Bertahun-tahun sejenak aku rehat dari kegiatan journalingku. Aku mulai berkontemplasi dengan hidup yang kujalani sekarang. Kadang pingin nangis seketika, tapi kadang selucu itu hidupku untuk sejenak tertawa. 

Banyak mimpi terajut talam angan, tapi tak terealisasikan meski aku banyak berharap, banyak meminta bahkan seperti memaksa Tuhan mewujudkannya. Kadang aku lupa, bahwa tak semua yang kuinginkan harus selalu tercapai. Aku lupa bahwa Tuhanlah Yang jauh lebih tahu apa yang kubutuhkan. 

Orang bilang rumput tetangga sering terlihat lebih hijau dari kebun kita sendiri. Tapi tidak, ini bukan persoalan sesederhana itu. Aku merasa kayak sedang dipermainkan kehidupan. Aku bercita-cita begini, merencanakan yang begitu, tapi entah kenapa aku merasa kok mimpiku jatuh ke orang lain? Kok apa yang kuinginkan seperti dikasih ke orang lain? Kayak merasa, ah hidup ini ga adil Tuhan. Aku capek dibikin rumit, letih berpikir lebih keras lagi. Aku seperti manusia yang hilang harapan. Takut berusaha lagi sebab kegagalan seringkali menghampiri. Apa usahaku belum cukup? Kenapa hanya jadi penonton orang lain yang menerima segala wujud mimpi yang terangkai cantik di benakku? Ah, Beginikah beratnya ikhlas? 

Aku takut bermimpi lebih tinggi lagi. Takut kecewa lebih dalam, lebih sakit. Seseorang yang kusebut suami selalu mendekap kegelisahanku. Menguatkanku seolah hidup akan baik-baik saja hanya dengan membaca banyak tulisan motivasi. Tapi aku sadar bahwa perasaan semacam ini valid aku rasakan. Aku juga sadar bahwa tidak bisa aku biarkan rasa tidak nyaman ini terus menerus menghuni pikiranku, mengganggu setiap aktivitasku. Bahkan aku sangat sadar untuk segera pulih dan melanjutkan hidup yang pernah seberantakan ini. 

Waktu memang mengajariku banyak hal. Termasuk soal keikhlasan. Diam-diam aku mulai berdamai dengan jalan hidup yang amat kritis ini. Aku terima dengan lapang segala sesuatu yang terjadi sesuai ketentuan Tuhan. Aku tak lagi memaksa hidup harus begini harus begitu. Aku sungguh ikhlas dan pasrah diri pada segala takdir Tuhan yang digariskan padaku. Mungkin memang harus begini jalannya. Rumit, berkelok, berkerikil, berlobang, ah tapi rasanya lebih nikmat saat aku mulai sadar bahwa manusia memang hanya diberikan kesempatan berusaha semampunya, tapi hasil akhir tetap Tuhan yang putuskan dengan mutlak. Aku percaya, dibalik masa sulit ini ada banyak hal baik yang Tuhan persiapkan untukku. 

Keikhlasan memang mudah diucapkan, tapi tidak bisa kukatakan mudah secara prakteknya. But I proud of my self, akhirnya aku bisa mengatasi perasaanku sendiri perlahan tapi pasti. Semakin lama waktu bukan hanya mengajariku tentang keikhlasan namun juga pendewasaan diri. Secara spiritual, aku merasa makin disayang Tuhan. Makin dekat denganNya, dengan hal-hal baik yang tak semua orang merasakannya seperti yang aku rasakan. Barangkali bagi sebagian orang terasa lebai tapi jujur aku merasakannya begitu. 

Secara personal, aku kini tak lagi merasakan insecure berlebih melihat pencapaian orang lain, iri dengan kebahagiaan orang, bahkan lebih dari itu. Aku mulai bisa mencintai diri sendiri dengan sepenuh hati. Meski prosesnya terseok-seok. Yah kuakui dulu seringkali memaki diri sendiri sebagai orang yang bodoh, begok, ga tau apa-apa pokoknya merasa jadi manusiayang amat buruk. Sekarang, aku bisa terima kekuranganku, ketidaksempurnaanku bahkan jadi motivasi tersendiri untuk terus memperbaiki diri.

Aku jalani segala ketentuan Tuhan yang ditetapkan padaku meski hal buruk sekalipun, tanpa lagi protes atau menyanggah keputusan Tuhan terhadap hidupku. Mensyukuri banyak hal yang Tuhan karuniakan, merawat segala hal baik yang Dia kasihkan, agar semakin tumbuh subur tunas- tunas kebaikan lain setelahnya. 

Orang lain bertumbuh dimulai dari menjalani struggle nya masing-masing, begitu pun aku. Mudah-mudahan ikut mekar pada saat tepat.


                               Sumenep, 3 November 2022


 


Seseorang pernah bertanya, kenapa aku masih aktif nulis di blog pribadi? Bukankah itu membosankan, katanya.. Lalu kujawab dengan satu senyuman termanis yang pernah kupunya.
Kenapa aku menulis, karena di sinilah aku menemukan diriku. Ketika banyak sekali yang terpendam dalam pikiran tapi aku tak mampu mengatakannya, setidaknya aku masih bisa jujur ketika menulis. Lalu, apakah semua yang kau tulis itu adalah semua yang kamu alami? tanyanya lagi yang terkesan ingin tahu. Masih kuberikan senyumku di hadapanmu. Tidak, tidak semua yang aku tulis adalah sesuatu yang kualami. Kau tahu, tidak semenyek itu hidupku La.... Aku suka mengkhayalkan sesuatu dan kutulis di sini. Aku juga sering menjadi pendengar dari kawanku yang mengalami patah hati, lalu entah bagaimana hatinya tergerak menangis di pundakku.. Aku pikir diriku punya daya tarik yang luar biasa melalui pundak yang sudah keberapa kalinya selalu ada orang yang bersandar di sana dengan sesenggukan dan menceritakan kesedihannya. Aku memposisikan diri mereka, dengan tanpa sadar bahkan aku merasa lebih sedih dari mereka.

Aku menulis untuk diriku sendiri. Aku menulis untuk mentransfer sebagian depresi yang menghuni dalam kepalaku menjadi sebuah tulisan yang bisa kubaca ulang 30 tahun mendatang. Aku ingin menuliskan semua perasaanku di sini, tapi ternyata tetap saja tidak bisa. Meskipun tadi kukatakan bahwa aku bisa jujur ketika menulis, ternyata tak semudah itu.. Pasti ada sedikit perasaan was was dalam hati takut ada seseorang yang segitu keponya denganku sampai bongkar-bongkar alamat blogku ini hahahaha. Kau tahu, setiap kali aku ngepost tulisan yang berbau hal menyedihkan sering ada pesan masuk di hp menanyakan kabarku dan parahnya ada yang langsung ngejudge aku segalau itu....

Aku memang mengurangi keaktifan di media sosial, tapi aku tetap akan menulis selama aku punya waktu di sisa-sisa hidupku. Aku akan menulis sampai usiaku renta dan sudah tidak mampu lagi menulis.. Kamu tahu kenapa? Bagiku menulis itu semacam terapi diri bagaimana mengelola emosi yang selama ini aku pertahankan tetap stabil apa pun yang terjadi.

Aku juga tidak pernah menyangka, blog yang isinya begini riweuh pernah membuatku diterima di beberapa lembaga yang bergerak di bidang copy writing. Aku juga tidak tahu apa yang bikin HRD tertarik dengan port folio yang kubuat. Sayangnya takdir berkata lain sampai akhirnya aku gagal masuk di antara beberapa lembaga tersebut. Awalnya, cukup bikin aku patah hati dan mogok menulis. Tapi dasar kenyataannya aku ini memang harus menulis, karena kalau tidak, bisa membahayakan kestabilan emosiku sendiri hahahha alay... yeah, aku sempat mogok berbulan-bulan tidak lagi menulis di blog ini sebagai wujud marah sekaligus frustasi.. Alhamdulillah, waktu mengajariku banyak hal tentang bagaimana caranya ikhlas dengan apa yang Tuhan skenariokan. Aku balik lagi menulis hal tak penting di sini..semoga orang yang sempat kepo dengan blogku ini tidak mendadak pingsan baca tulisan receh beginian 

Eva Edelweis, Yogyakarta 27 April 2018