Jika kamu tidak menemukan cinta itu di sana, barangkali ada yang salah dari keluargamu. Itu yang tidak kuinginkan.... Aku hanya ingin memberikan cinta yang lebih untuk seluruh penghuni rumah kita. Ketika aku menunda menikah, bukan berarti aku tak punya cinta tapi tabungan cintaku belum cukup untuk kubagi bersama.. Mungkin hanya cukup untuk membahagiakan diriku sendiri. Aku takut dengan kata-kata cerai, kekerasan dalam rumah tangga, ketidak puasan pada pasangan, tidak bahagianya anak-anak, kegagalan dalam membersamai keluarga, kegagalan mendidik anak... dan masih banyak hal yang kutakutkan..... aku sungguh takut.....mengertilah..aku cuma butuh waktu untuk berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan masa lalu agar mata batinku bisa melihat dengan jelas ada banyak cinta di sekelilingku, termasuk dari kamu. Aku pun butuh waktu menyadari satu hal, bahwa aku pantas dicintai.... 

    Kenapa aku menuliskan semacam ini di blog pribadi? biar kamu sabar menungguku sebentar saja..... sabar menunggu dalam hal yang pasti. Yakinlah, Tuhan tidak pernah salah menentukan takdir kapan kita bertemu dalam sebuah hubungan yang halal... :) 

Yogyakarta, 16 Robiul Awal 1438 H



    Assalamualaikum...... Bertemu lagi denganku eva edelweis, gadis madura berhidung minimalis. Kali ini aku ingin share sedikit cerita tentang santri. Why about santri? karena aku seorang santri, dan kamu tidak usah protes. hahaha -_- 

    Sekitar dua tahun yang lalu, tahun 2015 pemerintah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional dalam rangka sebagai peringatan histori tentang peran santri yang luar biasa dalam menjaga keutuhan NKRI. Sementara aku, merayakan hari santri dengan cara menerbitkan sebuah tulisan sederhana ini di blog pribadi. 

    Terhitung 8 tahun sudah aku berstatus sebagai santri. Satu windu itu tidak cukup buat seseorang mengais ilmu di pesantren, karena apa? bahkan hingga hari ini pun aku menyesal kenapa tidak sejak balita saja aku dijebloskan ke pesantren. Loh kok bahasanya dijebloskan sih? Iya, karena pertama kali aku nyantri, aku terpaksa mondok karena keinginan orang tua. Aku benar-benar tidak betah tinggal di pesantren. Sejak hari pertama diserahkan ke pak kyai, orang tuaku tidak menjengukku atau sekadar menelpon ke pesantren untuk menanyakan kabarku, hingga liburan pun tiba. Hiks.... menyedihkan yah :(

    Menurutku, pesantren itu semacam rumah sakit yang menyembuhkan seseorang dari sakitnya. Terserah kamu setuju atau tidak, tapi ini kan hanya soal pengalaman. Aku yang dulu benar-benar sosok aku yang individualis, yang sama sekali tidak mengerti arti empati, tidak mengerti tentang bagaimana hidup bersama dengan orang-orang yang beda kepala beda isi. Awalnya sangat menyiksa, bahkan katakanlah aku sendiri merasa terkucilkan diantara 40 orang yang menghuni kamar di tempatku berada. Yah, kamu ga usah kaget ketika tadi aku menyebutkan angka 40 orang dalam sekamar. Maklum, ini pesantren bukan rumah pribadi apalagi hotel. Tetapi ternyata aku salah sangka, bukan aku yang dikucilkan tapi aku yang mengucilkan diriku sendiri diantara banyak orang. Aku yang tidak mengerti bagaimana membawa diriku sendiri untuk bergaul, bersosialisasi dengan orang lain. Aku menikmati duniaku sendiri tanpa menoleh ke arah orang-orang di sekitarku. Aku terlalu sibuk dengan pikiran "aku ini ga bisa bareng mereka, aku ini ga tahu caranya agar aku diterima di komunitas mereka, aku ini... bla bla bla... dan banyak pikiran negatif lain yang ada di kepalaku waktu itu. Padahal permasalahannya bukan ada di mereka tapi ada dalam diriku sendiri yang enggan membuka diri untuk mencoba sharing, saling curhat misal dan apa pun yang bisa dilakukan bersama orang lain. 

    Tiga tahun berlalu dengan cepat, bahkan dalam kurun waktu yang sebentar itu aku sudah rolling kamar sebanyak 4 kali. Hahahahha .... stress sih ketika mulai bersosialisasi lagi dengan orang-orang baru. Hanya saja Tuhan selalu mengirimiku orang-orang baik hati yang mau paham dengan karakterku yang seperti ini, hingga akhirnya aku bisa melewati situasi sulit semacam harus mengenali dengan baik orang-orang baru yang ada di sekitarku.  Tiga tahun yang cukup berarti buat diriku sendiri, karena di sini aku mengalami banyak hal yang membuatku hidup dan kehidupanku kebanting dengan cepat. Dibekali dengan banyak hal-hal sederhana yang akan membuatku survive hidup di mana pun bahkan dalam situasi sesulit apa pun. Hari ini, ketika aku menulis tulisan ini pun, aku sudah berubah menjadi pribadi yang berbeda. Aku sudah tidak canggung lagi menyapa dan berkenalan dengan orang-orang baru, aku sudah tidak gelisah lagi jika bersosialisasi dengan orang lain, dan aku pun sudah nyaman menjadi diriku yang hari ini, sangat berbeda dengan beberapa tahun silam.  Ini hanya sekilas cerita tentang kehidupan sosial di pesantren, belum lagi soal keilmuan dan pengetahuan yang didapatkan di sana. Bahkan hari ini aku benar-benar menyesal kenapa waktu usiaku masih 10 tahun aku menolak dimondokkan oleh orang tuaku, kenapa tidak kuiyakan saja waktu itu? pikirku sih agar bekalku yang kusadari sedikit akan membawaku melangkah lebih jauh dari pencapaian-pencapaian hari ini. 

    Hari ini pun aku masih berstatus santri di pesantren yang lain, bedanya adalah di pesantren ini aku bertemu dengan mereka yang menurutku sudah sangat mantap keilmuannya dalam beberapa hal sejak di pesantren mereka yang sebelumnya. Di situlah penyesalanku kenapa hanya sebentar saja aku "menelantarkan diri" di pesantren yang dulu. Aku bahkan merasa beruntung hidup di pesantrenku yang sekarang, karena berkat pesantren keluargaku lapang dada melepaskan anak gadisnya jauh dari jangkauannya. Apalagi waktu aku akan berangkat ke Jogja, ibuku sempat bilang mengenai berita tentang Jogja bahwa 95% mahasiswa Jogja tidak perawan. Wah, betapa mengerikannya dan aku tidak tahu persis bagaimana perasaan ibu waktu itu. Kita pasti tahu, bagaimana ketar-ketirnya hati orang tua yang memiliki anak gadis yang merantau jauh dari dirinya. Ketahuilah bahwa menjaga anak perempuan lebih sulit tanggung jawabnya daripada menjaga ratusan kilo emas aman dari penjarah. Mengingat itu semua, aku bersyukur dengan hidupku hari ini yang tanpa terasa sudah 5 tahun aku nyantri dan jauh dari orang tua. Aku benar-benar bersyukur, ayah dan ibuku masih ridla dan berdoa untuk diriku di sini karena kepasrahan hati mereka menyerahkan diri pada Tuhan dan juga pesantren yang akan menjagakanku dengan selamat dunia akhirat, in sya allah....

    Tepat hari santri satu tahun yang lalu, 22 Oktober 2016 aku menghadiahi keluarga dengan hari kelulusanku sebagai hadiah spesial untuk bapak dan ibu yang juga alumni pesantren. Entah sudah keberapa kalinya ibuk selalu menghubungiku dengan peryataan yang sangat kuhapal "Eva, aku ingin ke Jogja.. melihat keindahan budaya Jogja. Aku ingin tahu seperti apa wajah pesantrenmu yang selalu kau ceritakan saat liburan, aku juga ingin mengenal teman-temanmu Va... Kapan kau akan wisuda?" ah, kini pertanyaan itu sudah menjadi kenangan manis antara aku, keluarga, dan pesantrenku. 

    Oke, sampai di sini dulu tulisan ga jelas sore ini... Satu hal sebagai penutup, nikmatilah hidupmu kawan-kawan santri sekalian.. Eksplorasilah apa pun yang ingin kamu tahu, semuanya akan bermanfaat untuk hidupmu di masa yang akan datang dimana potensi dan sosok seorang santri lah yang akan dicari-cari masyarakat nanti. Jangan sampai ceritamu seperti aku, menyesal karena nyantri hanya sebentar.... hehehe
Terimakasih tak terhingga untuk Annuqayah dan pondok pesantren UII Yogyakarta.... 
Salam Santri 


Catatan Eva Edelweis, Yogyakarta 22 Oktober 2017  


    Selamat pagi para pembaca blog sarang laba-laba.... sudah lama rasanya kita tak berjumpa lagi di rumah ini. Nyaris dua bulan mandek tidak pernah mengunjungi blog ini. Sepagian ini aku tidak ingin menuliskan hal-hal yang terasa berat dibaca hanya sharing hal sederhana semacam bullyng.

    Aku yakin semua orang tidak mau jadi korban bullyng, tapi kenapa ada banyak orang membully orang lain dengan senang? Sebenarnya, tiba-tiba nulis ini karena baper dari semalam mewek sendiri kehilangan teman dekat dan entah apa yang terjadi, aku ingin banget nulis unek-unek yang ada di kepala ini. Aku punya banyak  teman yang terbagi dari beberapa komunitas, atau sebuah keluarga kecil. Salah satunya adalah keluarga kecil di pesantren. Aku ga tau yah kenapa aku menjadi manusia yang cuek luar biasa, males banget berkumpul dengan kawan yang di pesantren.. Padahal mulai dari aku buka mata di pagi hari sampai terpejam di malam hari pun yang intens berkomunikasi tentu saja dengan kawan pesantren. Namun aneh rasanya bagiku mendadak jadi seseorang yang super introvert, jarang banget mau main ke teman kamar sebelah kecuali ada moment-moment tertentu seperti merayakan hari kelahiran mereka, makan malam bersama di luar, rencana ke kondangan luar kota, atau hal-hal yang sekiranya membuat kami tidak cukup berbicara di grup line dan mengharuskan tatap muka. Selain dari itu, aku lebih memilih sendiri di kamar dengan aktivitasku sendiri. Oke barangkali ini terlihat sangat aneh untuk aktivitas santri semacam aku yang seharusnya banyak bersosialisasi dengan mereka. Aku nyaman dengan duniaku, dengan banyak hal yang kulakukan sendiri, bahkan kupikir seharusnya aku menjadi anak kotsan dibandingkan tinggal di pesantren. 

    Cerita itu terjadi di pesantren. Bagaimana dengan komunitas lain? contohnya saja deh, di Taekwondo (tkd) dan kimia. Anak-anak taekwondo mayoritas agak absurd macam aku sih hahahha. Yang cowok itu hombreng, yang cewek pun cewek KW. lah kok gitu? ah sudahlah aku tak akan membicarakan hal itu di sini.... aku hanya menyoroti cara mereka memperlakukan seseorang dan bagaimana perasaanku ada di sana. Ketika lagi bareng mereka, diriku yang introvert di pesantren menjadi orang yang humble dengan siapa pun, bahkan aku dengan senang hati membantu mereka anak yang baru masuk untuk belajar sedikit gerakan-gerakan yang benar dilakukan. Bahkan dengan senior pun aku  juga begitu, menjadi seseorang yang sangat asyik diajak bicara seperti aku menemukan diriku yang sebenarnya, tanpa pencitraan, dan aku benar-benar menjadi aku, karena mereka membuatku merasa nyaman untuk tidak jadi orang lain. 

    Begitu pun ketika aku berkumpul dengan anak-anak kimia. Aku menjadi seseorang yang sering heboh sendiri, pemecah suasana, dan menjadi orang yang asyik pun dengan mereka, sama seperti yang aku rasakan saat bareng anak tkd. 

    Lalu kenapa dengan pesantren? apakah ada sesuatu yang buruk di sana? ku kira tidak... lalu kenapa kamu berprilaku seolah punya kepribadian ganda? jawabannya cuma satu, tergantung situasi dan perasaan nyaman yang ditimbulkan oleh komunitas tersebut. 

    Aku ingin banget sih sebenarnya membela diri ketika ada yang mengusikku dengan pertanyaan-pertanyaan "eh, eva kok ga pernah mau gabung sih? kok kamu cuek banget gitu? kayak ga mau kenal..." kujawab mereka dengan senyuman. oke, aku ingin menjawabnya di sini....

    Bullyng. Itulah jawabnnya.... jadi tulisan banyak yang kutulis di atas hanyalah pengantar saja hahahha. inilah inti permasalahannya....Aku ga terlalu sering ikut nimbrung dengan kawan pesantren, karena bullyng. Dimana pun kapan pun kita berkumpul selalu saja ada pembullyan di situ. Entah itu korbannya aku, atau orang lain... tapi aku sangat tidak suka. Mungkin bagi mereka itu asyik, bisa membuat suasana pecah dan ketawa bersama. Hei.... apakah untuk membuat kita tertawa harus mengorbankan perasaan yang lainnya? Misal nih, aku yang dibully ... terus aku balik bully dia, eh dianya marah-marah, cemberut, minta pembelaan dari teman yang lain terus nyari kesalahan gue untuk bully balik. Nah loh? gitu kan.... kamu saja ga suka dibully, kenapa kamu membully orang? itu pertanyaanku yang selama ini tertimbun di kepala. Ketika ada yang dibully, aku hanya ikut tertawa saja jika ada hal-hal lucu tapi sama sekali tidak mau ikut membully orang. Karena aku tahu, walaupun itu seru-seruan, bikin kita jadi ketawa, ada orang yang disakiti. Emang ga ada bully secara fisik, tapi lebih ke kata-kata yang sedikit nyess di hati, dan menurut aku itu lebih menyakitkan dibandingkan ada yang melukai fisik. Awalnya seru-seruaan tapi ujung-ujungnya yang dibully jadi ngambek, kasih pembelaan sendiri, minta pembelaan teman kalau dia punya sekutu, kalau nggak.... dia bakalan balik nyari kesalahan yang bully. Kan, seru-seruan apaan itu? 

    Seseorang bisa kok jadi asyik tanpa harus mengeluarkan joke-joke yang menyeret pada pembullyan. Salah satunya adalah temanku yang satu ini... gadis kelahiran Cilegon yang berulang tahun kemarin... dia salah satu temanku yang paling asyik, dengan ciri khasnya dia yang kadang absurd.... berteman dengan dia, suasana tetap asyik meski ga ada pembullyan. Mungkin di antara sekian banyak orang yang suka banget bully membully orang, dia jarang bahkan tidak pernah membully. Sama kayak aku, hanya numpang ketawa saja ketika ada yang dibully dan dibarengi dengan bercerita hal-hal yang lucu tapi menarik untuk diceritakan ulang, tentu saja tentang keseharian kami bukan ghibahin orang. Oke, Happy birth day Adhe Nur Tsani Oktavia...

    Aku sih orangnya, kalau sudah tidak nyaman ya udah lebih baik meminimalisir dibandingkan ikutan nimbrung tapi kadang ada rasa sakit hati sendiri. Jadi daripada aku baper sendiri, kadang juga sakit hati, mending aku dikatakan cuek ga mau bersosialisasi dengan orang lain, ga asyik, dan dibilang pribadi yang introvert tapi aku nyaman dengan hidupku. Aku merasa tentram meski sendiri. Aku merasa menemukan inilah diriku yang sebenarnya, aku tidak perlu pura-pura merasa baik-baik saja dan happy dengan hal yang kurang menyenangkan. It's my choice.  Oke fine, jika ada yang menanggapi "kok kamu ga asyik banget sih orangnya? itu kan biasa namanya juga teman saling ece gitu... kok kamu baperan? tanggepin dengan santai lah.. ga usah merasa sakit hati.. gitu saja kesel terus merasa ingin ditulis di blog pribadi..." oke mungkin kalau ada yang baca ini, bakalan ada yang berkomentar seperti itu. Tapi kuakui sih, aku baperan banget orangnya.. menurut aku, bagaimana pun bentuk pembullyan itu, meski hanya lewat joke, tetap saja itu bullyng dan kita tidak berhak melukai hati siapa pun meski hanya becanda. Well, untuk menghidupkan suasana, membuat orang tertawa, mengeratkan persahabatan, ada banyak sekali cara tanpa harus bully. Yah aku tahu sih, ada yang bilang sahabat itu adalah orang yang kadang dengan seenaknya ngatain kamu doggy atau piggy dengan muka santai bahkan kayak nama kesayangan. Hanya saja, sahabat versi aku tak seperti itu. Aku sama sekali ga ingin manggil orang yang kusayangi sebagai sahabat dengan panggilan doggy misal.... nggak banget. Meskipun anak jaman now, menganggapnya hal lumrah dilakukan. 
  
    Oke itu saja dulu sampah di kepala yang ingin kubuang, jika kamu tidak suka atau ingin memberiku saran bagaimana hidup yang lebih asyik dari sendirian dengan menjadi manusia yang introvert, kamu boleh komentari tulisan ini. Keasyikan nulis, aku jadi lupa mau berangkat kerja... see you next time.

Catatan Edelweis, Yogyakarta 11 Oktober 2017. Lantai 4 asrama UII

    Rasa-rasanya kepalaku mau pecah hari ini. Capek fisik sekaligus hati. Pagi yang cerah menyambut Agustus yang tiba-tiba datang tak disangka, penuh dengan nyanyian, dan ribuan kata yang kubawa dari asrama. Sepanjang perjalanan, hanya mengawang-awang di kepala, mendesak ingin dituliskan di sini semua. Rasanya tadi pagi aku ingin teriak "tolonglah diriku yang baik hati, hari ini bekerja samalah denganku. Isi kepala ini memang harus kubuang di tempat sampah semacam blog pribadi, namun aku belum punya waktu senggang untuk ini semua. Beberapa hari kedepan, akan kubawa kakiku melangkah dengan santai memenuhi segala pekerjaan, otakku pun butuh oksigen lebih untuk merilekskan kerutan-kerutan yang menandakan sedang dipaksa berpikir keras tanpa lelah... Tolonglah diriku yang baik hati, kendalikan dirimu, biarkanlah jutaan kalimat yang hendak melompat ini menjadi tenang, akan kutuliskan satu persatu di sini....."

    Ini hanya soal yang tidak penting semacam rindu kesekian kalinya.Kok rindu mulu sih ? Barangkali kamu yang dengan sengaja membuka catatan blog ini akan ngedumel seperti itu dalam hati. Berkali-kali bahkan begitu banyak tulisan soal rindu di sini. Nggak penting banget kan?  Kamu tahu nggak, rindu itu tidak pernah menyebabkan kebosanan, bahkan sebagian orang tidak pernah bosan dengan rindu. Atau, rindu itu semacam nafas bagi kehidupan kita. Begitu kataku waktu itu, saat aku mengatakan dengan sangat jelas mengaku rindu. sementara kamu bilang, tidak perlu terlalu sering merindu nanti bosan.

    Bagi seorang perempuan, mengaku rindu itu bisa saja sangat memalukan, apalagi jika yang dirinduinya cuek begitu saja tanpa ekspresi. Perempuan itu begitu rapet menyimpan segalanya soal perasaan semacam itu, termasuk soal rindu yang satu ini kecuali dia benar-benar rindu dan harus mengatakannya sebagai obat penawar bagi dirinya sendiri. Ketika kamu, seorang lelaki mengatakan rindu pada seorang perempuan, percayalah hatinya seolah dijatuhi tetes air langit setelah bertahun-tahun menanggung kemarau. Akan ada perasaan bahagia meskipun sedikit, karena senang dirinya dirindukan seseorang. Jangankan kata  rindu itu diucapkan oleh lelaki spesial misalnya, meluncur dari seorang teman, sahabat itu pun akan memunculkan rasa senang di hati seorang perempuan karena merasa dirinya dianggap ada oleh orang lain. Sesederhana itu hari ini imajinasiku. 

    Bagaimana jika rindu kita tidak terbalas? tidak masalah, karena rindu bukan sebuah kewajiban. Kita tidak bisa menuntut orang yang kita rindu juga merindukan kita. Namun, akan ada sedikit rasa sakit "nyess" di hati ketika rindu itu tak terjawab, tak terbalas.... dan yah barangkali ini sebuah kejujuran yang hendak aku katakan saat aku rindu dengan seseorang namun orang itu tidak pernah tahu betapa hebatnya rindu itu menyerangku, membunuhku bekali-kali hingga nafsu makanku tidak stabil.... Yah, rindu yang kurang ajar. Patah hati hanya karena rindu tak terbalas? bisa banget, karena patah hati tidak hanya terasa ketika kamu diputusin pacar, dijauhin gebetan dan sejenisnya. hahaha.... Rindu yang hanya Tuhan yang tahu betapa dahsyatnya rindu itu menggebu di dada, menuntut berkali-kali terbalaskan, tapi aku bisa apa? Sebagai perempuan yang normal, aku pernah jatuh cinta, rindu, patah hati, dan bahkan aku pernah mengalami ketiganya dalam satu waktu yang sama. Lalu apa semua itu salah? menurutku tidak, karena perasaan semacam itu datangnya dari Tuhan. Aku hanya bisa mengadukan semuanya pada Tuhan, tidak pada yang bersangkutan. Nanti dia geer merasa disukai, dirindukan oleh seorang gadis semacam aku.... hahahha. 

    Sampai di paragaf ini saja, pikiranku sedang kacau. Tidak mampu mendeskripsikan lebih mudah lagi soal rindu. Yah memang begitu adanya, karena rindu bukan soal kalimat biasa, namun seperti mantra. Serindu apa pun aku pada seseorang, tidak akan tersampaikan dengan utuh sempurna seperti yang kuinginkan hanya lewat kata-kata amburadul semacam ini. Tapi setidaknya, inilah tulisan kacau yang sedari tadi berdenyut-denyut di kepala meronta ingin segera dituliskan. Yah, tujuan tulisan ini terposting hanyalah sebuah informasi tidak penting bahwa aku sedang jatuh hati, rindu dan patah hati dalam waktu yang bersamaan...Namun semuanya tak pernah tersampaikan. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 1 Agustus 2017


Teruntuk setiap orang yang bernama lelaki. 
    Baiknya aku tidak baper ketika menuliskan hal ini, namun ada satu hal yang harus kusampaikan dengan jelas tentang isi hati yang nyaris saja tumpah ruah di tempat yang salah. Aku selalu saja menulis hal yang mungkin bagimu seperti sampah maka kusarankan segera menyingkir dari blog ini. Karena aku menulis atas perintah hati bukan karena niat menulis dengan serius. 

    Tentang perempuan, kau tahu dia memiliki ingatan yang cukup baik soal angka dan berbagai peristiwa yang pernah terjadi dalam hidupnya. Misal nomor-nomor para mantannya, atau bahkan hari ulang tahun pernikahan orang tua mantannya alias calon mertuanya yang gagal. Hal-hal yang tak penting bagimu, bisa jadi itu sesuatu yang sangat penting bagi seorang perempuan hingga dia akan selalu mengingatnya. Semisal kau punya janji, maka berjanjilah untuk tidak memberinya harapan palsu, atau berjanjilah untuk tidak akan mengingkari janjimu sendiri hai kaum lelaki. Satu hal yang tidak boleh kau lupa, meski pun seorang perempuan punya hati yang lembut, jangan lupakan dia juga sejenis manusia bernama perempuan yang gampang sekali rapuh hatinya karena hal-hal sepele. 

    Kamu boleh ingkar pada siapa pun tapi jangan pada dua orang yaitu dirimu sendiri dan seorang perempuan. Barangkali satu kali janji yang kau ingkari termaafkan oleh waktu, lalu kau melakukan lagi kedua kalinya ketiga kalinya bahkan mungkin tak terhitung telah berapa kali kau membohonginya dan kau hanya perlu mengucapkan satu kata "maaf". Kali ini aku ingin tertawa lebar saat ucapan maaf itu benar-benar kau ucapkan dengan penuh kesadaran. Kenapa? suatu hari aku menemani seorang perempuan yang kutahu dia begitu lembut hatinya dan pernah berjanji untuk tak menyukai siapa pun sebelum dirinya dihalalkan oleh lelaki yang berhasil menaklukkan hatinya. Hingga entah kenapa perempuan yang biasanya menjadi "bunda" ini mengungsi sekitar beberapa hari di tempatku hanya untuk nenangin dirinya yang sedang "sakit" hanya karena lelaki. what? yeah di situ aku kaget. Dia sakit hati, kapan jatuh hatinya sih? begitu pikirku. Pas dipancing-pancing tuh cerita, eh ternyata dia sedikit baper pada seseorang karena suatu hal yang tak ingin kuceritakan di sini. Inti yang ingin kusampaikan adalah, berkomitmenlah dengan ucapanmu, jangan begitu mudahnya kau sakiti hati perempuan sesederhana kau membohonginya meski tanpa sengaja. 

    Satu kali termaafkan, tapi jangan pernah kau lupakan ketika hati perempuan retak sedikit saja karena ulah kecilmu maka senyatanya hati yang ia miliki sudah berubah bahkan meski berulang kali kau bersusah payah membuatnya utuh akan tetap saja kelihatan bahwa hatinya telah pernah retak meski seujung kuku. 

*Sebuah cerita mengenang seseorang yang mungkin pernah kutitipkan rindu. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 20 Juli 2017.
Surat ini kutulis untuk diriku di masa depan.
Va, esok ketika tiada seseorang lagi yang mendengar suaramu, peduli denganmu maka ingatlah bahwa di masa-masa mudamu suaramu lebih banyak bungkam oleh keadaan. Suaramu lebih terdengar semacam jeritan-jeritan kecil yang selalu kau perdengarkan di depan TuhanMu. Yah, ingatlah bahwa kau masih memiliki Tuhan yang selalu mendengar suara-suara hati yang tidak kau ucapkan pada yang lain

Va, kamu tak perlu menangis lagi di pojokan kamar saat pikiranmu bejibun penuh dengan beban dan masalah. Bukankah kau telah akrab dengan itu semua? Bukankah kau selalu berbisik pada dirimu sendiri untuk tidak menjadi seseorang berjiwa lemah, bermental lemah... Kamu selalu cerewet bicara dengan dirimu sendiri bahwa kau sejenis gadis yang sangat kuat, yang selalu bilang "aku baik-baik saja Tuhan"  bukankah begitu Va? maka tolong bacalah surat ini kembali jika 10 tahun- 30 tahun yang akan datang ada banyak terpaan masalah mengganggu urat nadimu, menahan helaan napasmu, ingatlah bahwa kau telah lebih dulu terlatih menghadapi semuanya sendiri. 

Va, ketika orang-orang terdekatmu meninggalkanmu janganlah kau patah hati terlalu dalam apalagi sampai berniat bunuh diri. Ingat kembali Va, di usiamu saat ini, saat kau menuliskan tulisan ini kau telah mengalami banyak kehilangan yang lebih parah dari hanya kehilangan kekasih hati. Kau telah sering mengalami patah hati kesekian kalinya, maka tetaplah berdiri tegak menatap kedepan, bahwa orang-orang yang menyayangimu dengan tulus akan punya seribu alasan untuk tetap tinggal di sisimu meski ada satu alasan kuat untuk pergi meninggalkanmu.

Va, kau percaya kan Tuhan itu tak pernah dzalim dengan hambanya ? Yah, percayalah selama kau berjalan di jalanNya, di jalan yang diridlaiNya, tak perlu resah dengan orang lain yang mungkin telah lama memendam rasa benci terlalu dalam melihatmu bahagia. segalanya akan terjadi secara bergantian, dan tetaplah memiliki hati yang anggun yang tidak mudah mendendam pada siapa pun. 

Surat ini hanya sekadar surat untuk diri sendiri di masa 10-30 tahun yang akan datang. Ketika kau mengalami masa-masa paling sulit yang kesekian kalinya, bacalah kembali tulisan-tulisan ini hingga tuntas. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 22 Ramadhan 1438 H
Syemangat malam para teman-teman sekalian.... Heiii sebelum aku menulis di sini, ada kabar gembira yang ingin kubagi. Apaan? liburan. Yah, liburan telah tiba dan selalu kutunggu-tunggu sambil lalu melototin kalender tiap hari mencari tanggal-tanggal merah atau menghitung berapa lama lagi libur panjang akan datang... Hehehee penting? iyalah penting banget buat aku, tapi nggak penting buat kamu :P Tidak terasa yah, tantangan menulis bersama kampus fiksi sudah memasuki hari keenam. Woaaaaa, blogger macam aku yang suka ngediary di sini mendadak jadi sangat produktif karena dideadline. Yuuk ah, lanjut....

    Alasan apa yang membuatmu pantas memiliki pasangan hidup yang baik? Tentu saja semua orang menginginkan pasangan yang baik. Sebejat-bejatnya seseorang aku yakin mereka pasti akan selektif dalam memilih pasangan hidup. Namun, sebelum kita memimpikan banyak hal dari calon pasangan kita, mari sedikit telisik lebih dalam diri kita yang sebenarnya, kenali diri kita yang sesungguhnya, bercerminlah dan jujurlah pada diri sendiri, apakah kita pantas mendapatkan pasangan seperti yang kita inginkan?
Beberapa alasan kenapa aku pantas memiliki pasangan hidup yang lebih baik:
     
   Pertama aku memang bukan wanita yang punya wawasan dan pengetahuan agama yang luas namun bukan berarti aku  berhenti belajar untuk terus menerus mengubah diriku menjadi sosok muslimah yang lebih baik dari hari kemarin-kemarin. Nah, saat berikhtiar semacam itu, aku selalu berharap semoga pasanganku pun sedang menyibukkan waktunya untuk menjadi seseorang yang lebih baik, seseorang yang memantaskan dirinya sebagaimana aku memantaskan diriku untuk memiliki pasangan hidup sebagaimana impianku.

    Kedua, orang bilang aku itu absurd. Yeah, aku bahkan tidak akan sakit hati dengan predikat absurd. Hal inilah yang membuatku yakin aku pantas memiliki pasangan hidup yang baik. Lah kok bisa? yah bisa dong, kan namanya pasangan, pasti berbeda. Semisal proton, muatan positif pasti berpasangan dengan elektron yang bermuatan negatif. Begitu pula dengan aku. hihihi... Meski absurd, aku yakin Tuhan tidak mendzalimiku dengan memberiku pasangan yang tidak lebih dari aku, tentu saja pasangan yang baik biar aku tidak selamanya absurd -_-

    Ketiga, Aku ini sejenis tipe orang yang boleh dibilang "Mandiri" sejak usia dini. Apa yang kuinginkan selalu kuupayakan dengan tanganku sendiri semaksimal mungkin. Dimanja? dalam keluargaku tidak ada istilah dimanja, apalagi bergantung pada orang lain. Ketika menginginkan sesuatu, maka yang bertanggung jawab meraihnya adalah diriku sendiri dengan usahaku. Kalau gagal gimana ? Aku bersahabat dengan berbagai kondisi buruk dalam hidup. Keadaan semacam itu melatihku untuk survive dimana pun aku berada dan dalam keadaan apa pun. Hal ini pula yang membuatku yakin bahwa aku pantas memiliki pasangan hidup yang baik. Meskipun aku perempuan, jangan khawatir aku hanya akan membebani hidup sebagaimana perempuan yang suka ngemall misal, atau suka molas-moles muka pake modal nuntut pasangan harus ngasih ini itu, menggantungkan diri pada pasangan. Kamu (pasanganku) in sya allah bisa mengandalkanku untuk urusan semacam itu. Hahahha. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 21 Ramadhan 1438 H.

Semangat malam teman-teman yang sempat berkunjung ke blog pribadi eva... ^_^ Jangan lupa jaga kesehatan yah, jangan sampai kayak eva yang malah jatuh sakit saat bulan puasa. Duuuuh ga enak banget deh. malah curhat... Oke kawan-kawan, hari ini sudah memasuki hari keempat tantangan menulis bersama kampus fiksi dan basa basi store. Temanya adalah menuliskan sebuah peristiwa di masa lalu yang sangat memalukan... duuuh kok aku mendadak benar-benar malu yah, menuliskannya di sini. But it's oke, semua sudah masa lalu, dan aku harap tidak akan pernah terjadi lagi di masa-masa sekarang.

    Suatu cerita klasik dalam sejarah eva tentang peristiwa yang sangat memalukan adalah soal kantuk. Bayangkan yah, dimana kamu akan menemukan seseorang yang bisa tidur nyenyak di atas motor? ada? Tentu saja ada, dan itu adalah diriku. Tapi aku tidak akan menulis tentang aku yang mengantuk di atas kendaraan, ini soal yang lebih parah dan memalukan. 

    Aku ini sebenarnya pernah nyantri waktu SMA, mengertilah jatah tidur seorang santri itu sangat minim bahkan bisa dihitung berapa kali aku tertidur dengan nyenyak saat di pesantren. Walhasil, kantuk itu sering menyerang saat jam pelajaran di sekolah. Anehnya adalah, kantuk itu datang hanya pada saat jam-jam mata pelajaran Tafsir Quran atau Hadits. Oh my god, di sini aku merasa gagal jadi seorang santri yang nyata. Entah apa penyebabnya, sejak aku masuk kelas X sampai kelas XII aku selalu mengantuk saat pelajaran itu berlangsung. Tapi tidak untuk pelajaran berhitung, mengarang, atau membaca kitab turats, bahkan mungkin aku termasuk salah seorang yang aktif di pelajaran menghitung, atau seputar qiraatul kutub. Aneh sungguh aneh memang.... Kupikir aku ini ngantuk karena makan yang terlalu banyak, akhirnya aku berpuasa di setiap jadwal tafsir quran dan hadits. Tapi, tetap saja cara itu belum ampuh untuk menghilangkan kantukku. Karena aku selalu duduk di bangku paling depan, otomatis ustadz yang mengajar akan melihat siswanya yang sedang berperang melawan kantuk ini, hingga suatu kali si ustadz datang menghampiri bangkuku dan menetap di sampingku. Namun anehnya lagi aku tetap merasa ngantuk.. Ya allah hingga aku benar-benar merasa menyesal dan berdosa tidak menghiraukan ustadzku yang sedang mengajar itu. Hal yang paling memalukan adalah ternyata ustadz yang mengampu pelajaran Tafsir quran adalah teman baik ayahku di pesantren. Itu pun aku tahu, saat detik-detik menunggu kelulusan kelas akhir. Parahnya lagi, si ustadz rupanya mengenalku sejak lama bahwa muridnya yang selalu ngantuk ini adalah putri teman baiknya. 

    Suatu hari sebelum aku boyong dari pesantren, ayah pernah mengajakku untuk bersilaturrahmi ke rumahnya. Tentu sjaa aku dengan tegas menolak tanpa alasan. Bukan karena apa, tapi aku tidak mau diriku tambah memalukan. Aku bahkan sangat mengingatnya peristiwa itu hingga hari ini. Salah satu alasan paling masuk akal ketika aku ditanya kenapa aku lebih memilih mendalami ilmu eksak dibandingkan yang lain. Toh, ilmu eksak pun sama-sama mengajarkanku tentang keajaiban-keajaiban ciptaan Tuhan yang membuatku terus menerus belajar untuk mengenal Tuhan dengan sendirinya melalui jalur pembelajaran bukan sekadar doktrin dari orang tua. Cukup itu saja dulu ceritaku malam ini, sungguh aku meminta maaf pada ustadzku dulu waktu di pesantren MA. Semoga kejadian semacam ini tidak akan pernah terjadi lagi untuk kesekian kalinya. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 19 Ramadhan 1438 H.
Semangat malam para tamu blog pribadiku.... Semoga kamu senantiasa semangat dan terus semangat puasa dan nulisnya.. Oke sampailah kita di hari yang paling bikin baper selama seminggu kedepan, karena saat melihat tema tantangan hari ini cukup bikin kisruh di pikiran. 

    Tentang sebuah kehilangan, seringkali membuatku gagal menuliskan atau menceritakan banyak hal tentang kehilangan. Bukan karena apa, tapi aku harus berani membongkar banyak sayatan-sayatan luka yang tergores di masa-masa lalu yang kini tengah mengalami masa penyembuhan. Selama merantau di sini, di kota ini, aku kehilangan banyak hal entah itu seorang teman baik, sahabat, orang yang diam-diam kusebut dalam doa namun tak berjodoh atau seseorang yang mewarisi darahnya di tubuhku. 

    Seseorang itu bernama Nana, aku mengenalnya sejak beralih tempat tidur dari satu pesantren ke pesantren yang lain dimana hari ini aku tinggal. Seseorang itu lebih dari sekadar teman biasa, meninggalkanku karena memang waktunya dia harus balik ke kampung halamannya. Adalah dia yang mau menerimaku sebagai teman dengan hati yang paling tulus sepanjang aku mengenal banyak orang. Adalah dia yang selalu memahamiku seperti seorang ibu menyayangi anaknya. Aku rindu, sangat merindukannya. Suatu hari nanti, aku berharap akan ada satu kesempatan dimana kami akan bertemu kembali untuk menuntaskan rindu yang selalu hadir. Semoga ukhuwah kita yang sempat terputus, akan tersambung kembali hingga akhiratNya.

    Seseorang itu bernama "Nathan" Lelaki yang diam-diam pernah mencuri senyumku berkali-kali hingga aku jatuh hati. Hampir setiap hari, bahkan terlalu sering blog ini hanya tertulis soal Nathan dan Nathan. Karena dia memang inspirasiku, sejak pertama kali aku menjatuhkan hati padanya. Kehilangannya adalah suatu kehilangan terberat sejak aku tau bagaimana rasanya patah hati dan aku menikmatinya. Patah hati yang tak menyurutkan doa namun terus menerus kurapal berharap takdir Tuhan itu bisa kunego dengan menghadirkan Nathan untuk menjadi teman hidup yang tidak tergantikan. Sayang seribu sayang, rasanya tanganku tidak akan pernah sampai merengkuh sosok seorang Nathan. Kamu tahu rasanya perempuan itu jatuh hati ? lalu patah hati dalam waktu yang bersamaan? Ah, saat itu aku benar-benar jatuh hati berkali-kali dengan sebenar-benar jatuh hati. Aku ingin jatuh hati berkali-kali pada orang dan hati yang sama. Tiada satu sujud yang terlewati dari menyebut nama seorang Nathan. Aku tak hanya sekadar merayu Tuhan, namun aku mendemonya dengan banyak doa yang tak henti aku rapal sepanjang hari, selama jantungku masih berdetak. Rindu itu sungguh ada, bergentayangan dalam setiap dingin yang berhembus di antara pekatnya malam. Rindu itu sungguh menghangatkan, tatkala aku aku jenuh dengan hari-hariku yang membosankan. Adalah Nathan, seseorang yang diam-diam aku menyukainya. Raut wajahnya yang menyejukkan sebab basahan air wudlu'nya, ucapannya yang mendamaikan, sebab aku yakin hari-harinya hanya dipenuhi soal menjaga al-quran menetap dalam hatinya, kesederhanaannya, dan tentang senyum yang kadang tanpa sengaja kucuri beberapa kali saat jarak kami mungkin hanya sekitar 100 cm di depan mata. Aku pernah punya suatu pikiran, Nathan pun merasakan hal yang sama denganku namun, itulah dia seseorang yang memiliki iman jauh lebih tinggi dari nafsunya, tidak akan berani menyatakan soal perasaan macam ini sebelum ikrar sah diucapkan. Ah, yah aku tak ingin menuliskan banyak hal tentang dia lagi malam ini di sini sebelum aku benar-benar larut dalam kenangan. 

    Seseorang yang meninggalkanku beberapa bulan terakhir adalah sesosok wanita yang berperan lebih dari seorang ibu, dialah almarhumah nenek, ibu dari ibuku. Beberapa hari lagi aku akan mudik untuk kembali bersua dengan keluargaku, namun aku bingung pada siapa aku akan pulang. Bercerita dengan seru tentang Jogja yang berhati nyaman. Aku selalu bahagia ketika liburan itu tiba, karena di rumah ada nenek yang sangat menyayangiku melebihi cucu yang lainnya. Pelukannya adalah pelukan terhangat sepanjang masa, menina bobokkan aku yang sudah dewasa ini layaknya bayi yang baru lahir. Wanita yang selalu menyiapkan buka puasaku dua hari sekali sepanjang tahun aku bersamanya. Kemarahannya adalah sesuatu yang paling kurindukan saat ini. Ramadhan tahun lalu aku masih tidur bersamanya, memijiti kakinya, mengelus-ngelus rambut putihnya, menina bobokkan sebagaimana yang beliau lakukan padaku saat masih sehat. Setiap pagi, aku begitu riang menuangkan tehnya, mengantarkan sarapannya, menemaninya sarapan sambil mengajanknya ngobrol dan ah yah aku masih selalu ingin memeluknya dan tidak ingin kulepaskan. Bahkan, saat terakhir beliau menatap dunia untuk terakhir kalinya aku tak sempat melihanya kembali untuk terakhir kali. Kehilangan seorang nenek bagiku bukan sekadar kehilangan biasa, tapi aku benar-benar kehilangan separuh kekuatan hidupku. Saat orang lain dengan entengnya memarahiku, menyalahkanku dengan seenaknya, menambah beban perasaan saat nilai raporku terjun bebas, ada nenek yang tidak pernah memarahiku. Ada seorang nenek yang menguatkanku, memelukku dengan hangat dan tak seorang pun yang punya rasa peduli sebagaimana nenek peduli padaku. Satu-satunya orang yang selalu mendengar suara kecilku, peduli dengan teriakan hati yang kadang orang lain tak pernah menghiraukan. Sejak hari itu, tenggelamlah pula suaraku bersama kepergiannya dari kehidupanku. Kehilangannya membuatku berpikiran aku tidak ingin pulang ke rumah kembali, aku tidak ingin mengalami masa-masa kecil yang sangat menyeramkan itu tanpa seorang nenekku. Seringkali aku berpikir suatu hari aku akan kehilangannya, ia akan meninggalkanku seorang diri dan aku takut membayangkannya. Keinginan terkuat untuk merantau setelah studi bukan karena aku terlalu betah di tanah orang tapi hanya karena aku kehilangan tempat pulang. Mungkin kehilangan ini terlihat berlebihan, namun percayalah seorang anak kecil selalu tahu siapa orang-orang yang benar-benar menyayanginya, dan aku telah kehilangannya.  Sudah cukup di sini aku menguras air mata ini berkali-kali. Sudah kubilang, bahwa menuliskan tentang kehilangan akan selalu menarikku pada masa-masa yang mengerikan.Terimakasih mau berkunjung di blog pribadiku ^_^

Eva Edelweis, Yogyakarta 18 Ramadhan 1438 H.

Hai para blogger.... Selamat berbahagia memasuki tantangan hari kedua. ^_^
Seandainya aku diberi kesempatan untuk memelihara berbagai jenis binatang yang ada di dunia untuk kupelihara di rumah, ada 5 binatang yang sangat ingin kupiara.

1. Kucing Anggora
   Salah satu hewan yang paling kusuka adalah kucing. Hewan berbulu halus itu selalu bikin aku jatuh cinta dengan keimutannya. Waktu kecil aku memelihara kucing Persia, namun kucing itu jomblo dan mati dalam keadaan jomblo sehingga dia tidak mewariskan keturunan untjk kupiara sebagai penggantinya. hikss hiks... sampe hari ini aku belum menemukan pengganti kucingku yang mati. Aku ingin sekali memiliki jenis kucing anggora karena terpesona dengan bulu lebatnya yang sangat halus, namun karena aku nyantri jadi aku belum bisa memelihara kucing dengan seenaknya. Aku pun ingin memiara kucing ini untuk kujadikan teman bermain yang bisa digendong kemana-mana. 

2. Burung Beo
Aslinya aku tidak terlalu tau soal jenis-jenis burung. Namun, spesial untuk Beo, aku mengenalnya pun waktu kecil saat almarhum kakekku punya sekitar 3 burung Beo di depan rumah yang sangat cerewet mengucapkan "assalamualaikum" saat ada tamu. Karena keunikannya itulah aku ingin sekali memeliharnya, sebagai salah satu hewan piaraan di rumah. Burung Beo ini bisa menirukan omongan manusia loh, dan bisa menjadi teman bicara saat kamu sendirian. hihiiii.

3. Panda
Siapa yang ga tahu dengan hewan bertubuh gempal warna hitam putih yang punya bulu-bulu menggemaskan? Ya, dialah Panda. Salah satu dari hewan impian yang ingin kupiara di rumah. hihihi....Di belakang rumahku, ada banyak bambu yang siap menjadi taman bermain dan santapan para Panda. Aku pun ingin memeliharanya, karena dia punya postur tubuh yang sama lucunya dengan kucing. Ga kebayang saat dia menggelindingkan tubuh gempalnya.... 

4. Burung Merak
Burung ini memiliki khas bulu yang berbeda dari burung lainnya. Bulunya yang warna warni dengan mahkota cantik di kepalanya, membuatku jatuh hati melihatnya dan begitu sangat ingin mempeliharanya. Aku sempat melihatnya langsung saat di tempat wisata Eco Green Park yang ada di Malang. Sekian banyak burung yang cantik, hatiku tetap jatuh dan terpesona dengan keindahan bulu-bulu Merak.

5. Sapi
Yah, aku ingin memelihara sapi bukan berarti aku menjadi penggembala sapi. Hahahaha tidak, sama sekali tidak. Aku ingin memilikinya hanya karena sapi itu identitas sebuah kekayaan. Maklum, aku ini anak desa, jadi siapa yang punya banyak sapi, dia itu orang kaya. hahahhaha. Kok aku jadi mendadak mata duitan? nggak apa-apalah yah, toh ini kan impian jadi kaya, siapa tahu kaya di usia muda hanya dengan punya Sapi yang banyak. wkwkwkkw 
Terimakasih atas kunjungganya di blog pribadinya epa, silahkan tinggalkan jejak sebagai tanda anda sudah bersilaturrahmi dan ngopi di rumah saya ini... hihi smapai jumpa besok yah.... 

Eva Edelweis,  Yogyakarta 17 Ramadhan 1438 H.
Berbicara tentang perempuan, tak kan ada habisnya. Maka sebagai perempuan izinkan aku menuliskan beberapa hal tentang perempuan yang harus kau tahu, hai kaum lelaki. Kamu bacanya sambil ngopi saja yah, ga usah terlalu serius biar aku juga enjoy menuliskan "perempuan" di part selanjutnya.... 

    Lelaki sejati menurutku sebagai perempuan bukan lelaki yang maco, yang digandrungi banyak cewek apalagi punya banyak mantan. Bukan, bukan itu semua... lelaki sejati adalah lelaki yang berani memberikan kepastian pada seorang wanita. Mayoritas para cewek suka dengan coklat, tapi percayalah dibandingkan sebatang coklat, cewek lebih menyukai sebuah kepastian. Iya, kepastian yang berasal dari kamu hai para lelaki. Kok gampang banget sih kamu bilang gitu Va? mungkin dalam benakmu kau bilang begitu..... santai dulu gaes, bacanya santai saja.... Kalau kamu ga setuju, aku terbuka untuk diberi masukan dan saran terbaik dari kalian para pembaca.... yuuuk lanjutkan !

    Seseorang yang mengaku lelaki tentu berani dong ngasih kepastian buat ceweknya, bukan cuma berani macarin doank sampe bertahun-tahun. Wanita itu bukan barang kreditan loh yah, ga usah lama-lama macarin anak orang. hahahahha.... Kalau kamu tidak siap, lepaskanlah dan kembalilah jika kau sudah siap menemui walinya.

    Banyak alasan yang dilontarkan oleh lelaki, yah masih kuliah lah, masih mau berkarir lah, masih nyari pengalaman lah dan berjuta alasan yang diberikan agar si cewek mau menunggu dulu dan lebih memilih bertahan dalam masa pacaran. Kalau sadar masih kuliah, duit masih hasil dari transfer tabungan orang tua yah udah kuliah saja yang bener, eman tuh duit buat biaya ngapelin anak orang yang belum tentu jodohmu belum lagi biaya kalau merayakan anniversary, ulang tahun dan lain sebagainya. Mau berkarir dulu? silahkan.... mau nyari pengalaman? silahkan.... Perlu kau ketahui hai lelaki, wanita itu sejenis makhluk Tuhan yang memiliki kesetiaan yang luar biasa. Ketika kau menangguhkan sebuah hubungan yang serius hanya karena kau masih kuliah, yakinlah wanita punya banyak alasan untuk setia menunggu hingga studimu selesai. Tapi jangan salahkan wanita yang memilih melepaskanmu dibandingkan harus menunggu bertahun-tahun tanpa sebuah kepastian.

    Apa mereka layak disebut pengkhianat, meninggalkanmu dan lebih memilih lepas dari hubungan denganmu? kukira tidak. Semua itu bukan sebuah pengkhianatan, tapi sebuah keputusan yang tepat. Buat apa menunggumu yang tak pasti, sementara waktu tak pernah mundur usia pun makin bertambah seiring berputarnya masa. Daripada termakan usia dengan sia-sia, maka biarkanlah dia beralih pada hati yang lain yang memiliki kesiapan lahir batin menemani hari-harinya dengan hubungan yang lebih serius berupa sebuah pernikahan. 

    Apakah kamu sakit hati dengan omonganku di sini? marilah berpikir realistis, cinta itu bukan sebuah pembodohan dengan hanya menjalani sebuah hubungan tanpa status yang jelas, apalagi menunggu bertahun-tahun hal yang tak pasti. Mau melepaskan kok eman? dia romantis banget orangnya.... Cinta itu bukan hanya soal romantis macam film bollywood yang begitu jatuh hati langsung nari-nari mengelilingi pohon mangga misal, dikit-dikit terdengar tembang lagu yang memabukkan. Ngimpi!!!!! 

    Jika kau memang lelaki sejati, maka berikanlah sebuah kepastian atau kau berani melepaskannya pada hati yang lain. Bangun kembali komitmen hidupmu, perbaiki diri dan jadilah "Lelaki" dengan tidak hanya sebagai pemaknaan makhluk Tuhan yang punya jakun. Pisssss ga usah misuh-misuhin aku yah.... 

*Sekian dulu tulisan pertamaku spesial Ramadhan tentang "Perempuan", mau misuh-misuh atau memberikan saran sangat diperbolehkan, asal dengan  bahasa yang halus... Blog pribadi ini tidak didekasikan dibaca orang-orang yang serius, memiliki penyakit  hipertensi, Jantung, terkena asam lambung dan sebagainya... Spesial Ramadhan, tulisan ini hanya akan bicara "perempuan" maka kalau anda terindikasi sakit bosan, silahkan hengkang dari rumah saya :)

Eva Edelweis, Yogyakarta 8 Ramadhan 1438 H.



Assalamualaikum para pembaca blog pribadinya epa, semoga selalu sehat yah ^_^ 
Marhaban yaa Ramadhan.... Selamat menunaikan ibadah puasa sahabatku semuanya. Sudah lama rasanya aku tak menyambangi rumahku, maka hari ini aku kembali untuk menyapa kalian semua. Ada yang kangen aku ga? hahahah ehhhm maksudku kangen tulisanku? hihihi.... 

    Ramadhan tahun ini aku masih di jogja, tapi alhamdulillahnya sudah tidak lagi berstatus sebagai mahasiswa. Tulisan kali ini terinspirasi dari seseorang yang sangat tidak ingin kusebutkan namanya, namun tidak membuat tulisan ini menjadi kurang michin meski namanya tak kucantumkan secara eksplisit. Begitu Ramadhan datang, hampir seluruh media sosial berisikan tentang "permintaan maaf" dari setiap pemilik medsos. Entah itu via facebook, WA, Line, BBM, Messenger dan segala jenis media sosial. Tapi satu hal yang membuatku tertarik untuk menuliskannya di sini. Setelah kamu menuliskan banyak kata maaf lewat media sosial, sudahkah kamu bermaaf-maafan dengan orang-orang yang tinggal bersamamu? dengan orang-orang terdekatmu? Apakah sudah terjalin hubungan sangat baik dengan mereka? Kadang kita abai dengan orang-orang yang justru hidupnya begitu dekat dengan kita, abai dengan orang-orang yang begitu sering kita habiskan waktu bersamanya... Kadang kita hanya latah mengucapkan maaf via media sosial tanpa peduli hubungan kita dengan orang-orang terdekat justru tidak baik.... Sadarilah bahwa bersama merekalah justru dosa kita menggunung kawan, perilaku yang mungkin tanpa sadar menyakiti orang lain, ucapan kita yang kadang juga tanpa kita sadari memecah belah ketenangan hati seseorang di dekat kita, sadarilah itu semua. Kenapa kamu justru rela menghabiskan kuota-kuota internet hanya untuk meminta maaf pada mereka orang-orang yang mungkin hanya berteman di dunia maya saja,bahkan dari mereka ada yang tidak kau kenal,  kenapa tidak mengevaluasi kesalahan kita terhadap orang-orang terdekat kita? kenapa kita tidak menyambung silaturrahmi memperbaiki saling meminta maaf dengan mereka orang-orang yang ada di dekatmu terlebih dahulu? apalah arti sebuah status media sosial yang kau tulis itu jika hanya sebuah pencitraan yang kau munculkan, ingin dishare banyak orang ingin dilike banyak orang? 

    Kata maaf tidak cukup hanya sekedar kau tulis dengan apik di dinding-dinding media sosial, tapi alangkah baiknya jika kau melakukan apa yang kau tulis itu dengan hati yang tulus bukan sekedar pencitraan di mata publik.  Yah, mumpung Ramadhan yang berkah ini baru saja datang bertandang, maka yuuuk perbaiki hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita, barangkali banyak sekali ucapan yang keluar dari mulut kita serupa sampah busuk yang mengganggu napas orang lain. Jangan ada dendam di antara kita, kalian yang mungkin tersingggung dengan omonganku, mohon maaf tiada batas. Sungguh blog pribadi ini hanya untuk membuang sampah yang menumpuk di kepala, tidak untuk menyinggung atau menyindir siapa pun. Terakhir, semangat yah puasanya.... Apalagi buat para jomblo, tetap semangat meski tidak ada yang ngingetin kamu berbuka puasa atau sekedar membangunkan sahur.. Kudoakan semoga segera menemukan jodoh dunia akhirat... ^_^ 

Eva Edelweis, Yogyakarta 1 Ramadhan 1438 H



    Aku memanggilnya  lek Imut. Yah, imut sekali memang dan menggemaskan. Hahahaha.. katanya dia sudah bertambah usia, bahkan aslinya usianya melampaui usiaku tapi tetap saja aku menyebutnya "Lek" yang artinya adik. Selain karena memang posturnya yang imut, dia memang imut seperti anak-anak balita dan kalau gemes, rasanya pingin nyubit-nyubit  dia  sampe puas (huaaa maapkan saya lek..). tapi kecil-kecil kamu gesit.. hahahah.. Cukup sudah aku bicara ga jelas di sini, yang ingin kutulis bukan tentang itu semua...

    Pertama, kuucapkan selamat panjang umur, semoga bertambahnya usia bertambah pula keberkahan hidupmu, bertambah dewasa, dan tambah imut tentunya... Lancar risetnya yah :) selebihnya, aku cukup mengaminkan segala pinta baikmu... 

    Gara-gara mengingat omonganmu semalam, tiba-tiba aku terbersit untuk ngeblog malam-malam tanpa harus ada acara mewek ga jelas.. Sungguh malu, malu pake banget, karena pernah suatu hari saat tanpa sadar menangis di depan customer ganteng yang mau masukin sample dan kau tahu apa yang kurasakan? rasanya mau menghilang kayak raib di novelnya bang Tere.... 

    Kadang kita ingin menangis sejadi-jadinya tanpa pernah tahu sebenarnya apa alasan kita ingin menangis. Syukur-syukur ga ngamuk ke orang lain.. tapi sadarilah bahwa air mata yang mengalir dari seorang wanita bukan air mata yang sembarangan membanjiri pipi kita lek, tapi itu karena hati yang menggerakkan pikiran kita untuk menangis. Kau tahu kenapa? karena mungkin hati kita terlalu lama menyimpan dan memendam sesuatu yang tidak seharusnya kita simpan di sana. Sesuatu yang mengganjal berupa sakit yang telah lama mengeras membuat hati kita berontak diam-diam untuk meluapkannya. Kita harus menangis, meski terlihat cengeng tapi tidak lantas membuat kita terlihat lemah hanya karena soal menangis tanpa alasan. Kita harus menangis untuk menyadarkan diri sendiri bahwa kita memang hanya sejenis manusia biasa yang memiliki batas-batas tertentu untuk selalu merasa baik-baik saja. Jika kita memang tidak baik, katakanlah tidak baik jangan selalu disimpan terlalu lama biar hati kita ga karatan jadi manusia tapi tidak berhati manusia. Karena ketika kita mampu jujur dengan diri sendiri, di situlah hati dan pikiran bisa diajak berkompromi untuk tidak panik dan bisa mengontrol emosi dengan baik...

    Semalam aku pun merasakan hal yang sama, ingin menangis sambil teriak-teriak macam orang gila biar puas sekalian... tapi yang terjadi justru hanya menangis sesenggukan di pojokan kamar. Bahkan meski ada yang bertanya kenapa menangis, mungkin hanya tersenyum kecil dan mengatakan "aku rapopo" padahal dalam hati rasanya sudah mau meledak hasrat ingin cerita, curhat dan berbagi pada orang lain. Namun, harus disadari hal-hal seperti itu tidak seharusnya ku bagi-bagi, tidak penting orang lain tahu keadaan hati kita yang sedang kacau. Kita hanya harus memastikan bahwa sekacau apa pun, diri kita tetap berdiri tegak di tempat dan tak mudah rapuh hanya karena sedikit masalah. Namanya juga hidup, pasti penuh masalah... iya kan? kalau tidak ingin dapat masalah, silahkan pindah rumah menuju alam barzah kata guruku... Perlu diingat, selama bumi masih bulat dan tetap berotasi pada porosnya maka begitulah hidup kita akan terjadi, ketika ada sedih maka akan dengan cepat berganti gembira. Ketika ada luka maka akan segera berganti bahagia. Seperti halnya hari ini, saat tulisan ga jelas ini ditulis rasanya kok aku seneng, hati berbunga-bunga padahal tidak pernah tau apa yang sebenarnya bikin senang. Barangkali kamu perlu seperti ini, sedih seperlunya dan bahagialah dengan sederhana....

    Tanpa sadar, aku telah menulis hal-hal yang mungkin kurang penting namun dengan sengaja kamu baca sampai selesai. hahahaha... Tulisan paling sederhana dedikasi untuk lek imut, gadis terkocak yang pernah aku kenal, yang sudah berusia 22 tahun katanya... peluk jauh untukmu, kalau kau ingin kado mainlah ke jogja =D Semoga kamu selalu bahagia.

Eva Edelweis, Yogyakarta 28 April 2017.



#Tantangan 10 Hari Menulis Bersama Kampus Fiksi
Selamat pagi... Tulisan ini memenuhi tantangan 10 hari menulis bersama kampus fiksi, setelah sekian hari diriku mutung karena eksperimen di lab gagal berkali-kali, ditambah lagi kondisi kesehatan yang tidak mendukung.... Jadinya mohon maap telat yak....

"Ud'uunii istajib lakum"
   Kamu merasa tidak asing dengan kalimat tadi kan? yup, itu bukan kalimat bikinanku tapi janjinya Allah yang ada dalam Al-Quran. Setiap kali aku merasa diriku tak bisa apa-apa, segala usaha telah kulakukan namun hasilnya tak memuaskan barangkali aku hanya punya satu keyakinan bahwa dengan do'a, Tuhan akan mewujudkan lebih cepat dari segala apa yang kuharapkan. "Berdoalah padaku, niscaya aku akan menjawab doamu" kira-kira begitulah maknanya. 

    Kamu percaya Tuhan kan, maka mintalah segalanya pada Tuhan, karena janji Tuhan itu pasti. Jika kamu pernah merasa doamu tidak terkabulkan, barangkali ada kesalahpemahamanmu tentang do'a. Aku pernah menuliskannya di postingan  tulisan tahun lalu, untuk membacanya lebih lanjut kamu bisa mengunjunginya di halaman ini http://evaedelweis.blogspot.co.id/2016/11/tuhan-itu-maha-oke-loh.html. Aku pernah mengalami hal-hal tersulit selama masa perkuliahan, tidak hanya tentang urusan studi bahkan segalanya aku pasrahkan dalam wujud do'a untuk mengiringi segala upaya yang pernah kulakukan. Bahkan, hanya doa yang menjadi satu-satunya penguatku untuk tidak lagi menangis berhari-hari larut dalam kesedihan, menyerah dan kecewa dengan kenyataan yang tak sesuai dengan harapan, yah hanya do'a yang kuandalkan. Meski, ketidakmungkinan itu semakin nyata di depan mata, aku masih tidak bosan untuk menghembuskan segala ingin pada Tuhan, aku masih belum lelah dengan doaku sendiri. Karena memang hanya do'a yang mampu mengubah ketidakmungkinan menjadi mungkin. :) Satu keyakinan yang pasti, bahwa Tuhan akan menjawab segala pinta dengan jawaban terbaik, meskipun kadang melenceng dari harapan kita. Jangan lelah berdoa, itu saja yang selalu kuingat sepanjang hidupku. Jika dalam berdo'a saja kau lelah, lalu dalam bentuk apa kau hendak bicara atas segala ingin yang bersarang dalam kepalamu Va?

Eva Edelweis, Yogyakarta 26 Januari 2017
Previous PostPostingan Lama Beranda