Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan

    Menikah, bagiku perkara paling sakral seumur hidup. Aku tidak pernah menginginkan masa laluku yang hitam kembali terulang. Jika kamu bertanya "kapan siap menikah" mungkin aku hanya bisa menjawabnya dalam hati. Sebuah keluarga bukan arena untuk coba-coba, aku mengumpamakannya seperti kapal kecil yang ada di tengah lautan lepas .. butuh perjuangan agar tidak oleng. Kau mengerti kan?  yah tentu saja pernikahan butuh persiapan dan tidak semena-mena hanya mengandalkan cinta. Apalagi hanya karena ocehan mulut tetangga.

    Aku pun butuh seseorang yang mencintaiku saat tua nanti. Seorang kamu yang akan menghapus luka lama yang tak pernah hilang dalam memori. Menurutku, keluarga adalah sebuah rumah cinta yang dipenuhi jutaan cinta di dalamnya.... Hanya ada cinta, tidak yang lainnya. Jika kamu tidak menemukan cinta itu di sana, barangkali ada yang salah dari keluargamu. Itu yang tidak kuinginkan.... Aku hanya ingin memberikan cinta yang lebih untuk seluruh penghuni rumah kita. Ketika aku menunda menikah, bukan berarti aku tak punya cinta tapi tabungan cintaku belum cukup untuk kubagi bersama.. Mungkin hanya cukup untuk membahagiakan diriku sendiri. Aku takut dengan kata-kata cerai, kekerasan dalam rumah tangga, ketidak puasan pada pasangan, tidak bahagianya anak-anak, kegagalan dalam membersamai keluarga, kegagalan mendidik anak... dan masih banyak hal yang kutakutkan..... aku sungguh takut.....mengertilah..aku cuma butuh waktu untuk berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan masa lalu agar mata batinku bisa melihat dengan jelas ada banyak cinta di sekelilingku, termasuk dari kamu. Aku pun butuh waktu menyadari satu hal, bahwa aku pantas dicintai.... 

    Kenapa aku menuliskan semacam ini di blog pribadi? biar kamu sabar menungguku sebentar saja..... sabar menunggu dalam hal yang pasti. Yakinlah, Tuhan tidak pernah salah menentukan takdir kapan kita bertemu dalam sebuah hubungan yang halal... :) 

Yogyakarta, 16 Robiul Awal 1438 H



    Assalamualaikum...... Bertemu lagi denganku eva edelweis, gadis madura berhidung minimalis. Kali ini aku ingin share sedikit cerita tentang santri. Why about santri? karena aku seorang santri, dan kamu tidak usah protes. hahaha -_- 

    Sekitar dua tahun yang lalu, tahun 2015 pemerintah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional dalam rangka sebagai peringatan histori tentang peran santri yang luar biasa dalam menjaga keutuhan NKRI. Sementara aku, merayakan hari santri dengan cara menerbitkan sebuah tulisan sederhana ini di blog pribadi. 

    Terhitung 8 tahun sudah aku berstatus sebagai santri. Satu windu itu tidak cukup buat seseorang mengais ilmu di pesantren, karena apa? bahkan hingga hari ini pun aku menyesal kenapa tidak sejak balita saja aku dijebloskan ke pesantren. Loh kok bahasanya dijebloskan sih? Iya, karena pertama kali aku nyantri, aku terpaksa mondok karena keinginan orang tua. Aku benar-benar tidak betah tinggal di pesantren. Sejak hari pertama diserahkan ke pak kyai, orang tuaku tidak menjengukku atau sekadar menelpon ke pesantren untuk menanyakan kabarku, hingga liburan pun tiba. Hiks.... menyedihkan yah :(

    Menurutku, pesantren itu semacam rumah sakit yang menyembuhkan seseorang dari sakitnya. Terserah kamu setuju atau tidak, tapi ini kan hanya soal pengalaman. Aku yang dulu benar-benar sosok aku yang individualis, yang sama sekali tidak mengerti arti empati, tidak mengerti tentang bagaimana hidup bersama dengan orang-orang yang beda kepala beda isi. Awalnya sangat menyiksa, bahkan katakanlah aku sendiri merasa terkucilkan diantara 40 orang yang menghuni kamar di tempatku berada. Yah, kamu ga usah kaget ketika tadi aku menyebutkan angka 40 orang dalam sekamar. Maklum, ini pesantren bukan rumah pribadi apalagi hotel. Tetapi ternyata aku salah sangka, bukan aku yang dikucilkan tapi aku yang mengucilkan diriku sendiri diantara banyak orang. Aku yang tidak mengerti bagaimana membawa diriku sendiri untuk bergaul, bersosialisasi dengan orang lain. Aku menikmati duniaku sendiri tanpa menoleh ke arah orang-orang di sekitarku. Aku terlalu sibuk dengan pikiran "aku ini ga bisa bareng mereka, aku ini ga tahu caranya agar aku diterima di komunitas mereka, aku ini... bla bla bla... dan banyak pikiran negatif lain yang ada di kepalaku waktu itu. Padahal permasalahannya bukan ada di mereka tapi ada dalam diriku sendiri yang enggan membuka diri untuk mencoba sharing, saling curhat misal dan apa pun yang bisa dilakukan bersama orang lain. 

    Tiga tahun berlalu dengan cepat, bahkan dalam kurun waktu yang sebentar itu aku sudah rolling kamar sebanyak 4 kali. Hahahahha .... stress sih ketika mulai bersosialisasi lagi dengan orang-orang baru. Hanya saja Tuhan selalu mengirimiku orang-orang baik hati yang mau paham dengan karakterku yang seperti ini, hingga akhirnya aku bisa melewati situasi sulit semacam harus mengenali dengan baik orang-orang baru yang ada di sekitarku.  Tiga tahun yang cukup berarti buat diriku sendiri, karena di sini aku mengalami banyak hal yang membuatku hidup dan kehidupanku kebanting dengan cepat. Dibekali dengan banyak hal-hal sederhana yang akan membuatku survive hidup di mana pun bahkan dalam situasi sesulit apa pun. Hari ini, ketika aku menulis tulisan ini pun, aku sudah berubah menjadi pribadi yang berbeda. Aku sudah tidak canggung lagi menyapa dan berkenalan dengan orang-orang baru, aku sudah tidak gelisah lagi jika bersosialisasi dengan orang lain, dan aku pun sudah nyaman menjadi diriku yang hari ini, sangat berbeda dengan beberapa tahun silam.  Ini hanya sekilas cerita tentang kehidupan sosial di pesantren, belum lagi soal keilmuan dan pengetahuan yang didapatkan di sana. Bahkan hari ini aku benar-benar menyesal kenapa waktu usiaku masih 10 tahun aku menolak dimondokkan oleh orang tuaku, kenapa tidak kuiyakan saja waktu itu? pikirku sih agar bekalku yang kusadari sedikit akan membawaku melangkah lebih jauh dari pencapaian-pencapaian hari ini. 

    Hari ini pun aku masih berstatus santri di pesantren yang lain, bedanya adalah di pesantren ini aku bertemu dengan mereka yang menurutku sudah sangat mantap keilmuannya dalam beberapa hal sejak di pesantren mereka yang sebelumnya. Di situlah penyesalanku kenapa hanya sebentar saja aku "menelantarkan diri" di pesantren yang dulu. Aku bahkan merasa beruntung hidup di pesantrenku yang sekarang, karena berkat pesantren keluargaku lapang dada melepaskan anak gadisnya jauh dari jangkauannya. Apalagi waktu aku akan berangkat ke Jogja, ibuku sempat bilang mengenai berita tentang Jogja bahwa 95% mahasiswa Jogja tidak perawan. Wah, betapa mengerikannya dan aku tidak tahu persis bagaimana perasaan ibu waktu itu. Kita pasti tahu, bagaimana ketar-ketirnya hati orang tua yang memiliki anak gadis yang merantau jauh dari dirinya. Ketahuilah bahwa menjaga anak perempuan lebih sulit tanggung jawabnya daripada menjaga ratusan kilo emas aman dari penjarah. Mengingat itu semua, aku bersyukur dengan hidupku hari ini yang tanpa terasa sudah 5 tahun aku nyantri dan jauh dari orang tua. Aku benar-benar bersyukur, ayah dan ibuku masih ridla dan berdoa untuk diriku di sini karena kepasrahan hati mereka menyerahkan diri pada Tuhan dan juga pesantren yang akan menjagakanku dengan selamat dunia akhirat, in sya allah....

    Tepat hari santri satu tahun yang lalu, 22 Oktober 2016 aku menghadiahi keluarga dengan hari kelulusanku sebagai hadiah spesial untuk bapak dan ibu yang juga alumni pesantren. Entah sudah keberapa kalinya ibuk selalu menghubungiku dengan peryataan yang sangat kuhapal "Eva, aku ingin ke Jogja.. melihat keindahan budaya Jogja. Aku ingin tahu seperti apa wajah pesantrenmu yang selalu kau ceritakan saat liburan, aku juga ingin mengenal teman-temanmu Va... Kapan kau akan wisuda?" ah, kini pertanyaan itu sudah menjadi kenangan manis antara aku, keluarga, dan pesantrenku. 

    Oke, sampai di sini dulu tulisan ga jelas sore ini... Satu hal sebagai penutup, nikmatilah hidupmu kawan-kawan santri sekalian.. Eksplorasilah apa pun yang ingin kamu tahu, semuanya akan bermanfaat untuk hidupmu di masa yang akan datang dimana potensi dan sosok seorang santri lah yang akan dicari-cari masyarakat nanti. Jangan sampai ceritamu seperti aku, menyesal karena nyantri hanya sebentar.... hehehe
Terimakasih tak terhingga untuk Annuqayah dan pondok pesantren UII Yogyakarta.... 
Salam Santri 


Catatan Eva Edelweis, Yogyakarta 22 Oktober 2017  


    Rasa-rasanya kepalaku mau pecah hari ini. Capek fisik sekaligus hati. Pagi yang cerah menyambut Agustus yang tiba-tiba datang tak disangka, penuh dengan nyanyian, dan ribuan kata yang kubawa dari asrama. Sepanjang perjalanan, hanya mengawang-awang di kepala, mendesak ingin dituliskan di sini semua. Rasanya tadi pagi aku ingin teriak "tolonglah diriku yang baik hati, hari ini bekerja samalah denganku. Isi kepala ini memang harus kubuang di tempat sampah semacam blog pribadi, namun aku belum punya waktu senggang untuk ini semua. Beberapa hari kedepan, akan kubawa kakiku melangkah dengan santai memenuhi segala pekerjaan, otakku pun butuh oksigen lebih untuk merilekskan kerutan-kerutan yang menandakan sedang dipaksa berpikir keras tanpa lelah... Tolonglah diriku yang baik hati, kendalikan dirimu, biarkanlah jutaan kalimat yang hendak melompat ini menjadi tenang, akan kutuliskan satu persatu di sini....."

    Ini hanya soal yang tidak penting semacam rindu kesekian kalinya.Kok rindu mulu sih ? Barangkali kamu yang dengan sengaja membuka catatan blog ini akan ngedumel seperti itu dalam hati. Berkali-kali bahkan begitu banyak tulisan soal rindu di sini. Nggak penting banget kan?  Kamu tahu nggak, rindu itu tidak pernah menyebabkan kebosanan, bahkan sebagian orang tidak pernah bosan dengan rindu. Atau, rindu itu semacam nafas bagi kehidupan kita. Begitu kataku waktu itu, saat aku mengatakan dengan sangat jelas mengaku rindu. sementara kamu bilang, tidak perlu terlalu sering merindu nanti bosan.

    Bagi seorang perempuan, mengaku rindu itu bisa saja sangat memalukan, apalagi jika yang dirinduinya cuek begitu saja tanpa ekspresi. Perempuan itu begitu rapet menyimpan segalanya soal perasaan semacam itu, termasuk soal rindu yang satu ini kecuali dia benar-benar rindu dan harus mengatakannya sebagai obat penawar bagi dirinya sendiri. Ketika kamu, seorang lelaki mengatakan rindu pada seorang perempuan, percayalah hatinya seolah dijatuhi tetes air langit setelah bertahun-tahun menanggung kemarau. Akan ada perasaan bahagia meskipun sedikit, karena senang dirinya dirindukan seseorang. Jangankan kata  rindu itu diucapkan oleh lelaki spesial misalnya, meluncur dari seorang teman, sahabat itu pun akan memunculkan rasa senang di hati seorang perempuan karena merasa dirinya dianggap ada oleh orang lain. Sesederhana itu hari ini imajinasiku. 

    Bagaimana jika rindu kita tidak terbalas? tidak masalah, karena rindu bukan sebuah kewajiban. Kita tidak bisa menuntut orang yang kita rindu juga merindukan kita. Namun, akan ada sedikit rasa sakit "nyess" di hati ketika rindu itu tak terjawab, tak terbalas.... dan yah barangkali ini sebuah kejujuran yang hendak aku katakan saat aku rindu dengan seseorang namun orang itu tidak pernah tahu betapa hebatnya rindu itu menyerangku, membunuhku bekali-kali hingga nafsu makanku tidak stabil.... Yah, rindu yang kurang ajar. Patah hati hanya karena rindu tak terbalas? bisa banget, karena patah hati tidak hanya terasa ketika kamu diputusin pacar, dijauhin gebetan dan sejenisnya. hahaha.... Rindu yang hanya Tuhan yang tahu betapa dahsyatnya rindu itu menggebu di dada, menuntut berkali-kali terbalaskan, tapi aku bisa apa? Sebagai perempuan yang normal, aku pernah jatuh cinta, rindu, patah hati, dan bahkan aku pernah mengalami ketiganya dalam satu waktu yang sama. Lalu apa semua itu salah? menurutku tidak, karena perasaan semacam itu datangnya dari Tuhan. Aku hanya bisa mengadukan semuanya pada Tuhan, tidak pada yang bersangkutan. Nanti dia geer merasa disukai, dirindukan oleh seorang gadis semacam aku.... hahahha. 

    Sampai di paragaf ini saja, pikiranku sedang kacau. Tidak mampu mendeskripsikan lebih mudah lagi soal rindu. Yah memang begitu adanya, karena rindu bukan soal kalimat biasa, namun seperti mantra. Serindu apa pun aku pada seseorang, tidak akan tersampaikan dengan utuh sempurna seperti yang kuinginkan hanya lewat kata-kata amburadul semacam ini. Tapi setidaknya, inilah tulisan kacau yang sedari tadi berdenyut-denyut di kepala meronta ingin segera dituliskan. Yah, tujuan tulisan ini terposting hanyalah sebuah informasi tidak penting bahwa aku sedang jatuh hati, rindu dan patah hati dalam waktu yang bersamaan...Namun semuanya tak pernah tersampaikan. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 1 Agustus 2017


Teruntuk setiap orang yang bernama lelaki. 
    Baiknya aku tidak baper ketika menuliskan hal ini, namun ada satu hal yang harus kusampaikan dengan jelas tentang isi hati yang nyaris saja tumpah ruah di tempat yang salah. Aku selalu saja menulis hal yang mungkin bagimu seperti sampah maka kusarankan segera menyingkir dari blog ini. Karena aku menulis atas perintah hati bukan karena niat menulis dengan serius. 

    Tentang perempuan, kau tahu dia memiliki ingatan yang cukup baik soal angka dan berbagai peristiwa yang pernah terjadi dalam hidupnya. Misal nomor-nomor para mantannya, atau bahkan hari ulang tahun pernikahan orang tua mantannya alias calon mertuanya yang gagal. Hal-hal yang tak penting bagimu, bisa jadi itu sesuatu yang sangat penting bagi seorang perempuan hingga dia akan selalu mengingatnya. Semisal kau punya janji, maka berjanjilah untuk tidak memberinya harapan palsu, atau berjanjilah untuk tidak akan mengingkari janjimu sendiri hai kaum lelaki. Satu hal yang tidak boleh kau lupa, meski pun seorang perempuan punya hati yang lembut, jangan lupakan dia juga sejenis manusia bernama perempuan yang gampang sekali rapuh hatinya karena hal-hal sepele. 

    Kamu boleh ingkar pada siapa pun tapi jangan pada dua orang yaitu dirimu sendiri dan seorang perempuan. Barangkali satu kali janji yang kau ingkari termaafkan oleh waktu, lalu kau melakukan lagi kedua kalinya ketiga kalinya bahkan mungkin tak terhitung telah berapa kali kau membohonginya dan kau hanya perlu mengucapkan satu kata "maaf". Kali ini aku ingin tertawa lebar saat ucapan maaf itu benar-benar kau ucapkan dengan penuh kesadaran. Kenapa? suatu hari aku menemani seorang perempuan yang kutahu dia begitu lembut hatinya dan pernah berjanji untuk tak menyukai siapa pun sebelum dirinya dihalalkan oleh lelaki yang berhasil menaklukkan hatinya. Hingga entah kenapa perempuan yang biasanya menjadi "bunda" ini mengungsi sekitar beberapa hari di tempatku hanya untuk nenangin dirinya yang sedang "sakit" hanya karena lelaki. what? yeah di situ aku kaget. Dia sakit hati, kapan jatuh hatinya sih? begitu pikirku. Pas dipancing-pancing tuh cerita, eh ternyata dia sedikit baper pada seseorang karena suatu hal yang tak ingin kuceritakan di sini. Inti yang ingin kusampaikan adalah, berkomitmenlah dengan ucapanmu, jangan begitu mudahnya kau sakiti hati perempuan sesederhana kau membohonginya meski tanpa sengaja. 

    Satu kali termaafkan, tapi jangan pernah kau lupakan ketika hati perempuan retak sedikit saja karena ulah kecilmu maka senyatanya hati yang ia miliki sudah berubah bahkan meski berulang kali kau bersusah payah membuatnya utuh akan tetap saja kelihatan bahwa hatinya telah pernah retak meski seujung kuku. 

*Sebuah cerita mengenang seseorang yang mungkin pernah kutitipkan rindu. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 20 Juli 2017.
Semangat malam para tamu blog pribadiku.... Semoga kamu senantiasa semangat dan terus semangat puasa dan nulisnya.. Oke sampailah kita di hari yang paling bikin baper selama seminggu kedepan, karena saat melihat tema tantangan hari ini cukup bikin kisruh di pikiran. 

    Tentang sebuah kehilangan, seringkali membuatku gagal menuliskan atau menceritakan banyak hal tentang kehilangan. Bukan karena apa, tapi aku harus berani membongkar banyak sayatan-sayatan luka yang tergores di masa-masa lalu yang kini tengah mengalami masa penyembuhan. Selama merantau di sini, di kota ini, aku kehilangan banyak hal entah itu seorang teman baik, sahabat, orang yang diam-diam kusebut dalam doa namun tak berjodoh atau seseorang yang mewarisi darahnya di tubuhku. 

    Seseorang itu bernama Nana, aku mengenalnya sejak beralih tempat tidur dari satu pesantren ke pesantren yang lain dimana hari ini aku tinggal. Seseorang itu lebih dari sekadar teman biasa, meninggalkanku karena memang waktunya dia harus balik ke kampung halamannya. Adalah dia yang mau menerimaku sebagai teman dengan hati yang paling tulus sepanjang aku mengenal banyak orang. Adalah dia yang selalu memahamiku seperti seorang ibu menyayangi anaknya. Aku rindu, sangat merindukannya. Suatu hari nanti, aku berharap akan ada satu kesempatan dimana kami akan bertemu kembali untuk menuntaskan rindu yang selalu hadir. Semoga ukhuwah kita yang sempat terputus, akan tersambung kembali hingga akhiratNya.

    Seseorang itu bernama "Nathan" Lelaki yang diam-diam pernah mencuri senyumku berkali-kali hingga aku jatuh hati. Hampir setiap hari, bahkan terlalu sering blog ini hanya tertulis soal Nathan dan Nathan. Karena dia memang inspirasiku, sejak pertama kali aku menjatuhkan hati padanya. Kehilangannya adalah suatu kehilangan terberat sejak aku tau bagaimana rasanya patah hati dan aku menikmatinya. Patah hati yang tak menyurutkan doa namun terus menerus kurapal berharap takdir Tuhan itu bisa kunego dengan menghadirkan Nathan untuk menjadi teman hidup yang tidak tergantikan. Sayang seribu sayang, rasanya tanganku tidak akan pernah sampai merengkuh sosok seorang Nathan. Kamu tahu rasanya perempuan itu jatuh hati ? lalu patah hati dalam waktu yang bersamaan? Ah, saat itu aku benar-benar jatuh hati berkali-kali dengan sebenar-benar jatuh hati. Aku ingin jatuh hati berkali-kali pada orang dan hati yang sama. Tiada satu sujud yang terlewati dari menyebut nama seorang Nathan. Aku tak hanya sekadar merayu Tuhan, namun aku mendemonya dengan banyak doa yang tak henti aku rapal sepanjang hari, selama jantungku masih berdetak. Rindu itu sungguh ada, bergentayangan dalam setiap dingin yang berhembus di antara pekatnya malam. Rindu itu sungguh menghangatkan, tatkala aku aku jenuh dengan hari-hariku yang membosankan. Adalah Nathan, seseorang yang diam-diam aku menyukainya. Raut wajahnya yang menyejukkan sebab basahan air wudlu'nya, ucapannya yang mendamaikan, sebab aku yakin hari-harinya hanya dipenuhi soal menjaga al-quran menetap dalam hatinya, kesederhanaannya, dan tentang senyum yang kadang tanpa sengaja kucuri beberapa kali saat jarak kami mungkin hanya sekitar 100 cm di depan mata. Aku pernah punya suatu pikiran, Nathan pun merasakan hal yang sama denganku namun, itulah dia seseorang yang memiliki iman jauh lebih tinggi dari nafsunya, tidak akan berani menyatakan soal perasaan macam ini sebelum ikrar sah diucapkan. Ah, yah aku tak ingin menuliskan banyak hal tentang dia lagi malam ini di sini sebelum aku benar-benar larut dalam kenangan. 

    Seseorang yang meninggalkanku beberapa bulan terakhir adalah sesosok wanita yang berperan lebih dari seorang ibu, dialah almarhumah nenek, ibu dari ibuku. Beberapa hari lagi aku akan mudik untuk kembali bersua dengan keluargaku, namun aku bingung pada siapa aku akan pulang. Bercerita dengan seru tentang Jogja yang berhati nyaman. Aku selalu bahagia ketika liburan itu tiba, karena di rumah ada nenek yang sangat menyayangiku melebihi cucu yang lainnya. Pelukannya adalah pelukan terhangat sepanjang masa, menina bobokkan aku yang sudah dewasa ini layaknya bayi yang baru lahir. Wanita yang selalu menyiapkan buka puasaku dua hari sekali sepanjang tahun aku bersamanya. Kemarahannya adalah sesuatu yang paling kurindukan saat ini. Ramadhan tahun lalu aku masih tidur bersamanya, memijiti kakinya, mengelus-ngelus rambut putihnya, menina bobokkan sebagaimana yang beliau lakukan padaku saat masih sehat. Setiap pagi, aku begitu riang menuangkan tehnya, mengantarkan sarapannya, menemaninya sarapan sambil mengajanknya ngobrol dan ah yah aku masih selalu ingin memeluknya dan tidak ingin kulepaskan. Bahkan, saat terakhir beliau menatap dunia untuk terakhir kalinya aku tak sempat melihanya kembali untuk terakhir kali. Kehilangan seorang nenek bagiku bukan sekadar kehilangan biasa, tapi aku benar-benar kehilangan separuh kekuatan hidupku. Saat orang lain dengan entengnya memarahiku, menyalahkanku dengan seenaknya, menambah beban perasaan saat nilai raporku terjun bebas, ada nenek yang tidak pernah memarahiku. Ada seorang nenek yang menguatkanku, memelukku dengan hangat dan tak seorang pun yang punya rasa peduli sebagaimana nenek peduli padaku. Satu-satunya orang yang selalu mendengar suara kecilku, peduli dengan teriakan hati yang kadang orang lain tak pernah menghiraukan. Sejak hari itu, tenggelamlah pula suaraku bersama kepergiannya dari kehidupanku. Kehilangannya membuatku berpikiran aku tidak ingin pulang ke rumah kembali, aku tidak ingin mengalami masa-masa kecil yang sangat menyeramkan itu tanpa seorang nenekku. Seringkali aku berpikir suatu hari aku akan kehilangannya, ia akan meninggalkanku seorang diri dan aku takut membayangkannya. Keinginan terkuat untuk merantau setelah studi bukan karena aku terlalu betah di tanah orang tapi hanya karena aku kehilangan tempat pulang. Mungkin kehilangan ini terlihat berlebihan, namun percayalah seorang anak kecil selalu tahu siapa orang-orang yang benar-benar menyayanginya, dan aku telah kehilangannya.  Sudah cukup di sini aku menguras air mata ini berkali-kali. Sudah kubilang, bahwa menuliskan tentang kehilangan akan selalu menarikku pada masa-masa yang mengerikan.Terimakasih mau berkunjung di blog pribadiku ^_^

Eva Edelweis, Yogyakarta 18 Ramadhan 1438 H.

Berbicara tentang perempuan, tak kan ada habisnya. Maka sebagai perempuan izinkan aku menuliskan beberapa hal tentang perempuan yang harus kau tahu, hai kaum lelaki. Kamu bacanya sambil ngopi saja yah, ga usah terlalu serius biar aku juga enjoy menuliskan "perempuan" di part selanjutnya.... 

    Lelaki sejati menurutku sebagai perempuan bukan lelaki yang maco, yang digandrungi banyak cewek apalagi punya banyak mantan. Bukan, bukan itu semua... lelaki sejati adalah lelaki yang berani memberikan kepastian pada seorang wanita. Mayoritas para cewek suka dengan coklat, tapi percayalah dibandingkan sebatang coklat, cewek lebih menyukai sebuah kepastian. Iya, kepastian yang berasal dari kamu hai para lelaki. Kok gampang banget sih kamu bilang gitu Va? mungkin dalam benakmu kau bilang begitu..... santai dulu gaes, bacanya santai saja.... Kalau kamu ga setuju, aku terbuka untuk diberi masukan dan saran terbaik dari kalian para pembaca.... yuuuk lanjutkan !

    Seseorang yang mengaku lelaki tentu berani dong ngasih kepastian buat ceweknya, bukan cuma berani macarin doank sampe bertahun-tahun. Wanita itu bukan barang kreditan loh yah, ga usah lama-lama macarin anak orang. hahahahha.... Kalau kamu tidak siap, lepaskanlah dan kembalilah jika kau sudah siap menemui walinya.

    Banyak alasan yang dilontarkan oleh lelaki, yah masih kuliah lah, masih mau berkarir lah, masih nyari pengalaman lah dan berjuta alasan yang diberikan agar si cewek mau menunggu dulu dan lebih memilih bertahan dalam masa pacaran. Kalau sadar masih kuliah, duit masih hasil dari transfer tabungan orang tua yah udah kuliah saja yang bener, eman tuh duit buat biaya ngapelin anak orang yang belum tentu jodohmu belum lagi biaya kalau merayakan anniversary, ulang tahun dan lain sebagainya. Mau berkarir dulu? silahkan.... mau nyari pengalaman? silahkan.... Perlu kau ketahui hai lelaki, wanita itu sejenis makhluk Tuhan yang memiliki kesetiaan yang luar biasa. Ketika kau menangguhkan sebuah hubungan yang serius hanya karena kau masih kuliah, yakinlah wanita punya banyak alasan untuk setia menunggu hingga studimu selesai. Tapi jangan salahkan wanita yang memilih melepaskanmu dibandingkan harus menunggu bertahun-tahun tanpa sebuah kepastian.

    Apa mereka layak disebut pengkhianat, meninggalkanmu dan lebih memilih lepas dari hubungan denganmu? kukira tidak. Semua itu bukan sebuah pengkhianatan, tapi sebuah keputusan yang tepat. Buat apa menunggumu yang tak pasti, sementara waktu tak pernah mundur usia pun makin bertambah seiring berputarnya masa. Daripada termakan usia dengan sia-sia, maka biarkanlah dia beralih pada hati yang lain yang memiliki kesiapan lahir batin menemani hari-harinya dengan hubungan yang lebih serius berupa sebuah pernikahan. 

    Apakah kamu sakit hati dengan omonganku di sini? marilah berpikir realistis, cinta itu bukan sebuah pembodohan dengan hanya menjalani sebuah hubungan tanpa status yang jelas, apalagi menunggu bertahun-tahun hal yang tak pasti. Mau melepaskan kok eman? dia romantis banget orangnya.... Cinta itu bukan hanya soal romantis macam film bollywood yang begitu jatuh hati langsung nari-nari mengelilingi pohon mangga misal, dikit-dikit terdengar tembang lagu yang memabukkan. Ngimpi!!!!! 

    Jika kau memang lelaki sejati, maka berikanlah sebuah kepastian atau kau berani melepaskannya pada hati yang lain. Bangun kembali komitmen hidupmu, perbaiki diri dan jadilah "Lelaki" dengan tidak hanya sebagai pemaknaan makhluk Tuhan yang punya jakun. Pisssss ga usah misuh-misuhin aku yah.... 

*Sekian dulu tulisan pertamaku spesial Ramadhan tentang "Perempuan", mau misuh-misuh atau memberikan saran sangat diperbolehkan, asal dengan  bahasa yang halus... Blog pribadi ini tidak didekasikan dibaca orang-orang yang serius, memiliki penyakit  hipertensi, Jantung, terkena asam lambung dan sebagainya... Spesial Ramadhan, tulisan ini hanya akan bicara "perempuan" maka kalau anda terindikasi sakit bosan, silahkan hengkang dari rumah saya :)

Eva Edelweis, Yogyakarta 8 Ramadhan 1438 H.



*Kapan kau bersinyal? aku rindu.  



Apa rindu sekejam ini?
       Hari-hari kulalui dengan menunggu, menunggu waktu kapan saatnya bertemu. Ada yang bilang selagi masih bisa mendoakan, pertemuan bukanlah penawar rindu. Lalu aku harus bagaimana?
Sarapan pagi menjelang berangkat kerja, satu dzikir untuk nafasku berhembus dengan namamu. Yah namamu tentu saja mengawang di kepalaku. Memenuhi rongga-rongga sudut syarafku, atau barangkali namamu sengaja kusetting di sana agar tidak tergantikan. Beranjak menuju kantin hendak makan siang, angin pun  mencoel-coel pikiranku mengingatmu. Hingga senja menantiku, kau pun masih di sana bersarang di tempat yang sama, di kepalaku.

        Sejujurnya aku bingung hendak menuliskan apa di sini, pikiranku kalut, gabut, karena perasaan jengah menunggumu yang tak pernah kenal waktu. Kadang, aku benar-benar menikmati suasana seperti ini. Dimana hati, pikiranku benar-benar mensyukuri sebuah perasaan rindu yang tidak tertahankan. Menangis sendirian, lalu sebentar kemudian mengecek hp berkali-kali barangkali ada pesan singkat darimu. Tapi, notif lampu-lampu menyala itu bukan darimu. Sesekali aku menari tanpa sadar dengan tuts-tuts keyboard yang sudah lama menemaniku. Menjadi sahabatku yang paling tahu, bagaimana sabarnya hati menunggumu. Anehnya, hari ini tidak menikmati suasana rindu seperti kemarin-kemarin. Kau tahu kenapa? stok sabarku mungkin sebentar lagi habis. Kapan kau akan menchargenya?semisal  semacam sapaan "hai" di suatu petang, saat aku terlelap dalam lelahku. Senyum manis di suatu pagi saat mataku mulai menerima pesan singkat dengan bahagia, adalah tanda syukur paling sederhana merayakan rindu.

        Kamu kan tahu, aku ini paling bisa mengendalikan hati dengan cara menyibukkan diri. Namun, lagi-lagi harus kukatakan padamu bahwa stok sabarku sedang di ujung batas. Meski berkali-kali aku mengisi waktuku dengan beragam aktivitas, tetap saja namamu menggaung di telingaku, mengurangi kadar fokus di tengah-tengah kesibukanku. Rindu kadang sejahat itu, mencuri kesadaranku tanpa kenal waktu.

        Kamu tahu, kenapa aku masih bertahan dalam merindu? karena barangkali rindu itu obat untukku. Obat dari penyakit malas, obat dari rasa benci, obat dari rasa dendam, obat untuk meningkatkan stamina, obat untuk segalanya. Rindu itu soal waktu, waktu yang tertunda dari sebuah perjumpaan yang paling ditunggu. Rindu itu soal kamu. Kamu yang mengingatkan segalanya untuk berubah menjadi lebih baik. Katakanlah rindu itu tak kan berakhir, tapi jejak baikmu tak pernah lekang dalam ingatan.

         Kau sejenis manusia apa? menguras tenaga hanya dengan meninggalkan namamu saja di hati? Lalu kau menitip namamu sendiri di ujung dahi untuk kulafadzkan di saat kening ini mulai bersimbah kaku di atas sejadah. Ah sudahlah, rindu itu kadang begini, membuat seseorang menulis sesuatu dengan berantakan. Tapi aku bisa apa? mau berteriak macam orang gila manggil namamu pun kau tak mungkin datang saat itu juga. mau menangis seberapa lama pun kau pun tak bakal datang menghapus air mataku detik itu juga. Aku cuma bisa menulis di sini, menulis kacau sekacau pikiranku, segalau perasaanku. Tapi lama-lama aku menikmatinya, mensyukurinya, tak lagi bosan menunggu hingga waktu memberitahuku kapan saat yang tepat merayakan rindu denganmu. 

#catatan mahasiswa rantau yang lagi gabut di malam sabtu.

Eva Edelweis, Yogyakarta 3 Januari 2017
    Nathan, ada satu penegasan yang tak bisa kupungkiri. Aku mulai sakauw sejak percakapan kita pertama kali. Lalu Nathan, ada perihal takdir paling pahit yang harus kutelan sendiri. Tanpa kamu Nathan, tentu saja begitu.

    Setitik demi setitik air itu berjatuhan dari kelopak mata, menderas di bawah hujan pertama bulan Januari. Aku pun menguatkan diri menolak kenyataan yang tak bisa kuterima. Bahkan, aku sempat mendemo Tuhan waktu itu. Kenapa hanya padaku semua terlimpahkan?

    Nathan, suatu kali aku ingin bercerita kembali tentang lautan darah kematian yang pernah terjadi 20 tahun yang lalu. Tapi, entah takdir pahit semacam apalagi Nathan, yang menamparku berkali-kali  untuk menjauh. Namun jawabanmu itu sungguh menegarkan, jawaban lelaki tangguh yang pantang mengkhianati janji. Lirih dalam doa, membentangkan seribu harap dalam peluk tangismu di penghujung fajar.

    Nathan, aku bukan gadis pengecut yang mudah menyerah dalam satu kali jatuh. Tapi Nathan, untuk kali ini saja biarkan aku tenggelam dalam kekalahan, biar aku jera melakukan kebodohan yang sama, biar aku belajar ikhlas atas segala keputusan salah yang pernah kupilih. Temani aku saja Nathan, tanpa harus kau menatap benci padaku yang semakin kelihatan bodoh di matamu. Jangan kau lepas genggamanmu ini hingga aku berani bangkit kembali dari masa-masa keterpurukan. Terbengkalainya mimpi oleh sebuah janji manis yang tak kan terlunasi.

    Suatu hari, aku akan belajar mencintai dengan sempurna. Cukup dengan melihatmu utuh tak meninggalkanku larut dalam luka lama. Sepanjang hari itu, aku akan merayakan kehilangan yang pernah membuatku tersungkur jatuh terjerembab ke jurang yang sama. Tapi aku tak pernah lupa Nathan, tangan kekarmulah satu-satunya orang yang punya rasa cinta lebih dalam dari rasa kecewa menyeretku bangkit kembali. Hari itu pula aku akan merayakan sebuah peristiwa sakral dalam sejarah hidupku, menerimamu secara ikhlas bahwa kau menjadi seperempat bagian hati yang telah retak beberapa hari yang lalu.

*Kenang-kenangan untuk sebuah hujan pertama yang kekal di penghujung Januari.

Eva Edelweis, Yogyakarta 31 Januari 2017.

   Katakanlah malam ini aku sedang bergerilya menuju quote-quote menarik untuk kubaca. Sedikit ada inspirasi pengisi hati yang kosong." Ini malam minggu loh..." kata seorang gadis berjilbab orange padaku. "Lalu kenapa dengan malam minggu?" Seakan aku tak peduli entah malam minggu atau malam jumat sekalipun, bagiku serasa sama saja. Sama-sama menakutkan. Bukan, bukan karena aku jomblo seperti yang kau kira. Tapi aku takut rasa ini tumbuh lebih cepat menjalar ke seluruh tubuh dan pikiranku. Bisikan-bisikan lembut lagu yang kuputar sedari tadi begitu mendamaikan hati yang sedang bergejolak. Ini mustahil, jantungku sedari kemarin berdetak seolah lebih cepat dari biasanya. Hatiku pun ramai oleh banyak hal, termasuk tentang seseorang.

   Benarkah aku sedang jatuh cinta? entahlah, aku bingung mendefinisikannya. Tersebab biasanya aku hanya akan bernyanyi diam-diam menyenandungkan lagu-lagu favorit di sepanjang jalan menuju kampus. Jika aku bertatap dengan setiap orang di sepanjang trotoar, rasanya aku tak ingin berhenti tersenyum lepas, saat aku pun mulai memasuki ruangan kerja, senyum itu rasanya belum mati, kubayangkan wajahku semakin manis karena hal ini, tapi entah bagi orang lain yang melihatku, kurasa mereka mungkin berpikir aku sedang terlelap dalam mimpi indah sambil berjalan. Semacam orang aneh, barangkali.

   Umumnya orang yang jatuh cinta itu berisik, entah di sosial media atau di dunia nyata sekalipun. Begitupun aku, saat aku jatuh cinta rasanya blog ini serasa ramai oleh ocehanku. Kau barangkali tak pernah tahu rasanya aku kehabisan kata-kata menyampaikan seluruh perasaanku. Tenggelam dalam lautan kalimat basa-basi dan aku seringkali kecewa karena perasaanku belum tersampaikan secara sempurna. Apa jatuh cinta serumit itu? 

   Sempat aku kecewa kenapa baru sekarang aku jatuh cinta? kenapa tidak dari kemarin, saat aku masih bebas memandang setiap orang semauku, saat aku masih bebas menjadikan setiap orang sebagai sumber inspirasiku? kenapa tidak dari kemarin, saat aku masih bisa tertawa lepas bercanda dengan siapapun, kenapa baru hari ini, saat aku menyadari ada belenggu yang mengitariku. Kenapa baru hari ini saat gerakan satu langkah kakiku seolah menarik ribuan perhatian orang lain? 

   Barangkali, aku pernah mengutuki rasa cinta semacam ini. Mengutuknya menjadi ribuan kata yang tak jelas, melilit-lilit dalam lembaran kertas kosong, menjadi makian paling mengerikan, dan yang kau baca ini adalah salah satu bentuk kutukan perasaan "jatuh cinta" menjadi kalimat-kalimat panjang yang tak jelas maksudnya. Apa jatuh cinta serumit itu? sampai-sampai tulisan ini benar-benar kosong maknanya. 

   Orang yang sedang jatuh cinta biasanya suka membaca quote-quote menarik, jika cocok dengan suasana hatinya maka ia akan membacanya berulang-ulang, jika dirasa tidak sesuai, ia membuangnya begitu saja. Kadang jatuh cinta memang bisa membuat seseorang pilih-pilih pepatah gitu. 

   Jatuh cinta pun sanggup meningkatkan daya imajinasi seseorang, kau tak percaya? sini, kubisikkan ke telingamu kalau aku benar-benar mengalaminya hari ini. Ia menjelma siapapun yang kutemui di sepanjang jalan, lalu kulemparkan senyum tanpa alasan. Ia kadang menjelma jadi gelas-gelas beaker, jadi tabung reaksi, jadi erlenmeyer, jadi larutan-larutan kimia, jadi apapun yang berada di sekelilingku. Bahkan diapun menjelma jadi setiap tulisan yang kutumpahkan di sini, menenggelamkanku seorang diri untuk betah melukiskan apapun tentang dia. Hal ini masih lumrah, tapi yang lebih parah adalah imajinasiku yang liar kadang mengantarkanku pada sebuah kesimpulan yang konyol "Dia juga jatuh cinta padaku" sehingga segala yang dia lakukan menjadi sesuatu yang istimewa, padahal sebenarnya biasa-biasa saja. 

   Satu pertanyaan yang pernah menyudutkanku di suatu sore, sebuah alasan kenapa aku menjadi begitu liar menuliskan banyak hal di blog pribadi? kenapa aku masih menyempatkan diri meluangkan waktu untuk menulis di sini? Jawabannya sederhana. Hati, jiwa, pikiran yang sedang jatuh cinta itu bisa dikendalikan saat aku mulai menulis. Aku memutuskan diri untuk jatuh hati pada sebuah bayangan yang pernah datang dalam sebuah mimpi di suatu malam, seseorang yang entah seperti apa wujud nyatanya namun aku menjadikannya sumber inspirasi di setiap lembaran yang kau baca di sini. Barangkali aku sedang mengalami de Javu? akupun tak mengerti. Aku hanya menikmati perasaan semacam ini sepanjang hari. 

Eva Edelweis, Yogyakarta 28 Januari 2017.


#Tantangan 10 Hari Menulis Bersama Kampus Fiksi
Suatu hari aku pernah berpikir ingin menulis surat untukmu, lalu entah kesibukan macam apa yang membuatku begitu tidak punya waktu untuk menuliskannya. 

    Dear kamu, seseorang yang pernah hadir membawa sebentuk senyum dalam waktu yang cukup lama. Apa kabarmu hari ini? kuharap kau selalu baik-baik saja. Aku rindu senyum hangatmu, dan aku benar-benar merindukannya. Beberapa tahun yang lalu Tuhan mentakdirkan kita berkenalan tanpa sengaja di sebuah kampus di tanah Jawa, dan aku baru tahu ternyata kita sama-sama berstatus sebagai delegasi kampus kita masing-masing mengikuti ajang perlombaan yang sama. Kau pernah bilang padaku bahwa untuk meraihku kau butuh waktu sekitar 1 tahun untuk mengenalku saja. Hahahaha.. 

    Hari ini aku merindukanmu, tidak hanya hari ini tapi hampir setiap hari, bahkan kadang aku benci dengan diriku yang macam gadis pesakitan karena rindu. Heii, aku rindu sahabat sepertimu cery yang tak pernah lupa pada jadwal kuliahku. Ini lucu sekali, bahkan aku sendiri kadang sering telat karena lupa ada jadwal kuliah di jam itu tapi kamu mesti menghubungiku setengah jam sebelum kuliah. Aku rindu dengan cery yang selalu menjadi pendengar setia keluh kesahku, dan kau bahkan mau-maunya menjadi tempat pelampiasan kemarahanku... Yang ku tahu kau selalu memberi waktu untuk berusaha selalu ada saat aku mencarimu. Suatu hari, aku panik luar biasa saat mau presentasi hasil laporan magang selama 1 bulan. Kau menjadi pendengar pertama saat aku mulai latihan, dan kau seolah paham pada apa yang kubicarakan padahal aku tahu kau pura-pura paham atas penjelasanku yang semakin lama semakin membuatmu migrain, saat aku bilang kenapa cery terlalu baik denganku kau bilang bahwa kau hanya suka melihat caraku tertawa dan kau ingin menjadi alasanku tertawa lepas bahagia. Kau benci saat aku mulai menangis sesenggukan, kau benci saat aku tertunduk lesu dalam kekecewaan.
    Maafkan aku cery yang suka sewot dengan kamu yang kadang ga pake parfum saat bertemu, aku cuma ga mau kamu terlihat kucel dan terlihat tidak terawat. Aku mau sahabatku yang satu ini enak dipandang, wangi, dan terawat. Maafkan aku yang suka mempermasalahkan dirimu yang menyukai makanan fast food seperti mie instant, tapi aku cuma khawatir dengan keadaanmu. Kalau kamu sakit, siapa yang mau diajak ngoceh malam-malam hanya untuk menghilangkan kantuk saat aku begadang untuk menyelesaikan tugas kampusku? Kalau kamu sakit, siapa yang mau menjadi partner paling asyik untuk diajak menangis dan tertawa bersama? Kalau kamu sakit siapa yang akan membantuku menyelesaikan tugas kuliah asramaku? kamu kan tahu cery, aku tak punya  sahabat yang lebih tulus dari seorang kamu. Orang-orang hanya mendekat saat ada perlunya saja, lalu menjauh saat ia mendapatkan apa yang dia peroleh. Kau kan tahu cery, kau adalah seseorang yang mau ajak  gila bareng saat liburan, kamu yang mau diajak susah kemana-mana direpotin oleh gadis paling bawel ini.  Maafkan aku yang suka marah dan kesel tapi percayalah aku hanya tak mampu menunjukkan rasa sayang dengan baik dan lembut. As you know me so well, aku tidak pernah benar-benar bisa marah dengan orang lain apalagi kamu, sahabat terbaik yang pernah kukenal. 

     Cery, aku tidak tahu harus nulis surat semacam apa untukmu, tapi sungguh dari hati yang terdalam aku benar-benar rindu cery. Mengenalmu adalah bagian terindah sepanjang hidup, meski pada akhirnya kita berpisah tersebab satu alasan yang tak hendak kau bicarakan. Suatu kali kau memintaku menemanimu hunting buku di kota, tapi yang terjadi bukan aku yang menemanimu hunting buku tapi justru kau yang menemaniku menyelesaikan tugas kuliah asrama sampai kau tertidur pulas di masjid keraton. Namun kau bilang, bahwa kau tidak menyesal jauh-jauh ke kota tanpa satupun buku yang kita peroleh karena waktu luang sedetik yang kita lewati tak ada satupun yang tersia-sia. Sepanjang perjalanan hujan mulai turun, dan darisitulah sampai detik ini aku mulai kurang menyukai hujan karena setiap tetesnya adalah ingatan tentang kamu. Hujan terakhir yang memisahkan kita dengan jarak yang begitu jauh bahkan akupun tak terlalu yakin akan bertemu lagi suatu hari nanti. Aku takut, akan menangis lemah di depanmu. Akupun tak sanggup melihatmu lagi yang memutuskan pergi tanpa alasan bahkan kau sama sekali tak pamit denganku. 

   Cery, kita bertemu pertama kali di Jogja dan kuharap akan bertemu kembali di kota yang sama. Melepas rindu yang tak pernah tuntas walau kutuliskan hingga beribu halamanpun di sini. Aku merindukan setiap waktu yang pernah kita lewati di kota ini. Orang bilang, jogja terbuat dari serpihan rindu yang memanjang. Yah, suatu hari saat aku meninggalkan kota ini, rinduku tak pernah hilang tetap kekal di sudut Masjid keraton, di sepanjang jalan Malioboro, di persimpanagn Tugu, di halte-halte Trans Jogja, di sepanjang taman pintar, di sepanjang Kaliurang, disanalah rinduku memanjang bertaburan, semakin hari tumbuh subur tanpa pernah tahu kapan rindu itu akan terwujud dalam sebuah pertemuan. Tapi cery, meskipun aku tidak tahu alasanmu pergi tanpa pamit aku tak pernah membencimu walau sedetik. Kita pernah janji kan, akan saling mendoakan yang terbaik apapun yang terjadi, bahkan meski kita hari ini ini slaing berjauhan.Salam rindu untuk Cery yang entah dimana, dari aku yang masih melebur rindu  sepanjang waktu. 


Eva Edelweis, Yogyakarta 27 Januari 2017


Nathan, baru saja aku akan menyelesaikan separuh ceritaku yang telah melayang-layang di atas langit-langit kamarku. Tentang kamu, seseorang yang memberikan sebuah pengharapan di atas kesedihan yang mendalam. 
Nathan, aku ragu-ragu melanjutkannya. Karena perasaan takut kamu akan merasa bersalah jika kau membacanya. Tapi, kalau kau ada waktu, kunjungi rumah laba-labaku ini untuk sekedar membaca kabarku saat itu. Jangan bosan Nathan, seperti halnya aku yang tak pernah bosan mendo'a dengan sepenuh keyakinan bahwa aku memaksa Tuhan untuk memberikanmu padaku. Aku ingin memilikimu. 
Nathan, entah apa yang harus kutulis disini agar kamu mengerti separuh hati yang jatuh hati dan separuh yang lainnya patah hati. Nathan, aku berharap sebuah kecewa yang tak berujung ini segera menemukan muaranya, karena akupun membatasi titik sabar yang pernah aku punya. 
Sudahlah Nathan, jangan membuatku semakin tak ingin  menikmati hidup lebih panjang lagi. Berhari-hari aku terkepung dalam selimut, ditemani segelas air putih yang menghilangkan dahagaku. Tapi aku menyegajakan diri mengabaikan obat-obatan itu tak tersentuh barang sebijipun. Mungkin kau pikir aku ini bodoh melakukan hal-hal tak masuk akal yang merugikan diri sendiri, tapi begitulah Nathan, aku benar-benar tidak lagi merasa ingin menikmati hidup lebih panjang lagi... 
Nathan, dalam beberapa waktu yang lalu aku suka bermain di beranda rumahmu. Aku suka memperhatikanmu dari jauh di balik semak-semak yang menjadi tempat favoritku. Hingga saatnya kutemukan sesuatu yang mengiris hati, Nathan. Lalu aku tak kan pernah lagi berkunjung ke rumahmu seperti biasa, karena aku memilih ingin menepi dari semak-semak itu.... 
Nathan, suatu hari kau akan mengerti kenapa tulisanku yang kutujukan padamu seamburadul ini, karena seluruh diriku memang kau bikin berantakan. Hati ini berantakan, jiwa ini berantakan, senyum ini hilang tersisa senyum-senyum imitasi yang murahan. Apa kau tidak menyadari? Ah ya Nathan, bagaimana kau akan menyadari keadaanku, sementara kau tidak sedikitpun tertarik untuk tahu siapa di balik semak-semak yang seringkali memergoki kamu yang asyik dengan hobbymu: menulis di bawah rerimbunan bunga Tulip. 
Nathan, akupun bingung harus bagaimana aku memahamkanmu, bahwa di sini ada gadis malang yang tak henti merengek pada Tuhannya untuk memperkenalkanmu denganku, lalu kita bersama-sama menulis di sana di tempat favoritmu. Nathan, kupikir senyumanmu itu memikat siapapun yang melihatnya, termasuk aku. Tapi aku sadar bahwa ternyata senyummu itu memiliki makna tersendiri yang baru kupahami setelah tanpa sengaja aku membaca beberapa tulisan lawas yang pernah kau publikasi... 
Lalu sampai di sini Nathan, aku hanya berharap akan ada jawaban termanis dari bisikan-bisikan doa yang belum sempat Tuhan jawab padaku. Aku memilih menyerah untuk tidak lagi memaksa Tuhan seperti kemarin-kemarin, agar aku tak lagi merasa sakit hati, agar aku tak lagi merasa dikecewakan, agar aku belajar untuk menguatkan diri sendiri tanpa siapapun termasuk kamu Nathan. 
Nathan, aku pamit untuk tidak lagi menjadi bayang-bayang kecil yang berada di dekatmu. Kalau kau merasa kehilangan, tengoklah rumahku ini yang mungkin suatu saat akan kutinggalkan tanpa bekas... Aku hanya meninggalkan sebuah surat paling rahasia yang jika kau temukan, mungkin kau sudah berada di posisi orang paling bahagia.
Kadang, rindu memang benar-benar menyebalkan. Ketika dia tak kenal waktu mengusik  pikiranku. Ah sudahlah, rindu itu memang pantas dinikmati sendiri tanpa harus beradu pada tuannya. Rindu yang terpupuk setiap hari. Andai saja setiap kali rindu, aku menangis, maka barangkali aku tenggelam dalam air mataku sendiri. Andai saja setiap kali rindu dihargai uang satu sen saja, maka mungkin aku menjadi wanita yang kaya raya. Tapi rinduku tetap saja milikku, tak pernah sampai hingga ke pintu hatimu. Rinduku tetap saja menggumpal di sini, mengental oleh hawa dingin yang kau bawa. Rinduku tetap saja tak pernah mampu mengetuk hati dan pikiranmu. Lalu, pernah suatu kali aku berniat untuk membenci, menenggelamkan segala rindu yang bermuara padamu. Tapi berkali-kali aku gagal melakukannya, yang terjadi adalah hati yang semakin rindu berlipat-lipat. Selamat merindu tanpa imbalan, selamat merindu tanpa balasan. Semoga hati ini tetap terjaga untuk tidak mendua. Suatu saat ketika aku mulai menghilang, maka jangan pernah mengatakan bahwa rindu ini habis terkikis masa.  Rindu ini tetap ada, kekal di dada. Tapi aku memilih untuk menyerah saja, tersebab rasa sakit luar biasa... Biarkan rinduku menghilang dengan sendirinya, seiring waktu mengajarkanku untuk melepaskan, walau rindu itu berat untuk ditinggalkan.  Rinduku di malam rabu benar-benar sampai pada puncaknya, tapi ia tetap saja tak menemukan tuannya....

*Tulisan ini hanyalah potongan-potongan personal message di BBM Eva Edelweis.

Catatan Eva Edelweis, Yogyakarta 03 Januari 2017.
Rasa kehilangan itu bukan lagi hal yang mengagetkan. Separuh kesadaran ku hilang. Kosong. linglung. Apalah rasa cinta yang sehambar ini? Pada sebuah fase dimana kerinduan ku benar-benar membuncah, ingin sekali menjumpainya memeluk erat tak kan ku lepas... Tapi, dia sudah pergi menemui Tuhan yang jauh lebih merindukannya. Terakhir kali aku menemuinya tepat bulan lalu, menciuminya tiada henti. Namun rasa sakit luar biasa menggerayangi seluruh tubuhku. Dia sudah tidak mengenaliku lagi. Bahkan sekedar memanggil namaku saja tidak. Ciuman terakhir yang tak pernah terlupakan. Aku pergi meninggalkannya, lalu ia pun pergi meninggalkanku. 
Sesosok wanita paling tangguh dalam hidupku. Aku masih ingat bagaimana dulu dia masih selalu sanggup membangunkanku waktu subuh, bahkan menyiapkan makanan sahurku untuk puasa Senin kamis sampai tiada lelah yg kulihat ketika dia tetap semangat sambil tersenyum menyiapkan buka puasa. Aku masih ingat tentang Kehangatan pelukannya, ciumannya, kelembutan bicaranya, ahh aku rindu masa-masa itu. Dimana aku seringkali bertingkah terlalu liar tanpa pernah menyadari, orang itu hanya menemaniku 21 tahun saja. Tuhan, bukan aku tidak rela... Tapi sungguh, kehilangannya membuatku semakin tak bernafsu saja untuk hidup lebih lama lagi. Tidak tahukah bahwa tiada orang yang sesayang itu padaku? Tidak ada, bahkan semua orang iri denganku. Kau menyayangiku lebih dari yang lain. Aku berbeda, katamu waktu itu. Ya, aku berbeda dari yang lain. Ibuku tak sesayang ini padaku. Hanya wanita inilah yang tiap hari mencurahkan kasihnya sedemikian rupa padaku. Orang-orang pun hanya berani memarahi kenakalanku, hanya wanita inilah yang sering kali memelukku saat tiada satupun yang memahami keinginanku. Kami bicara dari hati ke hati, hingga terlelap dalam buaian mimpi. Dia hanyalah ibu dari ibuku. Tapi segalanya bagiku.... Tahun 2016 adalah tahun kesedihan bagiku. Ditinggalkan orang-orang yang penting, orang-orang yang punya hati melebihi hati seorang ibu. Tapi, satu hal yang aku yakini jejak mereka masih di sini, kekal, membekas dalam relung hati. Semoga Tuhan memberkahi, detik-detik jalan yang akan kulalui. Tanpa mereka, orang-orang pilihan Tuhan yang hanya sebentar menemaniku mengajarkanku bahwa dunia ini akan damai dengan kasih sayang. Bukan kemarahan, kebencian, dan dendam yang kau tanam. Akan ada benih-benih lain, pengganti orang yang meninggalkanmu sekalipun dia mungkin bukan siapa-siapa di bagian hidupmu. Semoga Allah tetap menjagamu sebagaimana kau menjagaku, semoga Allah selalu memelukmu sebagaimana kau memelukku, semoga Allah menyayangimu lebih dari apapun sebagaimana kau menyayangiku tanpa batas. Kehilanganmu puncak segalanya. Selamat tinggal Nek. Hari ini aku punya satu pertanyaan yang membingungkan, esok kalau aku pulang ke rumah, pada siapa aku memulangkan rindu? Pada siapa aku akan bercerita bahwa aku masih cucumu yang penuh ambisi jadi siswa terbaik? Pada siapa akan ku pulangkan rasa lelah yang menggantung dalam diriku? Pada siapa aku hendak memeluk jika tak satupun orang yang Sudi mendengarkan keinginan hatiku? Pada siapa lagi??  Jika aku kehilangan arah, kehilangan kesabaran, dan hanya keegoisan yang tetap menyala, biarkanlah aku segera menemuimu di sana. Membayar rindu berkepanjangan tanpa lagi kebanjiran air mata. Pertemuan paling membahagiakan antara kau dan aku di surga. Selamat hari ibu, Nek. Kehilanganmu adalah mimpi buruk paling nyata dari sekian kerisauan paling memilukan. 

Sudah lama kita tidak jumpa, apa kabarmu di sana? Tak maukah kau berbagi kabar denganku? 
Sudah lama kita tak saling sapa, sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. sibuk dengan perasaan masing-masing... Hingga mungkin kau lupa, bahwa kita pernah memiliki perasaan yang sama. 

Aku masih ingat bagaimana kita menikmati pagi duduk berdua diantara keramaian kota hingga petang menyapa. Asyik bukan? yah, tentu saja... tapi kapan kita akan punya peluang menghabiskan waktu bersama lagi meski hanya sekedar menikmati secangkir kopi tubruk racikanku di antara pahitnya kisah kita? Menyeruput kopi bersama hidangan sepotong roti yang kau bawa dari seberang kota. Sudah lama kita tak menikmatinya bersama, duduk berdua berbagi apapun yang kau suka dan kusuka. 

Berbahagialah, dengan hidupmu yang baru bersama orang yang mencintaimu. Jangan lagi mengingat dan mengenang masa lalu. Rasa pilu yang kau tinggalkan, akan sembuh dengan sendirinya. Berbahagialah, tanpa harus melibatkanku lagi dalam hal apapun. Kita bukan lagi sesiapa hari ini, maka jangan lagi sekali-kali kau mencoba datang mengingatkanku pada rasa sakit yang pernah kau cipta. 

Selamat datang di kehidupan yang baru, begitupun aku. Lembaran kisah di masa lalu telah kusimpan rapi di antara banyak lukisan luka yang pernah kupiara, tergantikan oleh kisah hidup baru yang tentu membahagiakan. Kau tak usah lagi khawatir bagaimana aku yang gabut ketika satu hari saja kau menghilang tak memberi kabar sedikitpun. Karena kita hari ini adalah sama-sama orang asing yang pernah datang di masa silam. Berbahagialah kita dengan hidup kita masing-masing, terimakasih pernah memberi warna di antara sekian hari yang Tuhan karuniakan untukku mengecap sebuah kenangan dan proses bangkit dari kepiluan. 

Catatan Edelweis, Yogyakarta 11 Desember 2016
Ketika waktu mengajariku untuk segera menepi dari kebrutalan rindu..
Menolak segala alasan dari sebuah perjumpaan. Bukan, bukan aku tidak rindu. Tapi aku ingin tahu betul apakah hati ini sanggup kutusuk berkali-kali untuk puasa dari menjumpaimu? Sekuat apakah hati ini jika kutekan sedemikian rupa tatkala rindu mulai memburu?
Seseorang pernah mengataiku dengan lugas, bahwa hati yang biru sebab rindu tapi ia kuat menahannya, maka dimana lagi letak sebuah perasaan paling mengkhawatirkan dibandingkan menunggu sebuah pertemuan? Tapi, sekali lagi kukatakan bukan aku diam membisu, sesekali menarik napas yang mulai megap-megap ketika jantung hendak meloncat dari tempatnya saat kau mulai kejam menari-nari tersenyum lepas di sepanjang mimpiku.... memanggilku layaknya orang bertawaf dengan seluruh rapalan doa. Tidak tahukah bahwa namamu cukup kubisikkan saja pada Tuhan, bahwa hanya kamu saja yang kuinginkan? Biarlah, mau sepanjang apapun jarak memisahkan, waktu akan mengembalikan kita pada satu titik terang di jalan yang sama: perjumpaan paling dinantikan menuju sebuah ritual kehalalan. 



Edelweis, Yogyakarta 11 Desember 2016


Desember ini seharusnya menjadi Desember kita yang keeempat, tapi bukankah hujan kerinduian saja yang bisa kukenang hari ini? Kau mana peduli? Ada banyak hal kecil yang yang tidak terlupakan. Yah kau tentu tahu, perempuan adalah pengingat paling detil jejak yang pernah ia lewatkan, begitupun aku. 

Desember kali ini serupa hujan yang tak tahu diri, membasahiku seenaknya tanpa mau tahu, bahwa aku telah basah kuyup kedinginan tersebab kau dan kenanganmu menghujaniku. Bahkan, saat mataku pun terlelapdalam petang, kau masih saja menggetarkan hati yang sempat kutata dengan rapi seperti saat aku belum mengenal siapapun termasuk kamu. Tanpa sadar, adzan subuh membangunkanku dari mimpi tentangmu. Mataku membengkak dan memnerah, tersadar bahwa baru saja aku menangis karenamu. Kehilangan tak sebercanda itu, patah hati tak semenarik nyanyian para biduan, dan aku, aku mulai tahu bahwa hati yang tercecer di masa lalu tidak akan mudah tertata kembali dalam waktu yang singkat.

Selamat Desember, semoga hati ini tetap cantik dan anggun, meski berulang kali ada saja yang mematahkan. Bahkan ketika aku pernah berpikir, kau tak sekejam itu, ternyata dugaanku salah. Sayatanmu masih berbekas di sini. Tidak pernah tertutupi, justru semakin basah dan perih. Tapi, aku bukan pendendam untuk mencoba melukai manusia lain seperti halnya dirimu. Sebuah Desember selalu mengingatkanku bahwa tiada luka yang pantas dibayar dengan luka, tapi tutupilah dengan segera agar lukamu tak terinfeksi. Itu saja. 

Catatan Edelweis, 07 Desember 2016.
Rindu kembali melumpuhkanku... 
mengusikku dengan badai kenangan yang menggempur tanpa ampun. Pergilah, jika kau memang harus pergi, jangan menghantuiku kesekian kalinya. Aku sungguh takut, tidak bisa melanjutkan hidup dengan tenang jika kau terus-menerus begini. Melayang-layang di langit-langit kamarku setiap kali mata hendak terlelap, lalu tercipta penyakit sejenis insomnia.

Sebuah catatan tentangmu tak kan kutuliskan lagi di sini, meski jemari ini selalu memaksaku untuk melakukannya. Kau tahu kan, betapa rasanya menanggung rindu itu begitu berat? Jika kau ingin menetap, menetaplah tapi jika kau hendak pergi, menepilah dari sarang pikiranku. 

Rindu itu terus berdengung tanpa jeda...
selirih suara angin malam yang selalu kunanti di saat rindu mulai bertaburan..
Rindu dan terus saja rindu...
Tanpa titik, dan koma
Tanpa pemberhentian dan kematian....

Rindu terus saja menggebu, menyerangku bertubi-tubi hingga aku sungguh tidak sanggup untuk menahan diri melepasmu. 

Rindu itu kadang datang terbawa aliran air, menyiramku dengan hawa dingin yang angkuh. 
Rindu kadang pula datang terbawa angin, mengembus, menggelitiki ujung-ujung rambut
Rindu itu kadang pula datang terbawa kicauan burung yang mengalun indah di pagi hari, 
Tapi rinduku tetap saja tak pernah sampai hingga ke akar hatimu.....

Eva Edelweis, Yogyakarta 8 November 2016
Ku bertemu sang adam di simpang hidupku
mungkin akan ada cerita cinta
namun ada saja cobaan hidup seakan aku hina
Tuhan berikanlah aku cinta
untuk temaniku dalam sepi
tangkap aku dalam terangmu biarkanlah aku punya cinta
Tuhan berikanlah aku cinta
aku juga berhak bahagia
berikanlah restu dan halalmu
Tuhan beri aku cinta.........


Mungkin untuk kalian maniak karya dari kang Abik, maka tidak akan asing dengan 
lirik lagu ost film Ketika Cinta Bertasbih 2 yang masih menggema di pikiranku, menelisik ke bagian hatiku yang paling dasar. Kadang  aku berpikir, betapa hidup ini tidak adil, Tuhan. Ketika seseorang yang pernah datang di salah satu sudut dunia kita, lalu dia pergi begitu saja, menghilang maka rasanya ini tidak adil. Kenapa kami dipertemukan? kenapa kami diperkenalkan? kenapa kami diberi perasaan sedahsyat ini, Tuhan? ribuan pertanyaan kuledakkan tanpa ampun. Saya ini manusia normal, Tuhan. Sekeras apapun berupaya menegarkan, akan ada air mata yang tumpah ruah di depanMu. Kenapa begitu teganya Kau balik sebuah cerita manis menjadi sebuah kisah yang paling mengerikan di muka bumi? semua orang tak menginginkan sebuah perpisahan, begitupun aku. (sudut pandang pertama)

Beberapa dari kawanku memilih untuk memastikan dirinya tidak menjomblo. Terkadang, aku berpikir, sebegitu sempitnyakah makna cinta menurut mereka? cinta kan ga melulu tentang kisah seorang anak adam berjenis lelaki dan perempuan dalam buaian asmara saja, tapi cinta lebih luas dari itu. Ketika ayah kita rela bekerja siang malam tanpa kenal lelah demi menafkahi keluarganya, menurutku itulah wujud cintanya, ketika ibu selalu sabar merawat kita sejak masih dalam bentuk embrio sampai segede ini, itulah wujud kecintaannya. Adakah cinta yang lebih besar dari jutaan  cinta yang kita peroleh dari cintanya keluarga kita terhadap diri kita? (sudut pandang kedua)

Ketika seseorang hanya memaknai cinta itu wujud kasih sayang antara seorang laki-laki dan perempuan, lalu ketika dia ditinggalkan mengatakan Tuhan itu tidak adil, mengecewakan dengan cinta yang seperti ini. "Aku kan juga berhak bahagia, Tuhan". Bukan cuma dia, mereka yang hanya pantas merasakan sebuah cinta. "Sehina itukah aku hingga merasakan kisah cinta yang cukup mengerikan seperti ini?" (sudut pandang pertama)

Cinta itu makhluk Tuhan yang paling indah, karenanya hidup seseorang menjadi lebih berwarna. Tanpa cinta, hidup ini mungkin layaknya hutan yang gundul. Gersang dan sama sekali tak indah dilihat. Sebagai seseorang yang pernah hidup selama kurang lebih 21 tahun 3 bulan 1 minggu, limpahan cinta dari orang sekitar luar biasa. Terutama dari keluarga. Ayah ibuku adalah 2 orang pertama yang menyatakan cintanya sedemikian tulus bahkan sejak sebelum aku berbentuk sebuah zygod hingga setua ini. Cinta dari mereka luar biasa, tak kurang suatu apa. Sebuah alasan klasik hingga saat ini aku masih sanggup untuk bertahan dengan kesingleanku adalah aku belum benar-benar menemukan cinta yang utuh seperti cinta yang mereka berikan. Pernah sih, jatuh hati tapi itu tak terlalu lama aku rasakan. Rasanya asyik, bikin hati bergejolak penuh semangat, tapi ujung-ujungnya hambar. Cinta yang pernah kurasakan tidak sedahsyat cinta orang tua terhadap aku. Entahlah yah, aku juga tidak tahu kenapa kadang orang-orang merasa begitu menyedihkan ketika dia menjomblo. well, salahkah kita menjomblo? Aku pernah berada di jalan yang cukup rumit untuk ukuran sebuah hubungan cinta yang seperti itu, tapi lagi-lagi aku katakan dengan sejujurnya aku belum menemukan cinta yang bisa membuatku benar-benar cinta dengan seutuhnya pada orang itu. Katakanlah aku ini musafir cinta pada beberapa waktu yang lalu, namun jangan salah sangka dulu, aku hanyalah gadis biasa yang jika menaruh perasaan khusus pada orang lain, tak pernah terkatakan. Aku hanya mencintainya dalam diam, dalam doa, itu saja. Tidak berani untuk menjalankan sebuah hubungan khusus seperti remaja yang lain. Jarang sekali aku patah hati hanya karena cinta semacam itu, tersebab memang belum menemukan hakikat cinta yang utuh seperti yang kuinginkan. (Sudut pandang aku).

#Catatan ngawur yang ditulis pada saat aku menemukan hujan untuk pertama kalinya di kota Apel. 30 Oktober 2016. 

Selama nafasku berhembus, hanya kamu di doaku....
selama mataku memandang, hanya kamu cinta matiku...
dengarlah dunia, rintihan hatiku yang terbalut dalam doaku....
inilah sumpahku, dengarlah dunia........
cinta kan selalu abadi, walau takdir tak pasti...
kau selalu di hati, cinta matiku....
seraya aku berdo'a merayakan cinta......
kau selalu ku jaga.....
 

       Potongan lagu yang dinyanyikan oleh Nidji sempat membuat air mata ini berguguran tak sempat kutahan. Kau tahu kenapa? Tiba-tiba aku berniat jahat untuk meninggalkanmu. Pergi ke lain hati untuk menembus rasa cemburu. Aku ketagihan untuk sakit hati, kalau perlu jauh lebih sakit dari yang kau cipta.. Aku ini sudah bertekad untuk tetap di sini, menunggu. Barangkali, kau masih punya hati untuk mengobati lukaku kembali. Tapi, percuma jika aku hanya berharap dan berjuang seorang diri. 

       Satu persatu harapan kularutkan dalam setiap sujudku, bahkan yang paling spesial hanyalah kamu. Aku  sempat berpikir, mungkin kau sudah populer atau telah jadi selebriti di kalangan para makluk langit tersebab hati dan pikiranku yang tak pernah bosan mendzikirkan namamu, menyelipkannya dalam setiap putaran tasbihku, menyerahkan namamu dalam setiap hentakan do'aku, hingga aku sekarat dengan doaku sendiri.

       Kau tak pernah tahu kan rasanya sebegitu gila aku mencinta? Sudah pernah kubilang, aku tak suka main-main apalagi menyangkut soal perasaan. Aku ini tipe orang yang totalitas melakukan apapun, tidak mau setengah-setengah. Begitupun ketika aku memilih untuk mencinta sedemikian rupa hingga nyaris lupa kegilaan macam apa yang kulakukan ini? 

        Tersebab perasaan cinta dan rindu yang selalu hadir di kepala, maka sampai detik ini aku mulai terbiasa menikmati kesendirian, mencintaimu diam-diam meski berulang kali kau gagalkan, dan bahkan aku tumbuh suburkan sebuah kenikmatan mencinta semacam ini. Tidak usah kau terlalu mengerutkan keningmu penuh tanya soal aku yang begini. Kau perlu tahu satu hal, terkadang luka itu belum tentu musibah. Yah, luka atas perasaan mencinta yang tak tersambut itu bukanlah sebah musibah bagiku. Justru karena hal inilah, aku menjadi lebih sering merindukan panggilan suara Tuhan untuk segera bergegas menghampar sejadah lalu kucurhati Dia tentangmu. Aku menjadi betah berlama-lama di setiap rumahNya hanya untuk menitipkan jejak namamu, hingga perasaan cinta yang kumiliki semakin kokoh tumbuh di dasar hatiku.

         Cinta tak membuatku lupa pada siapa diriku, yang tetap ingin memegang teguh iman di hati tanpa terkoyak oleh dosa-dosa karena mencinta tersebab perbuatan nista. Semua ada aturannya, mencintapun ada adabnya. Tidak ada kuasa bagiku untuk melanggar aturan yang ditetapkanNya hanya untuk memenuhi nafsu yang bergelora, tersebab aku masih terlalu kuat untuk berpuasa. Seberapa pekat rasa cinta, tetaplah kau selalu kupinta dengan cara yang diridlaiNya.



Catatan Edelweis, Yogyakarta 4 oktober 2016.
Berhari-hari kotaku diguyur hujan, basah membasahi seluruh isi kota ini. Sama persis sebagaimana hujan seolah ikut membasahi hatiku. Derasnya hujan dalam diriku bahkan jauh lebih deras dari hujan yang entah kapan akan mereda. Setiap kali hujan datang bertandang, menciumi tanah, tumbuhan dan kita, kenangan pun selalu hadir tanpa ampun. Kenangan tentangmu benar-benar menggenangi seluruh pikiranku. Terpusat pada dirimu saja, hingga perlahan air mata mulai berguguran satu persatu tak terkira. Sesenggukan seorang diri di tengah derasnya hujan melawan rindu yang sudah memuncak jauh sebelum hujan datang bertamu. Ah, kau ini :'(

Hujan itu romantis, setidaknya begitulah kata orang-orang yang mencinta. Derai air hujan cukup membuatku begidik, bayanganmu yang selalu muncul di hadapanku tak sanggup ku usir begitu saja. Sesosok tubuh berbadan tegap dengan bahu yang cukup keras  selalu sanggup menahan isak tangisku. Debar dadaku berasa tak terkendali saat mata kita saling beradu, tatapanmu yang mencengkeramku, lalu melembut sebagaimana lembutnya kasih sayangmu. Hingga tak sanggup bagiku untuk membohongi diriku sendiri untuk tidak mengatakan "Kau selalu mampu membuatku jatuh hati berkali-kali dan belum pernah sekalipun aku kehilangan perasaan itu". Percikan hujan ini menyadarkanku bahwa kehangatan dari sikapmu ternyata membawa kebiasaan padaku untuk tak sanggup menahan rasa dingin luar dalam terlalu lama, dan saatnya aku meneduh.

Hujan yang mengguyur kotaku benar-benar membawa genangan kenangan tentangmu. Tak sanggup aku berbohong di sini untuk menahan rindu yang semakin hari semakin bertambah, selalu bertambah tanpa pernah berkurang. Tak sanggup aku terisak seorang diri mengenang segala hal tentangmu, luruh sudah separuh hatiku yang telah kau bawa pergi. Tega! pergi begitu saja dengan bersikap dingin yang bahkan jauh lebih kaku dibandingkan batangan es balok sekalipun. Aku tak sanggup menahan perasaan benci atas sikapmu yang ini. Kau tak lagi peduli bagaimana kerasnya aku mencinta dan terlalu acuh untuk menanggapi berbagai kepiluan hati yang akhir-akhir ini menderaku.

Catatan Eva Edelweis, 01 Oktober 2016
Previous PostPostingan Lama Beranda